12 Oktober 2012

JOYEUX ANNIVERSAIRE MON FRÈRE


Hai, kakak! Apa kabar? Sedang apa hari ini?
Joyeux anniversaire. Selamat ulang tahun…
Oh ya! Berapa orang yang memberi ucapan selamat dari tadi pagi? Aku urutan ke berapa? Maaf telat…
Kakak, aku kangen. Kakak kangen aku juga?
Apa kakak masih ingat waktu kita masih pakai seragam putih biru? Kakak masih ingat jalan yang selalu kita lewati kalau pulang bersama, jalan kaki?
Kakak selalu berjalan dibelakangku. Alasannya supaya leluasa menjagaku. So sweet… Tapi dulu aku menganggap itu hal wajar yang dilakukan seorang kakak pada adiknya.
Sering kita berlama-lama di pinggir jalan. Menunggu bus yang dinaiki kakak lewat. Dibawah terik matahari siang yang menyengat. Tanpa kawatir dengan kulit masing-masing yang semakin hitam, terbakar. Terlalu asyik membicarakan hal-hal konyol. Membicarakan lawan jenis yang diincar, pacar, saingan sampai hukuman yang diberikan guru. Tapi kalau yang satu ini lebih sering kakak yang dihukum. Karena kakak suka aneh-aneh. Celana yang panjangnya melebihi lutut, suka membolos, berkelahi bahkan pernah mabuk. Kakak nakal ya kalau dipikir-pikir. Berbanding terbalik denganku.
Aku tidak menganggap seperti itu. Setelah kenal kakak tentunya.
Dulu, sebelum kenal kakak, aku hanya tahu kakak adalah murid dikelas sebelah. Murid yang suka membuat onar dan kasar. Bahkan ada yang bilang kakak tinggal kelas dua kali waktu di SD. Aku berharap tidak perlu mengenal kakak bahkan berpapasan pun jangan!
Tapi tiba-tiba satu hari kakak datang ke kelasku sambil bertanya pada teman-temanku. Aku mendengar kakak menyebut namaku. Kakak mencariku.
Aku hanya terdiam di bangku dengan beberapa teman, berpura-pura tidak melihat dan mendengar. Aku berharap tidak ada yang memberi tahu keberadaanku.
Waktu itu aku takut. Aku takut kakak akan memukulku. Sedangkan aku sama sekali tidak pernah berurusan dengan kakak.
Tapi yang aku dengar dari mulut kakak waktu itu bukan bentakan. Sebuah kalimat yang berisi pujian, meski aku tidak tahu itu tulus atau terpaksa setelah tahu seperti apa orang yang kakak cari.
Kakak bilang, “ Oh, kamu? Kamu pintar Matematika ya?”
Belum sempat aku menjawab, bahkan belum hilang rasa terkejutku, kakak berbalik lalu kembali ke kelas. Dan tidak pernah mencariku atau menyapaku ketika berpapasan tanpa sengaja. Kakak seolah tidak mengenalku.
Tapi sejak kakak datang ke kelasku aku mulai memperhatikan kakak, dari jauh dan sembunyi-sembunyi pastinya. Dan aku mulai mengenal kakak dari sudut pandang yang lain.
Kakak itu orang yang hangat, ramah, setia kawan, usil, sok romantis , perhatian dan penyayang. Yang terakhir ini aku tahu setelah kita akrab. Sangat mengejutkan. Dibalik sikap kasar dan pemberontak ternyata kakak adalah orang yang sangat menyayangi keluarga (ibu dan kakak perempuan). Dan aku pun jadi bagian yang kakak sayang sebagai adik perempuan. Senangnya…
Sangat mustahil kita bisa dekat. Dengan reaksi kakak sewaktu bertemu denganku pertama kali aku tidak berharap apa-apa. Cukup menjadi pengamat kakak kalau tidak ingin disebut pengagum rahasia.
Kakak selalu melindungiku. Bahkan kadang kakak rela berkelahi untuk membelaku. Padahal aku rasa aku bisa mengatasi masalahku sendiri. Itulah kakak. Bahkan ketika aku di bully teman-teman sekelasku kakak berkeras menolong. Jelas aku tidak mau. Mana mungkin aku biarkan kakak menghajar anak permpuan? Itu sangat tidak gentle. Dan aku berkeras aku tidak apa-apa meski pun aku harus selalu berada di ruang kesehatan atau perpustakaan waktu jam istirahat agar mereka tidak bisa menggangguku. Kakak pun selalu tahu dimana harus mencariku.
Aku ingat kakak pernah patah hati. Waktu itu kita kelas tiga. Kakak keras kepala meski aku sudah bilang berkali-kali kalau pacar kakak selingkuh. Malah kakak marah besar padaku dan aku tetap berkeras kalau aku benar. Aku bahkan bilang tidak akan peduli pada kakak bila kata-kataku terbukti benar. Itu adalah perdebatan kita yang paling rumit.
Lalu semuanya terjadi. Kakak terpuruk dan seperti tidak berdaya. Teman-teman memaksaku untuk bicara pada kakak. Hal yang sangat ingin aku hindari. Membicarakan masa lalu kakak dengan mantannya yang kejam. Tapi mereka memaksa. Aku harus menghibur kakak, begitu alasannya. Aku tahu kemampuan menghiburkan jauh dibawah standar. Dan aku pun tahu kalau kakak bersusah payah untuk tampak senang. Karena aku akan marah besar jika kakak meratapi mantan sialan itu.
Oh… aku pernah main ke rumah kakak. Merontokkan rambutan yang kebetulan sedang tumbuh lebat dihalaman rumah. Memasukkan dalam keranjang bambu dan memakan sepuasnya, tanpa kawatir sakit perut. Dengan siapa saja waktu itu? Kakak pun tidak keberatan memanjat sampai jauh tinggi. Karena aku dan teman-teman tidak puas dengan satu keranjang.
Waktu kelulusan. Aku tahu kita akan berpisah. Karena kita memilih sekolah yang berbeda dengan aku yang terpaksa. Aku sebenarnya ingin satu sekolah dengan kakak. Tapi karena ibuku melarang akhirnya aku masuk sekolah lain. Tapi kakak janji sering-sering datang ke sekolahku. Asyik…
Kakak menepati janji. Kita masih tetap bertemu, akrab. Saling berkunjung ke sekolah masing-masing waktu ada event sekolah. Dan kakak cukup kerepotan mengusir teman-teman kakak yang dengan senang hati merubungku. Yah… karena sekolah kakak mayoritas murid laki-laki maka aku seperti barang undian yang jadi rebutan. Haha… lucu ingat wajah kakak waktu itu. Antara panik dan tidak rela melihat aku ditarik kesana kemari.
Setelah lulus pun kakak masih menemuiku. Kadang tanpa memberi tahu tiba-tiba kakak datang. Kakak pasti hafal reaksiku setiap kakak muncul. Masih tetap sama seperti waktu kita masih berseragam putih biru. Sepertinya umurku berhenti sampai disitu khusus untuk kakak. Hehe…
Lalu tiba-tiba kakak menghilang…
Tapi tak lama kakak datang. Seingatku itu bulan Juni 2004 dan aku sedang tidak ada kuliah. Lalu kakak mengajakku pergi. Hanya menghabiskan waktu dengan bercanda dan saling mencela seperti dulu. Tapi aku senang meski kakak sedikit lebih diam.
Lalu kakak menghilang lagi…
Akhir tahun 2004. Aku bersiap-siap nonton konser Ada band dengan teman kuliahku. Dari pagi aku sudah sibuk membuat daftar rencana. Kuliah hari itu pun lewat sia-sia. Semangatku semakin meninggi waktu jam kuliah selesai. Secepatnya aku pulang ke rumah dengan temanku. Melanjutkan rencana untuk menonton konser malam harinya.
Ibu mendatangiku diteras rumah. Dan menyampaikan kabar. Kakak sudah pergi. Lama…
Aku terpaku.
Tidak mungkin. Mana bisa aku percaya.
Terakhir bertemu kakak baik-baik saja. Kakak sehat. Ini pasti bohong!
Tapi itu kenyataannya.
Kakak meninggal tidak lama setelah bertemu denganku, kecelakaan lalu lintas.
Aku tidak bisa menangis. Aku hanya terdiam. Pikiranku kacau balau.
Aku tidak akan bertemu kakak lagi. Bahkan aku tidak tahu dimana kakak dimakamkan. Tidak ada yang mau memberi tahu. Semua menutup mulut. Sewaktu kakak meninggal pun aku sengaja tidak diberi tahu. Aku marah. Sangat marah. Apa salahku? Kenapa aku tidak boleh tahu? Mereka tahu sedekat apa hubunganku dengan kakak. Tapi mereka tega melakukan ini padaku.
Maaf, kakak. Karena aku bukan adik yang baik. Aku tidak pernah menengokmu. Aku bahkan baru tahu kakak pergi setengah tahun kemudian. Aku jahat ya, kak?
Hari ini, untuk kesekian kalinya, aku merayakan sendiri hari lahir kakak.
12 Oktober 1982 – Juni 2004.
Singkat sekali hidupmu. Singkat sekali kakak menemaniku.
Tapi aku bersyukur. Tuhan berkenan menemukan kita, mendekatkan kita, menjadikan kita layaknya saudara meski tanpa hubungan darah.
Meski diakhir aku tidak disamping kakak tapi aku berusaha untuk tetap menjaga keberadaan kakak. Bagiku kakak tetap hidup. Menjadi pria ganteng, ramah, pekerja keras, sudah berkeluarga (mungkin) dan tetap memanggilku ‘dedek’. (sinan7145)


Note:
Selamat hari lahir kakak. Semoga kakak bahagia disana. Tu me manques beaucoup, mas Pulung…