Satu hari kita dipertemukan. Tidak pernah menyangka kalau
itu awal segalanya. Penampilanmu yang membuat perempuan terlena dan
penampakanku yang seenaknya. Menyatu dalam harmoni yang tidak pernah bisa
dimengerti.
Awalnya…
Aku melihatmu sebagai sosok angkuh dan berandalan. Aku
jarang berinteraksi denganmu. Bahkan sebisa mungkin aku jauh dari jangkauanmu.
Meski para perempuan berebut perhatianmu. Aku tetap diam dan tidak terusik
untuk ikut mendekatimu. Bagiku, waktu itu, kamu tidak beda dengan jagoan kelas
teri. Hanya berani berlaga di kandang sendiri.
Dan kamu. Entah apa yang ada dikepalamu tentang aku.
Sikap dinginmu selalu berhasil menyembunyikan isi hatimu. Tidak pernah ada yang
tahu, bahkan pacar-pacarmu. Dan saat matamu mengarah padaku, semua tak percaya.
Tidak pernah ada yang menduga. Kedekatan kita mungkin mimpi buruk bagi yang
lain. Dan mungkin… drama terpanjang yang akan selalu dikenang.
Tahun pertama…
Kamu yang memulai. Tanpa aku sadari. Satu ucapanmu waktu
itu mengubah hidupku. Aku menjadi perempuan istimewa. Semua menatapku iri.
Semua merasa terluka. Ya, perempuan-perempuan itu. Aku sendiri merasa biasa
saja. Karena pinanganmu waktu itu kamu memintaku menjadi adikmu, bukan
kekasihmu.
Tapi mungkin kamu sudah sadar sejak awal. Jika memintaku
menjadi pacarmu, aku pasti menolak dan semakin tak terjangkau. Cukup pandai
juga caramu agar aku tidak lepas dari genggaman. Setelah aku mengiyakan, cerita
kita pun dimulai. Dan aku menjadi
perempuan yang tak tersentuh pria manapun. Kecuali kamu dan beberapa teman
terdekatmu. Itu pun harus atas ijinmu atau permintaanmu.
Aku? Tidak terlalu ambil pusing. Aku terus bersikap,
bertindak dan bereaksi seperti biasa. Meski waktu pertama kali aku merasa tidak
nyaman. Tapi untuk selanjutnya aku mulai terbiasa. Dipandang penuh iri, disapa
dengan basa basi, didekati berbagai macam perempuan yang menggilaimu dan
digunakan sebagai alat untuk mendekatimu. Semua aku anggap angin lalu. Karena
bagimu yang terpenting aku tidak terluka.
Tahun kedua…
Kedekatan kita masih menjadi topik hangat. Banyak yang
tidak menyangka akan selama itu. Semua mengira aku sama seperti yang lain. Hanya
akan bersamamu sementara, lalu kamu buang begitu tidak ingin. Tapi nyatanya aku
masih ada diduniamu. Bahkan teman dekatmu pun mulai memandangku seperti saat
memandangmu. Sedikit merasa terlalu tinggi. Karena kamu tak ubahnya kepala
geng. Lalu dimata mereka aku ini apa? Wakil kepala geng? Atau pendamping
ketuanya?
Mereka, teman-temanmu, pun selalu melindungiku. Jika aku
berada di tempat yang jauh dari radarmu, selalu ada salah satu temanmu
didekatku. Tapi kadang aku tidak menyadari hal itu. Sangat rapi dan tersembunyi
caramu untuk menjagaku. Aku sendiri pun sampai tidak tahu. Justru orang lain
yang menyadarinya. Apa kamu tahu? Semakin banyak yang iri denganku karena
perhatianmu itu.
Mungkin mereka sering bertanya-tanya apa yang ada pada
diriku sampai kamu berbuat diluar kebiasaanmu. Bagi mereka kamu selalu manis
padaku. Menurut mereka aku lebih dari sekedar istimewa. Aku terlalu berpengaruh
dalam hidupmu.
Tak jarang ada yang ingin mengacaukan kedekatan kita.
Reaksimu? Marah luar biasa. Bahkan jika orang itu pacarmu sendiri, kamu memilih
putus dari pada kehilanganku. Apa artiku bagimu? Terlalu luar biasa jika aku
hanya dianggap adik olehmu. Mereka semua mengutukiku. Mereka mulai terbagi
menjadi dua kubu. Satu memusuhiku, lainnya semakin memuja keawetan kita.
Aku sendiri tidak tahu kenapa bisa sejauh ini. Aku tidak
pernah memasang jarak sampai akhirnya aku terlalu melekat denganmu. Mungkin aku
sudah terperangkap. Tapi bisa juga tidak. Karena aku tidak merasa seperti itu.
Hari-hariku tetap berjalan seperti biasa. Tidak ada hal yang membuatku
tertekan. Dan meski pun kita ibarat dua sisi mata uang, masing-masing dari kita
tetap memiliki area tersendiri. Ada hal-hal yang tidak berhak untuk saling ikut
campur. Salah satunya pacar.
Sayangnya, aku tidak seberuntung dirimu. Meski pun dekat
denganku, ada saja perempuan yang mau jadi pacarmu. Dan aku? Dengan kedekatan
kita yang ambigu membuat aku kesusahan. Tidak ada laki-laki yang berani
mendekatiku. Kecuali mereka rela babak belur karena ulahmu.
Bahkan salah satu teman dekatmu pun begitu. Aku tahu dari
caranya menatapku. Aku tahu dari caranya menjagaku. Aku tahu, ada aku
dihatinya. Dan aku tahu, dia juga ada dihatiku. Tapi kami simpan semua
rapat-rapat. Biar saja semua tampak biasa. Karena aku tidak ingin kamu menghajarnya.
Dan dia tidak ingin dibebas tugaskan menjagaku.
Tahun ketiga…
Mungkin ini tahun terberat. Hal yang tidak terduga
terjadi. Aku dan kamu, semua sudah tahu itu. Dan mereka mulai bisa menerima.
Tapi ada yang tidak kita sadari. Dan itu saat kamu mendapatkan perempuan itu.
Dia pintar, cantik, ramah, murah senyum. Dan pastinya dua
tahun terakhir dia yang mengendap dalam hatimu. Aku tahu itu. Kamu sangat
mencintainya. Bahkan kamu rela menunggu dia siap jadi kekasihmu. Meski
disela-selanya kamu pacaran dengan perempuan lain.
Pada tahun ketiga. Entah kenapa dia merasa siap menjadi
kekasihmu. Tapi itu kenyataanya. Kalian menjadi pasangan yang banyak menuai
pujian. Kalian dianggap pasangan sempurna. Hanya saja penilaian baik itu tidak
berlangsung lama. Sedikit demi sedikit mereka mulai berbicara buruk.
Mereka kecewa padamu. Mereka mengatakannya padaku. Dan
aku hanya bisa tersenyum selain mengangkat bahu. Aku tidak mau tahu. Aku tidak
ingin memikirkan hubunganmu dengannya. Karena dia adalah perempuan yang kamu
harapkan selama ini. Dan sekarang, setelah dia bersedia menjadi pacarmu, aku
harus tahu diri. Aku tidak akan mengganggumu.
Memang selama ini aku tidak pernah mengganggu hubunganmu
dengan pacar-pacarmu sebelumnya. Justru pacar-pacarmu yang tidak tahan dengan
konsekuensi yang ada. Tapi kali ini lain. Aku benar-benar tidak ingin
mengganggu.Dengan teratur aku mundur, pelan-pelan. Lalu jarak itu tercipta.
Walau pun aku merasa aneh. Walau merasa ada yang tidak
benar. Aku terus menjauhimu. Aku akui kadang aku sangat kehilangan. Kadang aku
pun kesepian dan menangis, dalam diam. Orang yang selalu menjadikanku nomor
satu sudah tidak ada. Sedangkan mereka masih menilai sama. Aku tetap segalanya
bagimu, tidak terganti. Dan selalu memberiku semangat untuk kembali padamu. Aku
sendiri tidak bisa. Aku tidak ingin mengganggu. Biar saja kamu dengan pacar
cantikmu. Aku bisa tanpa perlindunganmu. Aku bisa tanpa kamu.
Tapi rupanya lain bagimu. Diam-diam, seperti yang
sudah-sudah, kamu melindungiku. Setiap hari ada temanmu disekitarku. Tugas
mereka selain menjagaku juga menjadi sumber informasimu. Karena aku menjauh dan
menjaga jarak diluar dugaanmu. Mungkin awalnya kamu tidak menyangka aku akan
pergi. Mungkin menurutmu kamu bisa berlaku seperti dulu. Tapi aku tidak bisa.
Cukup menyakitkan jika aku selalu dijadikan alasan untuk masalah orang lain. Dan
kali ini perempuan yang sangat kamu inginkan ada dalam hidupmu. Sudah sepantasnya
aku tidak terlalu dekat dalam hidupmu.
Lalu hal mengejutkan terjadi. Mendekati menit-menit akhir
kamu muncul. Dalam waktu dan tempat tak terduga. Aku pun tidak pernah
menyangka.
Kamu didepanku. Dan aku hanya diam, menunduk ketakutan. Rasanya
sudah lama tidak merasakan kehadiranmu didekatku. Kini aku merasakan lagi
auramu yang menarikku kuat. Sampai aku takut setengah mati. Sudah sejauh ini
aku lari. Tapi kamu tetap bisa menyusulku. Kamu berhasil membuatku menyerah. Aku
benci ini! Kenapa aku lemah sekali?
Waktu kamu memaksaku mengangkat wajah, rasanya
mengerikan. Aku tidak tahu apa yang akan kamu lakukan. Bisa saja kamu memukulku
seperti kebiasaanmu. Aku benar-benar takut. Nyaris aku menangis. Tapi saat mata
kita bertemu bukan kemarahan yang aku lihat.
Ada kehangatan. Ada keramahan. Ada ketenangan. Ada rindu
yang nyaris meluap. Dan aku hanya mematung, menatap matamu semakin dalam. Lalu perlahan
semua mengabur.
Sebelum air mataku tumpah, kamu menghambur kearahku. Memelukku,
erat. Dan akhirnya aku pun menangis ketika kamu berujar lirih, “ Maaf, sudah
melepasmu. Sekarang semua sudah selesai. Aku pulang.”
Antara aku dan kamu. Mungkin hanya waktu.
Sinan7145
PS :
Joyeux Anniversaire, Mas Catur ‘Xelix’ Fitriyanto. Kenangan
itu terlalu berharga untuk menjadi debu. Aku akan membuatnya lebih dari
berharga. Selalu ada tempat untuk pulang.