26 Desember 2013

Tic Toc SPLASH!!!

Gavin masih menatap heran padaku. Aku berusaha bersikap sewajar mungkin.
“ Motorku nggak kamu apa-apain, kan?” tanyanya curiga.
Aku melotot, “ Enggak, lah!”
“ Terus? Kenapa kamu mendadak jadi aneh?”
“ Kenapa kamu mendadak bawel, sih?” balasku sengit.
Gavin menatapku.
“ Oke! Kalau masih bisa marah kayak barusan berarti kamu waras,” katanya kemudian.
Sialan!
Gavin berbalik masuk membiarkan pintu terbuka untukku. Aku mengikutinya. Ruangan itu sudah lebih bersih dari sebelumnya. Lalu mataku menatap gundukan besar di salah satu sudut.
Aku menghela nafas.
Ternyata barang-barang yang berserakan kemarin hanya dipindah ke pojok ruangan lalu ditutup dengan kain seadanya. Pantas cepat, batinku.
“ Sudah siap?” tanya Gavin.
Aku mengerutkan kening.
“ Woi!”
Aku melonjak.
“ Mikir apa, sih?” tanyanya, “ Jadi nggak?”
“ Jadi!” sahutku cepat.
“ Ya, udah. Masuk!” kata Gavin seraya membuka mesin waktunya.
“ Kok kosong?” tanyaku heran.
“ Kamu berharap ada apanya?”
“ Ada kursinya gitu.”
“ Iya! Sekalian kasih meja sama makanan,” sindir Gavin, “ Kalau perlu kasur sama toilet sekalian.”
“ Ya bukan kayak gitu, Vin. Masak aku berdiri?”
“ Berdiri sebentar. Nggak usah rewel,” ejek Gavin, “ Nanti juga langsung pindah tempat.”
“ Beneran?” tanyaku.
“ Katanya minta dicoba.”
“ Ada efek samping nggak?”
“ Ada.”
“ Apa?”
“ Jadi nggak, sih?” Gavin jengkel.
“ Itu efek sampingnya bahaya nggak?” tanyaku panik.
“ Nanti juga tahu,” sahut Gavin, “ Udah, masuk. Buruan!”
“ Aku bisa balik enggak?”
“ Bisa. Rewel banget, sih, belum apa-apa. Cepetan!”
Gavin mendorongku ke dalam mesin waktu. Aku berusaha berkelit. Tapi tenaganya ternyata lebih besar dari yang ku duga. Gavin menutup pintunya tepat ketika aku hendak menerjang keluar. Lalu semuanya gelap.
Beberapa detik kemudian aku merasa seperti diguncang-guncang. Lalu dilempar kesana kemari. Pelan-pelan tubuhku melayang. Aku berusaha mencari pegangan meski aku tahu tidak ada yang bisa dipegang dalam kotak sempit itu. Kakiku menendang-nendang ke segala arah, berusaha tetap merasakan lantai di bawahku. Tidak terasa apa-apa. Justru aku seperti terurai berwarna-warni dan mulai melayang-layang tak jelas. Melewati kabut panjang yang berdengung. Berputar-putar. Semakin lama semakin cepat. Semuanya kabur.
Aku menjerit tapi suaraku sama sekali tidak keluar. Apa yang Gavin lakukan padaku? Apa dia tahu jika akan seperti ini? Aku benar-benar panik sekarang.
Tubuhku mulai memadat ketika kewarasanku ada diambang batas. Pelan-pelan aku mulai merasakan kakiku menapak. Nafasku terdengar memburu. Tidak bisa disangkal dan bagiku ini tidak memalukan. Siapa pun pasti akan ketakutan setengah mati jika disulap menjadi debu warna warni.
Seiring nafasku yang mulai teratur, aku mulai melihat cahaya yang semakin lama semakin terang.
“ Gavin!” hardikku.
Tidak ada siapa-siapa.
Lalu aku sadar. Aku berada di tempat lain. Bukan sarang tikus Gavin.
Terdengar kicau burung bersahutan. Semilir angin. Gemericik air. Basah. Di bawah.
Hah?! Sontak aku melihat ke bawah.
“ Shit!”
Kakiku terendam sampai mata kaki. Sneakers oren yang ku pakai tampak mencolok diantara lumpur dan sampah. Lalu aku melihat sekeliling.
Aku berdiri di selokan kecil.
“ GAVIN!!!”

***

19 Desember 2013

Tic Toc SPLASH!!!

2

Pagi harinya…
Aku berjalan bolak balik di halaman sempit itu. Menunggu Gavin dengan tak sabar. Kenapa dia bangun terlambat, sih? Bukannya aku sudah memasang alarm di ponselnya supaya dia bangun lebih pagi?
Aku menendang kerikil sambil menggerutu. Sampai dimana profesor sinting itu sekarang? Sudah lebih dari jam 9, waktu yang dijanjikan. Biasanya aku tidak akan menunggu kalau orang yang punya janji denganku datang terlambat. Dan itu pun berlaku untuk kencan. Ups! Itu kan hal yang jarang aku lakukan.
Tapi kali ini aku sangat membutuhkan bantuan Gavin. Mau tidak mau, suka tidak suka, meski dongkol luar biasa, aku harus menunggu. Ya. HARUS!
Mungkin Gavin akan besar kepala jika dia tahu berhasil membuatku mau menunggu. Dan itu… sudah lebih dari setengah jam yang lalu.
Gavin brengsek! Makiku dalam hati.
Terdengat suara berisik mendekat. Aku mengerutkan kening. Apa-apaan ini? Seperti suara knalpot bodol. Tapi orang waras macam apa yang mau menggunakan kendaraan seberisik itu? Orang gila pun aku rasa akan berpikir dua kali. Bunyinya benar-benar menyiksa telinga. Merusak suasana saja. Oh, aku lupa! Suasana hatiku sudah rusak nyaris satu jam yang lalu.
Mataku melotot ketika melihat sebuah kendaraan buruk rupa lengkap dengan pengendara berhelm rapat berhenti di depan sarang tikus Gavin. Detik berikutnya mungkin bola mataku sudah nyaris keluar waktu aku tahu makhluk berhelm rapat itu...
“ GAVIN!” jeritku.
“ Yo!” sahutnya sembari mengangkat tangannya.
“ Matiin. Berisik!” aku masih menjerit-jerit menyaingi suara knalpotnya yang luar biasa itu.
Gavin mematikan mesin motornya lalu dengan santai mendatangiku. Sepertinya dia tidak terpengaruh sama sekali dengan dahiku yang berkerut lima tingkat.
“ Ini jam berapa?” semburku begitu dia ada didepanku.
“ Jam 10,” sahutnya kalem.
“ Kemarin janjian buat jam berapa?”
“ Jam 9.”
“ Kenapa telat?!” aku gemas.
“ Kan tadi udah bilang telat bangun. Duh! Kamu tadi makan apa, sih, jadi pelupa.”
Aku memukul bahunya dengan tas selempangku.
“ Nyebelin!”
“ Sakit, woi!”
“ Biarin! Biar kamu tahu rasa. Itu akibatnya kalau bikin aku nunggu.”
“ Haduh… Siapa yang minta ditunggu? Kalau kelamaan ditinggal juga nggak apa-apa, Sas. Kok mendadak jadi sungkan gitu sama aku.”
Meteran pengukur kesabaranku jebol sudah. Tanpa basa basi aku mulai memukulinya sesukaku. Bukan minta maaf karena merasa bersalah malah menggoda. Gavin memang tidak peduli situasi.
“ Ampun, Sas… Kamu cewek apa gorilla, sih?”
Aku menendang tulang keringnya.
“ Bercanda lagi masuk rumah sakit beneran kamu!” ancamku.
Gavin pura-pura cemberut. Aku mengacungkan tinjuku. Buru-buru dia memasang wajah standar. Gaya konyolnya sejak dulu.
“ Masuk!” kataku.
“ Itu rumahku, Sas,” protesnya.
“ Masa bodoh!”
“ Udah dong, Sas, jangan ngambek lagi,” rengeknya.
“ Masalah?”
“ Bikin nggak enak aja.”
“ Makanya jangan telat!” bentakku.
“ Kan sama aja ujungnya. Bakal masuk ke sarang tikus.”
“ Waktu itu nggak berharga ya buat kamu,” kataku dingin
Gavin terdiam. Sepertinya dia melihat perubahan di wajahku ketika aku mengatakan itu. Buru-buru dia beranjak ke sarang tikus. Membuka kuncinya lalu masuk ke dalam. Aku mengikutinya tanpa banyak bicara.
Ruangan itu masih sama seperti kemarin. Berantakan.
Aku menatap Gavin. Kesal. Gavin menelan ludah. Bersiap dengan seranganku berikutnya. Tapi aku diam saja. Lalu dia mulai membersihkan ruangan tanpa banyak bicara. Aku? Lebih memilih keluar. Biar saja. Anggap itu hukumannya karena telat datang.
Di luar, mataku menatap kendaraan yang dibawa Gavin. Lebih mirip rongsokan yang mengeluarkan bunyi dari pada motor atau mobil. Eh, tadi Gavin pakai helm. Berarti menurut dia benda ini masuk kategori motor. Aku mengerutkan kening.
Lalu aku mendekat. Mencoba memastikan apa yang ku lihat.
Tapi dengan jarak setengah meter pun di mataku kendaraan Gavin ini tetap tidak bisa disebut kendaraan. Dari mana dia mendapat ide untuk membuat benda seaneh ini? Aku menggeleng-gelengkan kepala.
“ Sas!”
Aku mendongak. Gavin berdiri di ambang pintu dengan kemoceng di tangan kiri dan sapu di tangan kanan. Aku nyaris terbahak melihatnya mirip ibu rumah tangga kelebihan hormone testosteron.
“ Ngapain kamu?” tanyaku, “ Lagi nyamar jadi dewa rumah tangga?”
“ Bantuin, kek, malah ngeluyur.”
“ Aku bantu buang rongsokan ini, ya!” seruku sembari menunjuk motor Gavin.
Kontan wajahnya berubah lalu buru-buru menghampiriku. Sambil membawa sapu dan kemoceng.
“ Geser satu inci aja mesin waktuku nggak jadi hidup!” geramnya.
Wow! Sejak kapan Gavin pintar mengancam?
Aku mencibir, “ Ini lebih mirip sampah dari pada motor, Vin.”
“ Aku suka kok,” sahut Gavin, “ Itu bikinanku juga.”
Aku melongo.
Gavin berbalik, mengabaikan tatapan tak percayaku.
Perlu beberapa detik setelahnya bagiku untuk bisa mengatupkan rahang. Apa Gavin memang sejenis makhluk aneh? Nerd, cupu apa lah itu.
Dia punya cukup uang untuk membeli kendaraan bermotor yang layak pakai. Mungkin kah dia terlalu pelit? Atau… Otaknya terlalu disayangkan untuk menganggur sehingga dia menciptakan benda-benda aneh? Di dalam sarang tikus itu ada beberapa benda aneh hasil rekayasa barang bekas yang dilakukan Gavin. Lalu mesin waktu itu.
Aku berjingkat. Seperti kena cubit. Lemari itu bagaimana? Apa akan aman-aman saja jika ku gunakan? Bisakah berfungsi? Apa aku akan baik-baik saja? Mendadak seluruh badanku sedingin es, jantungku berdebar keras, aku mulai panik. Kenapa sekarang aku ragu-ragu? Kenapa aku merasa takut?
“Sas!”
Aku melonjak, kaget.
Gavin menatapku heran dari ambang pintu.
“ Udah beres. Masuk sini!” serunya kemudian.

Aku menelan ludah. Lalu dengan langkah kaku aku mendekatinya.