7 Maret 2013

MENYIKAPI LUKA


Detak jantungku terasa tidak stabil. Kedua tanganku mendingin. Kepalaku pun berdenyut-denyut tak karuan. Aku tahu ada yang salah dengan diriku.
Apakah aku akan meledak?
Layar notebook masih berwarna putih. Bersih. Otakku berasa kosong. Tidak ada ide untuk ku tuliskan. Dan aku hanya menatapnya dalam diam. Entah kenapa warna putih ini lebih menarik untuk ku pandang.
***
Anakku…
Sejak pulang beberapa hari yang lalu dia tak seperti biasa. Aku tahu ada yang tidak beres. Meski dia tertawa seperti biasa. Beraktifitas seperti yang sudah-sudah. Tetap tidak bisa menutupi perubahan itu. Aku tahu karena aku ibunya.
Dia selalu tampak wajar. Dia tidak pernah berlebihan menampakkan diri. Dia selalu menahan diri untuk menunjukkan perasaan yang sebenarnya. Bahkan denganku, ibunya. Dia, anakku…
***
Sudah tiga hari aku berada dirumah. Bertemu ayah, ibu dan saudara-saudaraku. Tapi yang ku rasakan tetap sama. Masih terasa seperti sebelumnya. Membuat aku gelisah setengah mati. Dan aku rasa ibuku menyadari.
Sejak pulang aku selalu berusaha tampak wajar. Aku bersikap seperti biasa. Tapi mungkin naluri sebagai orang tua yang membuat ibuku sedikit berbeda waktu menatapku. Aku hanya melempar senyum berharap itu bisa menenangkan perasaannya. Aku tidak ingin ibu kawatir.
Bagiku ini bukan hal yang harus dibagi dengan siapa pun. Aku tidak sanggup jika ada yang tahu apa yang aku rasakan saat ini. Aku ingin merasakan ini sendiri, meski pun sakit luar biasa. Meski kadang air mataku memaksa keluar. Tapi aku masih bisa ‘memaksanya’ masuk lagi.
Berpura-pura sibuk adalah caraku menghindari tatapan ibu. Menjawab rasa penasarannya dengan tipuan mata yang ternyata tidak berhasil mengelabui nalurinya. Tapi aku selalu bersikap wajar dan selalu tertawa seperti biasa. Antusias mengobrol dengan adikku, sampai berdebat panas. Itu semua aku lakukan untuk menutupi luka dihatiku.
Entah sampai kapan perih ini bersarang. Entah sampai kapan kekawatiran ibuku hilang. Entah sampai kapan bayangannya terus datang. Aku tidak akan bilang seperti apa rasanya ketika luka tercipta. Aku tidak akan menunjukkan. Biar saja aku merasakan ini. Karena luka ini pasti akan hilang. Walau perihnya menyayat ketika luka itu tergores lagi.
Tapi ibu, aku berharap doa dan restumu menyertaiku. Semoga sakit ini berubah rasa menjadi hal yang aku harapkan. Dan dari orang yang sama, meski awalnya dia memberiku luka.
***
Air mataku mendesak keluar. Sekuat tenaga aku tahan. Melihat wajahnya bukan membuatku senang. Tapi justru membuatku hilang akal.
Wajahnya yang selama ini tidak pernah hilang dari anganku. Matanya yang tajam menatapku. Caranya mengajakku bicara. Tawanya yang membuat hariku bagai dihiasi mentari pagi. Semua tentangnya berenang dalam kolam otakku.
Tapi masihkah itu berarti ketika aku sadar semua itu bukan milikku? Bagiku dia sempurna. Sosok yang aku cari sampai menghabiskan berlembar-lembar kalender. Aku ‘bertapa’ sekian lama dan akhirnya aku bertemu dengannya. Haruskah ini berakhir dengan air mata?
***
Aku berencana pulang. Mungkin aku menghindarinya. Tidak! Aku memang menjauhinya. Karena hanya air mata yang akan berhamburan ketika melihatnya. Sekuat apa pun aku menahan pasti tembok bajaku akan runtuh dan luluh lantak.
Sekarang yang aku butuhkan adalah alasan. Aku harus punya alasan yang tepat mengapa aku tiba-tiba pulang. Mengambil cuti dadakan memang ciri khasku. Tapi menghabiskan liburan dengan diam dirumah bukanlah kebiasaanku.
Aku menghela nafas, berusaha menenangkan diri. Setelah merasa siap aku beranjak dari ruang tunggu. Menuju kereta api yang akan mengantarku. Pulang… (sinan7145)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar