Mungkin cintamu bukan untuk dimiliki
Cintamu itu untuk dirasakan
Tapi... bukankah begitu sejatinya cinta?
Hanya untuk dirasakan
Karena dengan merasakan cinta
Sejatinya berarti telah memiliki
Lebih utuh dari siapa pun
Dan tidak pernah takut kamu tinggalkan
Selama masih bisa merasakan
Cinta yang kamu limpahkan
Meski kamu berikan tanpa kata
Tapi selalu diterima utuh, tidak kurang
Meski tak pernah berpegang tangan
Meski tak pernah beradu pandang
Tapi kita telah terikat kuat
Kita terikat dengan benang merah
Dan benang merah itu adalah... CINTA
Sinan7145
This story is not just about me. There are others. I know very well, which is close to me, which gives color to my life. Read it. And you will dive with me.
21 Maret 2013
15 Maret 2013
RINDU JEJAK
Dia tidak tampak bukan berarti dia hilang dari hidup kita
Dia ada (selalu) bahkan dalam lelap tidur kita
Hanya kadang dia tidak menyapa
Tapi cukup lah baginya meski sekedar menatap
Melihat kita jatuh dalam buaian malam
Lalu...
Mencium kening kita perlahan ketika dia hendak pulang
Sebagai ungkapan perasaannya
Sebagai tanda kehadirannya
Meski saat terbangun kita tidak merasakan sosoknya
Hanya Tuhan dan dia yang tau
Dan kita tetap merindu
sinan7145
Dia ada (selalu) bahkan dalam lelap tidur kita
Hanya kadang dia tidak menyapa
Tapi cukup lah baginya meski sekedar menatap
Melihat kita jatuh dalam buaian malam
Lalu...
Mencium kening kita perlahan ketika dia hendak pulang
Sebagai ungkapan perasaannya
Sebagai tanda kehadirannya
Meski saat terbangun kita tidak merasakan sosoknya
Hanya Tuhan dan dia yang tau
Dan kita tetap merindu
sinan7145
7 Maret 2013
MENYIKAPI LUKA
Detak jantungku terasa tidak stabil. Kedua tanganku
mendingin. Kepalaku pun berdenyut-denyut tak karuan. Aku tahu ada yang salah
dengan diriku.
Apakah aku akan meledak?
Layar notebook masih berwarna putih. Bersih. Otakku berasa
kosong. Tidak ada ide untuk ku tuliskan. Dan aku hanya menatapnya dalam diam. Entah
kenapa warna putih ini lebih menarik untuk ku pandang.
***
Anakku…
Sejak pulang beberapa hari yang lalu dia tak seperti biasa. Aku
tahu ada yang tidak beres. Meski dia tertawa seperti biasa. Beraktifitas seperti
yang sudah-sudah. Tetap tidak bisa menutupi perubahan itu. Aku tahu karena aku
ibunya.
Dia selalu tampak wajar. Dia tidak pernah berlebihan
menampakkan diri. Dia selalu menahan diri untuk menunjukkan perasaan yang
sebenarnya. Bahkan denganku, ibunya. Dia, anakku…
***
Sudah tiga hari aku berada dirumah. Bertemu ayah, ibu dan
saudara-saudaraku. Tapi yang ku rasakan tetap sama. Masih terasa seperti
sebelumnya. Membuat aku gelisah setengah mati. Dan aku rasa ibuku menyadari.
Sejak pulang aku selalu berusaha tampak wajar. Aku bersikap
seperti biasa. Tapi mungkin naluri sebagai orang tua yang membuat ibuku sedikit
berbeda waktu menatapku. Aku hanya melempar senyum berharap itu bisa
menenangkan perasaannya. Aku tidak ingin ibu kawatir.
Bagiku ini bukan hal yang harus dibagi dengan siapa pun. Aku
tidak sanggup jika ada yang tahu apa yang aku rasakan saat ini. Aku ingin
merasakan ini sendiri, meski pun sakit luar biasa. Meski kadang air mataku
memaksa keluar. Tapi aku masih bisa ‘memaksanya’ masuk lagi.
Berpura-pura sibuk adalah caraku menghindari tatapan ibu. Menjawab
rasa penasarannya dengan tipuan mata yang ternyata tidak berhasil mengelabui
nalurinya. Tapi aku selalu bersikap wajar dan selalu tertawa seperti biasa. Antusias
mengobrol dengan adikku, sampai berdebat panas. Itu semua aku lakukan untuk
menutupi luka dihatiku.
Entah sampai kapan perih ini bersarang. Entah sampai kapan
kekawatiran ibuku hilang. Entah sampai kapan bayangannya terus datang. Aku
tidak akan bilang seperti apa rasanya ketika luka tercipta. Aku tidak akan
menunjukkan. Biar saja aku merasakan ini. Karena luka ini pasti akan hilang. Walau
perihnya menyayat ketika luka itu tergores lagi.
Tapi ibu, aku berharap doa dan restumu menyertaiku. Semoga sakit
ini berubah rasa menjadi hal yang aku harapkan. Dan dari orang yang sama, meski
awalnya dia memberiku luka.
***
Air mataku mendesak keluar. Sekuat tenaga aku tahan. Melihat
wajahnya bukan membuatku senang. Tapi justru membuatku hilang akal.
Wajahnya yang selama ini tidak pernah hilang dari anganku. Matanya
yang tajam menatapku. Caranya mengajakku bicara. Tawanya yang membuat hariku
bagai dihiasi mentari pagi. Semua tentangnya berenang dalam kolam otakku.
Tapi masihkah itu berarti ketika aku sadar semua itu bukan
milikku? Bagiku dia sempurna. Sosok yang aku cari sampai menghabiskan
berlembar-lembar kalender. Aku ‘bertapa’ sekian lama dan akhirnya aku bertemu
dengannya. Haruskah ini berakhir dengan air mata?
***
Aku berencana pulang. Mungkin aku menghindarinya. Tidak! Aku
memang menjauhinya. Karena hanya air mata yang akan berhamburan ketika
melihatnya. Sekuat apa pun aku menahan pasti tembok bajaku akan runtuh dan
luluh lantak.
Sekarang yang aku butuhkan adalah alasan. Aku harus punya alasan
yang tepat mengapa aku tiba-tiba pulang. Mengambil cuti dadakan memang ciri khasku.
Tapi menghabiskan liburan dengan diam dirumah bukanlah kebiasaanku.
Aku menghela nafas, berusaha menenangkan diri. Setelah merasa
siap aku beranjak dari ruang tunggu. Menuju kereta api yang akan mengantarku. Pulang… (sinan7145)
Langganan:
Komentar (Atom)