7 Mei 2013

BETWEEN YOU AND ME


Satu hari kita dipertemukan. Tidak pernah menyangka kalau itu awal segalanya. Penampilanmu yang membuat perempuan terlena dan penampakanku yang seenaknya. Menyatu dalam harmoni yang tidak pernah bisa dimengerti.
Awalnya…
Aku melihatmu sebagai sosok angkuh dan berandalan. Aku jarang berinteraksi denganmu. Bahkan sebisa mungkin aku jauh dari jangkauanmu. Meski para perempuan berebut perhatianmu. Aku tetap diam dan tidak terusik untuk ikut mendekatimu. Bagiku, waktu itu, kamu tidak beda dengan jagoan kelas teri. Hanya berani berlaga di kandang sendiri.
Dan kamu. Entah apa yang ada dikepalamu tentang aku. Sikap dinginmu selalu berhasil menyembunyikan isi hatimu. Tidak pernah ada yang tahu, bahkan pacar-pacarmu. Dan saat matamu mengarah padaku, semua tak percaya. Tidak pernah ada yang menduga. Kedekatan kita mungkin mimpi buruk bagi yang lain. Dan mungkin… drama terpanjang yang akan selalu dikenang.
Tahun pertama…
Kamu yang memulai. Tanpa aku sadari. Satu ucapanmu waktu itu mengubah hidupku. Aku menjadi perempuan istimewa. Semua menatapku iri. Semua merasa terluka. Ya, perempuan-perempuan itu. Aku sendiri merasa biasa saja. Karena pinanganmu waktu itu kamu memintaku menjadi adikmu, bukan kekasihmu.
Tapi mungkin kamu sudah sadar sejak awal. Jika memintaku menjadi pacarmu, aku pasti menolak dan semakin tak terjangkau. Cukup pandai juga caramu agar aku tidak lepas dari genggaman. Setelah aku mengiyakan, cerita kita pun dimulai.  Dan aku menjadi perempuan yang tak tersentuh pria manapun. Kecuali kamu dan beberapa teman terdekatmu. Itu pun harus atas ijinmu atau permintaanmu.
Aku? Tidak terlalu ambil pusing. Aku terus bersikap, bertindak dan bereaksi seperti biasa. Meski waktu pertama kali aku merasa tidak nyaman. Tapi untuk selanjutnya aku mulai terbiasa. Dipandang penuh iri, disapa dengan basa basi, didekati berbagai macam perempuan yang menggilaimu dan digunakan sebagai alat untuk mendekatimu. Semua aku anggap angin lalu. Karena bagimu yang terpenting aku tidak terluka.
Tahun kedua…
Kedekatan kita masih menjadi topik hangat. Banyak yang tidak menyangka akan selama itu. Semua mengira aku sama seperti yang lain. Hanya akan bersamamu sementara, lalu kamu buang begitu tidak ingin. Tapi nyatanya aku masih ada diduniamu. Bahkan teman dekatmu pun mulai memandangku seperti saat memandangmu. Sedikit merasa terlalu tinggi. Karena kamu tak ubahnya kepala geng. Lalu dimata mereka aku ini apa? Wakil kepala geng? Atau pendamping ketuanya?
Mereka, teman-temanmu, pun selalu melindungiku. Jika aku berada di tempat yang jauh dari radarmu, selalu ada salah satu temanmu didekatku. Tapi kadang aku tidak menyadari hal itu. Sangat rapi dan tersembunyi caramu untuk menjagaku. Aku sendiri pun sampai tidak tahu. Justru orang lain yang menyadarinya. Apa kamu tahu? Semakin banyak yang iri denganku karena perhatianmu itu.
Mungkin mereka sering bertanya-tanya apa yang ada pada diriku sampai kamu berbuat diluar kebiasaanmu. Bagi mereka kamu selalu manis padaku. Menurut mereka aku lebih dari sekedar istimewa. Aku terlalu berpengaruh dalam hidupmu.
Tak jarang ada yang ingin mengacaukan kedekatan kita. Reaksimu? Marah luar biasa. Bahkan jika orang itu pacarmu sendiri, kamu memilih putus dari pada kehilanganku. Apa artiku bagimu? Terlalu luar biasa jika aku hanya dianggap adik olehmu. Mereka semua mengutukiku. Mereka mulai terbagi menjadi dua kubu. Satu memusuhiku, lainnya semakin memuja keawetan kita.
Aku sendiri tidak tahu kenapa bisa sejauh ini. Aku tidak pernah memasang jarak sampai akhirnya aku terlalu melekat denganmu. Mungkin aku sudah terperangkap. Tapi bisa juga tidak. Karena aku tidak merasa seperti itu. Hari-hariku tetap berjalan seperti biasa. Tidak ada hal yang membuatku tertekan. Dan meski pun kita ibarat dua sisi mata uang, masing-masing dari kita tetap memiliki area tersendiri. Ada hal-hal yang tidak berhak untuk saling ikut campur. Salah satunya pacar.
Sayangnya, aku tidak seberuntung dirimu. Meski pun dekat denganku, ada saja perempuan yang mau jadi pacarmu. Dan aku? Dengan kedekatan kita yang ambigu membuat aku kesusahan. Tidak ada laki-laki yang berani mendekatiku. Kecuali mereka rela babak belur karena ulahmu.
Bahkan salah satu teman dekatmu pun begitu. Aku tahu dari caranya menatapku. Aku tahu dari caranya menjagaku. Aku tahu, ada aku dihatinya. Dan aku tahu, dia juga ada dihatiku. Tapi kami simpan semua rapat-rapat. Biar saja semua tampak biasa. Karena aku tidak ingin kamu menghajarnya. Dan dia tidak ingin dibebas tugaskan menjagaku.
Tahun ketiga…
Mungkin ini tahun terberat. Hal yang tidak terduga terjadi. Aku dan kamu, semua sudah tahu itu. Dan mereka mulai bisa menerima. Tapi ada yang tidak kita sadari. Dan itu saat kamu mendapatkan perempuan itu.
Dia pintar, cantik, ramah, murah senyum. Dan pastinya dua tahun terakhir dia yang mengendap dalam hatimu. Aku tahu itu. Kamu sangat mencintainya. Bahkan kamu rela menunggu dia siap jadi kekasihmu. Meski disela-selanya kamu pacaran dengan perempuan lain.
Pada tahun ketiga. Entah kenapa dia merasa siap menjadi kekasihmu. Tapi itu kenyataanya. Kalian menjadi pasangan yang banyak menuai pujian. Kalian dianggap pasangan sempurna. Hanya saja penilaian baik itu tidak berlangsung lama. Sedikit demi sedikit mereka mulai berbicara buruk.
Mereka kecewa padamu. Mereka mengatakannya padaku. Dan aku hanya bisa tersenyum selain mengangkat bahu. Aku tidak mau tahu. Aku tidak ingin memikirkan hubunganmu dengannya. Karena dia adalah perempuan yang kamu harapkan selama ini. Dan sekarang, setelah dia bersedia menjadi pacarmu, aku harus tahu diri. Aku tidak akan mengganggumu.
Memang selama ini aku tidak pernah mengganggu hubunganmu dengan pacar-pacarmu sebelumnya. Justru pacar-pacarmu yang tidak tahan dengan konsekuensi yang ada. Tapi kali ini lain. Aku benar-benar tidak ingin mengganggu.Dengan teratur aku mundur, pelan-pelan. Lalu jarak itu tercipta.
Walau pun aku merasa aneh. Walau merasa ada yang tidak benar. Aku terus menjauhimu. Aku akui kadang aku sangat kehilangan. Kadang aku pun kesepian dan menangis, dalam diam. Orang yang selalu menjadikanku nomor satu sudah tidak ada. Sedangkan mereka masih menilai sama. Aku tetap segalanya bagimu, tidak terganti. Dan selalu memberiku semangat untuk kembali padamu. Aku sendiri tidak bisa. Aku tidak ingin mengganggu. Biar saja kamu dengan pacar cantikmu. Aku bisa tanpa perlindunganmu. Aku bisa tanpa kamu.
Tapi rupanya lain bagimu. Diam-diam, seperti yang sudah-sudah, kamu melindungiku. Setiap hari ada temanmu disekitarku. Tugas mereka selain menjagaku juga menjadi sumber informasimu. Karena aku menjauh dan menjaga jarak diluar dugaanmu. Mungkin awalnya kamu tidak menyangka aku akan pergi. Mungkin menurutmu kamu bisa berlaku seperti dulu. Tapi aku tidak bisa. Cukup menyakitkan jika aku selalu dijadikan alasan untuk masalah orang lain. Dan kali ini perempuan yang sangat kamu inginkan ada dalam hidupmu. Sudah sepantasnya aku tidak terlalu dekat dalam hidupmu.
Lalu hal mengejutkan terjadi. Mendekati menit-menit akhir kamu muncul. Dalam waktu dan tempat tak terduga. Aku pun tidak pernah menyangka.
Kamu didepanku. Dan aku hanya diam, menunduk ketakutan. Rasanya sudah lama tidak merasakan kehadiranmu didekatku. Kini aku merasakan lagi auramu yang menarikku kuat. Sampai aku takut setengah mati. Sudah sejauh ini aku lari. Tapi kamu tetap bisa menyusulku. Kamu berhasil membuatku menyerah. Aku benci ini! Kenapa aku lemah sekali?
Waktu kamu memaksaku mengangkat wajah, rasanya mengerikan. Aku tidak tahu apa yang akan kamu lakukan. Bisa saja kamu memukulku seperti kebiasaanmu. Aku benar-benar takut. Nyaris aku menangis. Tapi saat mata kita bertemu bukan kemarahan yang aku lihat.
Ada kehangatan. Ada keramahan. Ada ketenangan. Ada rindu yang nyaris meluap. Dan aku hanya mematung, menatap matamu semakin dalam. Lalu perlahan semua mengabur.
Sebelum air mataku tumpah, kamu menghambur kearahku. Memelukku, erat. Dan akhirnya aku pun menangis ketika kamu berujar lirih, “ Maaf, sudah melepasmu. Sekarang semua sudah selesai. Aku pulang.”
Antara aku dan kamu. Mungkin hanya waktu.
Sinan7145
PS :
Joyeux Anniversaire, Mas Catur ‘Xelix’ Fitriyanto. Kenangan itu terlalu berharga untuk menjadi debu. Aku akan membuatnya lebih dari berharga. Selalu ada tempat untuk pulang.

6 Mei 2013

#recueil de poèmes 01: Pernyataan


Kamu tahu?
Banyak rintangan di depan
Kamu tahu?
Hubungan kita tak semudah membalik telapak tangan
Kamu tahu?
Halangan itu tak mudah diruntuhkan
Kamu tahu?
Kadang aku ragu menjalani

Pernahkah kamu meragukannya juga?
Pernahkah kamu merasa ciut nyali dan ingin mundur?
Pernahkan kamu berasa putus asa?
Pernahkah kamu terbebani dengan hubungan ini?

Jika memelukmu dapat melunturkan raguku
Aku akan memelukmu seeratnya
Jika menggenggam tanganmu menghancurkan dinding pemisah
Aku takkan melepaskan jalinan jemari kita
Jika menatapmu memberiku kekuatan seribu kuda
Aku takkan memalingkan mataku dari wajahmu
Jika menciummu dapat menghilangkan rintangan
Aku akan menciummu hingga bibirku lemas

Beranikah kamu melewati semuanya denganku?
Bisakah kamu membuatku selalu tersenyum?
Sanggupkah kamu melangkah bersamaku?
Mampukah kamu menjadi pembimbingku?

Aku ingin memberikan senyumku untukmu
Berbagi suka duka bersamamu
Aku ingin mendampingimu
Dan menua bersamamu…

sinan7145

1 Mei 2013

PADA HATI


Jika ucapan candamu membuat orang lain sakit hati
Itu berarti kamu telah melukai perasaan seseorang
Jangan karena bagimu biasa maka orang lain juga akan sama
Masing-masing dari kita punya tolok ukur yang berbeda
Hargai, hormati, jangan pandang sebelah mata

Mudah bagi kita mengucapkan kata maaf
Tapi bagaimana hati orang yang disakiti?
Luka dihati memang tidak terlihat mata
Tapi rasa sakit dan bekas lukanya bisa abadi
Dan banyak yang tidak menyadari hal itu

Belajarlah untuk lebih peka pada hati
Belajarlah untuk menjaga lisan
Memang tidak ada manusia sempurna
Tapi bukan berarti tidak dapat diupayakan

Menyenangkan jika bisa menciptakan senyum
Membanggakan jika berhasil membuat tawa
Tapi bukan dengan menyudutkan orang lain
Bukan dengan menoreh luka batin seseorang

Kita hidup bukan untuk saling mencela
Kita ada bukan untuk menyakiti sesama
Kita hidup untuk tugas-tugas mulia
Kita ada untuk mengindahkan dunia

Bertanyalah pada hatimu sebelum berkata
Berkacalah pada nuranimu sebelum bicara
Jangan sampai menimbulkan sesal atau dendam
Karena ucapan itu seumpama doa atau bahkan karma

By Sinan7145