Cuaca sedang cerah-cerahnya ketika aku masuk ke cafe Clover.
Pemilik café tersenyum melihatku, aku mengangguk padanya.
Seperti biasa aku bergegas ke meja disudut ruangan. Agak
sedikit berbeda penataannya dengan meja yang lain. Dengan sekelilingnya dihiasi
tanaman menjalar, beberapa bunga bergelantungan
dengan indah dan kursi kayu enam buah, meja bulat ini tampak seperti
meja makan yang nyaman.
Aku dan teman-temanku adalah pelanggan tetap di café ini.
Tapi hari ini aku datang sendirian. Seorang pelayan menghampiriku.
“ Selamat siang,” sapanya, “ Sudah siap memesan?”
“ Seperti biasa,” sahutku sambil tersenyum.
Pelayan itu tersenyum. “ Mohon tunggu sebentar,” lanjutnya
lalu berbalik, pergi.
Aku menyandarkan bahu. Lalu mengedarkan pandangan keluar.
Jalanan tampak berdebu dan memantulkan hawa panas. Beberapa orang melintas dengan
langkah bergegas. Seolah ingin menghindari sengatan matahari secepatnya.
Pesananku datang.
“ Selamat menikmati,” kata pelayan itu sebelum pergi.
Aku tersenyum, “ Terima kasih.”
Segelas jus stroberi dan sepotong chesse cake ada
dihadapanku. Tapi aku belum berminat menikmatinya. Siang ini aku hanya ingin
menghabiskan waktu di café. Memandang jalanan yang tidak pernah sepi dari lalu
lalang.
Pintu café terbuka. Aku melirik sekilas. Dari ujung mataku
aku melihat Gavin masuk lalu berjalan mendekat. Pelayan yang barusan melayaniku
dengan sigap mendatangi meja kami. Setelah Gavin memesan pelayan itu pergi.
“ Belum lama, kan?” tanya Gavin padaku.
Aku menoleh kearahnya lalu menggeleng.
“ Ada apa, sih?” lanjutnya kemudian.
“ Memang nggak boleh ketemu sama kamu?” kataku pura-pura
sewot.
Gavin meringis, “ Biasanya cukup lewat telepon.”
Aku menatapnya lekat, “ Ada yang ingin aku bicarakan.”
“ Apa?” serta merta Gavin mencondongkan wajahnya kearahku.
“ Antusias banget, sih!” makiku.
“ Hahaha…”
Tawanya pecah. Mau tidak mau aku pun ikut tertawa.
Gavin itu salah satu teman SMP yang masih tahan berteman
denganku. Dia selalu membuat orang lain tertawa. Meski kadang mengesalkan.
Pelayan datang mengantar pesanan Gavin. Secangkir kopi. Cream.
Terakhir gula kubus.
Aku menatap Gavin dan meja silih berganti. Sewaktu Gavin
memesan aku memang tidak terlalu memperhatikan. Aku sedang tenggelam dalam alam
khayalanku.
“ Itu… dipakai semua?” tanyaku pelan setelah pelayan pergi.
Dengan cueknya Gavin menuang cream dan beberapa gula kubus
sekaligus. Dahiku berkerut.
“ Kamu baik-baik aja, kan, Vin?”
“ Khawatir sama aku?” Gavin balas bertanya.
“ Cih!”
“ Haha… Berhasil. Yes!”
Plok!
“ Aduh!”
“ Serius kamu,” kataku kesal.
Gavin mengelus kepalanya yang barusan aku ketuk dengan buku.
Paling tidak dia bisa tenang sekarang. Kemudian dia meminum kopinya. Masih dalam
diam. Aku menjulurkan lidah. Apa enaknya campuran kopi, cream dan gula sebanyak
itu?
Dengan penuh tanda tanya aku menatapnya tanpa berkedip. Memastikan
ekspresi apa yang tergambar diwajahnya. Datar.
Aku membuang pandang ke jendela. Dongkol. Dan dia terus saja
menikmati kopinya tanpa mempedulikanku.
“ Mau ini?” aku menyodorkan chesse cake yang ada didepanku.
Seleraku menguap entah kemana setelah melihat kopi super
manisnya itu. Aku hanya menyecap sedikit jus stroberi kesukaanku.
“ Cari tempat lain, yuk!” ajakku.
“ Hah?” Gavin keheranan, “ Bukannya menurutmu disini tempat
paling nyaman.”
Bagaimana mau nyaman kalau perutku rasanya campur aduk,
rutukku dalam hati.
“ Pindah aja, deh,” paksaku.
“ Oke. Mau kemana?” Gavin cepat-cepat menghabiskan kuenya.
“ Jangan ke rumahku!” sergahku.
“ Terus?”
Gavin tahu selain café Clover tempat ternyaman bagiku adalah
rumah. Jika tidak salah satu dari tempat itu, mau kemana lagi?
“ Rumahku?” tawar Gavin.
“ Ogah!!!” tolakku cepat.
“ Terus mau kemana?”
“ Sarang tikusmu.”
“ Hah?!”
Aku beranjak sebelum Gavin mengajukan protes.
Pemilik café tersenyum sewaktu aku menuju ke kasir, “ Tumben
cepat.”
Aku tersenyum getir, “ Ada urusan, Pak. Oh ya, chesse
cakenya dibayar Gavin, ya, Pak.”
“ Loh! Kok aku yang bayar. Yang pesan tadi siapa?” Gavin
ternyata sudah menyusulku.
“ Yang makan siapa?” aku balik bertanya.
“ Loh?!”
Setelah membayar sesuai harga segelas jus stroberi aku
bergegas keluar. Entah seperti apa raut wajah Gavin yang berada dibelakangku. Aku
hanya sempat mendengar dia memakiku sebelum pintu café tertutup
***