Gavin masih menatap heran padaku. Aku berusaha bersikap
sewajar mungkin.
“ Motorku nggak kamu apa-apain, kan?” tanyanya curiga.
Aku melotot, “ Enggak, lah!”
“ Terus? Kenapa kamu mendadak jadi aneh?”
“ Kenapa kamu mendadak bawel, sih?” balasku sengit.
Gavin menatapku.
“ Oke! Kalau masih bisa marah kayak barusan berarti kamu
waras,” katanya kemudian.
Sialan!
Gavin berbalik masuk membiarkan pintu terbuka untukku. Aku
mengikutinya. Ruangan itu sudah lebih bersih dari sebelumnya. Lalu mataku
menatap gundukan besar di salah satu sudut.
Aku menghela nafas.
Ternyata barang-barang yang berserakan kemarin hanya
dipindah ke pojok ruangan lalu ditutup dengan kain seadanya. Pantas cepat,
batinku.
“ Sudah siap?” tanya Gavin.
Aku mengerutkan kening.
“ Woi!”
Aku melonjak.
“ Mikir apa, sih?” tanyanya, “ Jadi nggak?”
“ Jadi!” sahutku cepat.
“ Ya, udah. Masuk!” kata Gavin seraya membuka mesin waktunya.
“ Kok kosong?” tanyaku heran.
“ Kamu berharap ada apanya?”
“ Ada kursinya gitu.”
“ Iya! Sekalian kasih meja sama makanan,” sindir Gavin, “
Kalau perlu kasur sama toilet sekalian.”
“ Ya bukan kayak gitu, Vin. Masak aku berdiri?”
“ Berdiri sebentar. Nggak usah rewel,” ejek Gavin, “ Nanti
juga langsung pindah tempat.”
“ Beneran?” tanyaku.
“ Katanya minta dicoba.”
“ Ada efek samping nggak?”
“ Ada.”
“ Apa?”
“ Jadi nggak, sih?” Gavin jengkel.
“ Itu efek sampingnya bahaya nggak?” tanyaku panik.
“ Nanti juga tahu,” sahut Gavin, “ Udah, masuk. Buruan!”
“ Aku bisa balik enggak?”
“ Bisa. Rewel banget, sih, belum apa-apa. Cepetan!”
Gavin mendorongku ke dalam mesin waktu. Aku berusaha
berkelit. Tapi tenaganya ternyata lebih besar dari yang ku duga. Gavin menutup pintunya
tepat ketika aku hendak menerjang keluar. Lalu semuanya gelap.
Beberapa detik kemudian aku merasa seperti
diguncang-guncang. Lalu dilempar kesana kemari. Pelan-pelan tubuhku melayang.
Aku berusaha mencari pegangan meski aku tahu tidak ada yang bisa dipegang dalam
kotak sempit itu. Kakiku menendang-nendang ke segala arah, berusaha tetap
merasakan lantai di bawahku. Tidak terasa apa-apa. Justru aku seperti
terurai berwarna-warni dan mulai melayang-layang tak jelas. Melewati kabut
panjang yang berdengung. Berputar-putar. Semakin lama semakin cepat. Semuanya
kabur.
Aku menjerit tapi suaraku sama sekali tidak keluar. Apa yang
Gavin lakukan padaku? Apa dia tahu jika akan seperti ini? Aku benar-benar panik
sekarang.
Tubuhku mulai memadat ketika kewarasanku ada diambang batas.
Pelan-pelan aku mulai merasakan kakiku menapak. Nafasku terdengar memburu.
Tidak bisa disangkal dan bagiku ini tidak memalukan. Siapa pun pasti akan
ketakutan setengah mati jika disulap menjadi debu warna warni.
Seiring nafasku yang mulai teratur, aku mulai melihat cahaya
yang semakin lama semakin terang.
“ Gavin!” hardikku.
Tidak ada siapa-siapa.
Lalu aku sadar. Aku berada di tempat lain. Bukan sarang
tikus Gavin.
Terdengar kicau burung bersahutan. Semilir angin. Gemericik
air. Basah. Di bawah.
Hah?! Sontak aku melihat ke bawah.
“ Shit!”
Kakiku terendam sampai mata kaki. Sneakers oren yang ku
pakai tampak mencolok diantara lumpur dan sampah. Lalu aku melihat sekeliling.
Aku berdiri di selokan kecil.
“ GAVIN!!!”
***