Hai, kakak! Apa kabar? Sedang apa hari ini?
Joyeux anniversaire. Selamat ulang tahun…
Oh ya! Berapa orang yang memberi ucapan selamat dari tadi
pagi? Aku urutan ke berapa? Maaf telat…
Kakak, aku kangen. Kakak kangen aku juga?
Apa kakak masih ingat waktu kita masih pakai seragam putih
biru? Kakak masih ingat jalan yang selalu kita lewati kalau pulang bersama,
jalan kaki?
Kakak selalu berjalan dibelakangku. Alasannya supaya leluasa
menjagaku. So sweet… Tapi dulu aku
menganggap itu hal wajar yang dilakukan seorang kakak pada adiknya.
Sering kita berlama-lama di pinggir jalan. Menunggu bus yang
dinaiki kakak lewat. Dibawah terik matahari siang yang menyengat. Tanpa kawatir
dengan kulit masing-masing yang semakin hitam, terbakar. Terlalu asyik
membicarakan hal-hal konyol. Membicarakan lawan jenis yang diincar, pacar,
saingan sampai hukuman yang diberikan guru. Tapi kalau yang satu ini lebih
sering kakak yang dihukum. Karena kakak suka aneh-aneh. Celana yang panjangnya
melebihi lutut, suka membolos, berkelahi bahkan pernah mabuk. Kakak nakal ya
kalau dipikir-pikir. Berbanding terbalik denganku.
Aku tidak menganggap seperti itu. Setelah kenal kakak
tentunya.
Dulu, sebelum kenal kakak, aku hanya tahu kakak adalah murid
dikelas sebelah. Murid yang suka membuat onar dan kasar. Bahkan ada yang bilang
kakak tinggal kelas dua kali waktu di SD. Aku berharap tidak perlu mengenal
kakak bahkan berpapasan pun jangan!
Tapi tiba-tiba satu hari kakak datang ke kelasku sambil
bertanya pada teman-temanku. Aku mendengar kakak menyebut namaku. Kakak
mencariku.
Aku hanya terdiam di bangku dengan beberapa teman,
berpura-pura tidak melihat dan mendengar. Aku berharap tidak ada yang memberi
tahu keberadaanku.
Waktu itu aku takut. Aku takut kakak akan memukulku.
Sedangkan aku sama sekali tidak pernah berurusan dengan kakak.
Tapi yang aku dengar dari mulut kakak waktu itu bukan
bentakan. Sebuah kalimat yang berisi pujian, meski aku tidak tahu itu tulus atau
terpaksa setelah tahu seperti apa orang yang kakak cari.
Kakak bilang, “ Oh, kamu? Kamu pintar Matematika ya?”
Belum sempat aku menjawab, bahkan belum hilang rasa
terkejutku, kakak berbalik lalu kembali ke kelas. Dan tidak pernah mencariku
atau menyapaku ketika berpapasan tanpa sengaja. Kakak seolah tidak mengenalku.
Tapi sejak kakak datang ke kelasku aku mulai memperhatikan
kakak, dari jauh dan sembunyi-sembunyi pastinya. Dan aku mulai mengenal kakak
dari sudut pandang yang lain.
Kakak itu orang yang hangat, ramah, setia kawan, usil, sok
romantis , perhatian dan penyayang. Yang terakhir ini aku tahu setelah kita
akrab. Sangat mengejutkan. Dibalik sikap kasar dan pemberontak ternyata kakak
adalah orang yang sangat menyayangi keluarga (ibu dan kakak perempuan). Dan aku
pun jadi bagian yang kakak sayang sebagai adik perempuan. Senangnya…
Sangat mustahil kita bisa dekat. Dengan reaksi kakak sewaktu
bertemu denganku pertama kali aku tidak berharap apa-apa. Cukup menjadi
pengamat kakak kalau tidak ingin disebut pengagum rahasia.
Kakak selalu melindungiku. Bahkan kadang kakak rela
berkelahi untuk membelaku. Padahal aku rasa aku bisa mengatasi masalahku
sendiri. Itulah kakak. Bahkan ketika aku di bully
teman-teman sekelasku kakak berkeras menolong. Jelas aku tidak mau. Mana
mungkin aku biarkan kakak menghajar anak permpuan? Itu sangat tidak gentle. Dan aku berkeras aku tidak
apa-apa meski pun aku harus selalu berada di ruang kesehatan atau perpustakaan
waktu jam istirahat agar mereka tidak bisa menggangguku. Kakak pun selalu tahu
dimana harus mencariku.
Aku ingat kakak pernah patah hati. Waktu itu kita kelas
tiga. Kakak keras kepala meski aku sudah bilang berkali-kali kalau pacar kakak
selingkuh. Malah kakak marah besar padaku dan aku tetap berkeras kalau aku
benar. Aku bahkan bilang tidak akan peduli pada kakak bila kata-kataku terbukti
benar. Itu adalah perdebatan kita yang paling rumit.
Lalu semuanya terjadi. Kakak terpuruk dan seperti tidak
berdaya. Teman-teman memaksaku untuk bicara pada kakak. Hal yang sangat ingin
aku hindari. Membicarakan masa lalu kakak dengan mantannya yang kejam. Tapi
mereka memaksa. Aku harus menghibur kakak, begitu alasannya. Aku tahu kemampuan
menghiburkan jauh dibawah standar. Dan aku pun tahu kalau kakak bersusah payah
untuk tampak senang. Karena aku akan marah besar jika kakak meratapi mantan
sialan itu.
Oh… aku pernah main ke rumah kakak. Merontokkan rambutan
yang kebetulan sedang tumbuh lebat dihalaman rumah. Memasukkan dalam keranjang
bambu dan memakan sepuasnya, tanpa kawatir sakit perut. Dengan siapa saja waktu
itu? Kakak pun tidak keberatan memanjat sampai jauh tinggi. Karena aku dan
teman-teman tidak puas dengan satu keranjang.
Waktu kelulusan. Aku tahu kita akan berpisah. Karena kita
memilih sekolah yang berbeda dengan aku yang terpaksa. Aku sebenarnya ingin
satu sekolah dengan kakak. Tapi karena ibuku melarang akhirnya aku masuk
sekolah lain. Tapi kakak janji sering-sering datang ke sekolahku. Asyik…
Kakak menepati janji. Kita masih tetap bertemu, akrab.
Saling berkunjung ke sekolah masing-masing waktu ada event sekolah. Dan kakak
cukup kerepotan mengusir teman-teman kakak yang dengan senang hati merubungku.
Yah… karena sekolah kakak mayoritas murid laki-laki maka aku seperti barang
undian yang jadi rebutan. Haha… lucu ingat wajah kakak waktu itu. Antara panik
dan tidak rela melihat aku ditarik kesana kemari.
Setelah lulus pun kakak masih menemuiku. Kadang tanpa
memberi tahu tiba-tiba kakak datang. Kakak pasti hafal reaksiku setiap kakak
muncul. Masih tetap sama seperti waktu kita masih berseragam putih biru.
Sepertinya umurku berhenti sampai disitu khusus untuk kakak. Hehe…
Lalu tiba-tiba kakak menghilang…
Tapi tak lama kakak datang. Seingatku itu bulan Juni 2004
dan aku sedang tidak ada kuliah. Lalu kakak mengajakku pergi. Hanya menghabiskan
waktu dengan bercanda dan saling mencela seperti dulu. Tapi aku senang meski
kakak sedikit lebih diam.
Lalu kakak menghilang lagi…
Akhir tahun 2004. Aku bersiap-siap nonton konser Ada band
dengan teman kuliahku. Dari pagi aku sudah sibuk membuat daftar rencana. Kuliah
hari itu pun lewat sia-sia. Semangatku semakin meninggi waktu jam kuliah
selesai. Secepatnya aku pulang ke rumah dengan temanku. Melanjutkan rencana
untuk menonton konser malam harinya.
Ibu mendatangiku diteras rumah. Dan menyampaikan kabar.
Kakak sudah pergi. Lama…
Aku terpaku.
Tidak mungkin. Mana bisa aku percaya.
Terakhir bertemu kakak baik-baik saja. Kakak sehat. Ini
pasti bohong!
Tapi itu kenyataannya.
Kakak meninggal tidak lama setelah bertemu denganku,
kecelakaan lalu lintas.
Aku tidak bisa menangis. Aku hanya terdiam. Pikiranku kacau
balau.
Aku tidak akan bertemu kakak lagi. Bahkan aku tidak tahu
dimana kakak dimakamkan. Tidak ada yang mau memberi tahu. Semua menutup mulut. Sewaktu
kakak meninggal pun aku sengaja tidak diberi tahu. Aku marah. Sangat marah. Apa
salahku? Kenapa aku tidak boleh tahu? Mereka tahu sedekat apa hubunganku dengan
kakak. Tapi mereka tega melakukan ini padaku.
Maaf, kakak. Karena aku bukan adik yang baik. Aku tidak
pernah menengokmu. Aku bahkan baru tahu kakak pergi setengah tahun kemudian.
Aku jahat ya, kak?
Hari ini, untuk kesekian kalinya, aku merayakan sendiri hari
lahir kakak.
12 Oktober 1982 – Juni 2004.
Singkat sekali hidupmu. Singkat sekali kakak menemaniku.
Tapi aku bersyukur. Tuhan berkenan menemukan kita,
mendekatkan kita, menjadikan kita layaknya saudara meski tanpa hubungan darah.
Meski diakhir aku tidak disamping kakak tapi aku berusaha
untuk tetap menjaga keberadaan kakak. Bagiku kakak tetap hidup. Menjadi pria
ganteng, ramah, pekerja keras, sudah berkeluarga (mungkin) dan tetap
memanggilku ‘dedek’. (sinan7145)
Note:
Selamat hari lahir kakak. Semoga kakak bahagia disana. Tu me
manques beaucoup, mas Pulung…