2
Pagi harinya…
Aku berjalan bolak balik di halaman sempit itu. Menunggu
Gavin dengan tak sabar. Kenapa dia bangun terlambat, sih? Bukannya aku sudah
memasang alarm di ponselnya supaya dia bangun lebih pagi?
Aku menendang kerikil sambil menggerutu. Sampai dimana profesor
sinting itu sekarang? Sudah lebih dari jam 9, waktu yang dijanjikan. Biasanya
aku tidak akan menunggu kalau orang yang punya janji denganku datang terlambat.
Dan itu pun berlaku untuk kencan. Ups! Itu kan hal yang jarang aku lakukan.
Tapi kali ini aku sangat membutuhkan bantuan Gavin. Mau
tidak mau, suka tidak suka, meski dongkol luar biasa, aku harus menunggu. Ya.
HARUS!
Mungkin Gavin akan besar kepala jika dia tahu berhasil
membuatku mau menunggu. Dan itu… sudah lebih dari setengah jam yang lalu.
Gavin brengsek! Makiku dalam hati.
Terdengat suara berisik mendekat. Aku mengerutkan kening.
Apa-apaan ini? Seperti suara knalpot bodol. Tapi orang waras macam apa yang mau
menggunakan kendaraan seberisik itu? Orang gila pun aku rasa akan berpikir dua
kali. Bunyinya benar-benar menyiksa telinga. Merusak suasana saja. Oh, aku
lupa! Suasana hatiku sudah rusak nyaris satu jam yang lalu.
Mataku melotot ketika melihat sebuah kendaraan buruk rupa lengkap
dengan pengendara berhelm rapat berhenti di depan sarang tikus Gavin. Detik
berikutnya mungkin bola mataku sudah nyaris keluar waktu aku tahu makhluk
berhelm rapat itu...
“ GAVIN!” jeritku.
“ Yo!” sahutnya sembari mengangkat tangannya.
“ Matiin. Berisik!” aku masih menjerit-jerit menyaingi suara
knalpotnya yang luar biasa itu.
Gavin mematikan mesin motornya lalu dengan santai
mendatangiku. Sepertinya dia tidak terpengaruh sama sekali dengan dahiku yang
berkerut lima tingkat.
“ Ini jam berapa?” semburku begitu dia ada didepanku.
“ Jam 10,” sahutnya kalem.
“ Kemarin janjian buat jam berapa?”
“ Jam 9.”
“ Kenapa telat?!” aku gemas.
“ Kan tadi udah bilang telat bangun. Duh! Kamu tadi makan
apa, sih, jadi pelupa.”
Aku memukul bahunya dengan tas selempangku.
“ Nyebelin!”
“ Sakit, woi!”
“ Biarin! Biar kamu tahu rasa. Itu akibatnya kalau bikin aku
nunggu.”
“ Haduh… Siapa yang minta ditunggu? Kalau kelamaan ditinggal
juga nggak apa-apa, Sas. Kok mendadak jadi sungkan gitu sama aku.”
Meteran pengukur kesabaranku jebol sudah. Tanpa basa basi
aku mulai memukulinya sesukaku. Bukan minta maaf karena merasa bersalah malah
menggoda. Gavin memang tidak peduli situasi.
“ Ampun, Sas… Kamu cewek apa gorilla, sih?”
Aku menendang tulang keringnya.
“ Bercanda lagi masuk rumah sakit beneran kamu!” ancamku.
Gavin pura-pura cemberut. Aku mengacungkan tinjuku.
Buru-buru dia memasang wajah standar. Gaya konyolnya sejak dulu.
“ Masuk!” kataku.
“ Itu rumahku, Sas,” protesnya.
“ Masa bodoh!”
“ Udah dong, Sas, jangan ngambek lagi,” rengeknya.
“ Masalah?”
“ Bikin nggak enak aja.”
“ Makanya jangan telat!” bentakku.
“ Kan sama aja ujungnya. Bakal masuk ke sarang tikus.”
“ Waktu itu nggak berharga ya buat kamu,” kataku dingin
Gavin terdiam. Sepertinya dia melihat perubahan di wajahku
ketika aku mengatakan itu. Buru-buru dia beranjak ke sarang tikus. Membuka
kuncinya lalu masuk ke dalam. Aku mengikutinya tanpa banyak bicara.
Ruangan itu masih sama seperti kemarin. Berantakan.
Aku menatap Gavin. Kesal. Gavin menelan ludah. Bersiap
dengan seranganku berikutnya. Tapi aku diam saja. Lalu dia mulai membersihkan
ruangan tanpa banyak bicara. Aku? Lebih memilih keluar. Biar saja. Anggap itu
hukumannya karena telat datang.
Di luar, mataku menatap kendaraan yang dibawa Gavin. Lebih
mirip rongsokan yang mengeluarkan bunyi dari pada motor atau mobil. Eh, tadi
Gavin pakai helm. Berarti menurut dia benda ini masuk kategori motor. Aku
mengerutkan kening.
Lalu aku mendekat. Mencoba memastikan apa yang ku lihat.
Tapi dengan jarak setengah meter pun di mataku kendaraan
Gavin ini tetap tidak bisa disebut kendaraan. Dari mana dia mendapat ide untuk
membuat benda seaneh ini? Aku menggeleng-gelengkan kepala.
“ Sas!”
Aku mendongak. Gavin berdiri di ambang pintu dengan kemoceng
di tangan kiri dan sapu di tangan kanan. Aku nyaris terbahak melihatnya mirip
ibu rumah tangga kelebihan hormone testosteron.
“ Ngapain kamu?” tanyaku, “ Lagi nyamar jadi dewa rumah
tangga?”
“ Bantuin, kek, malah ngeluyur.”
“ Aku bantu buang rongsokan ini, ya!” seruku sembari
menunjuk motor Gavin.
Kontan wajahnya berubah lalu buru-buru menghampiriku. Sambil
membawa sapu dan kemoceng.
“ Geser satu inci aja mesin waktuku nggak jadi hidup!” geramnya.
Wow! Sejak kapan Gavin pintar mengancam?
Aku mencibir, “ Ini lebih mirip sampah dari pada motor, Vin.”
“ Aku suka kok,” sahut Gavin, “ Itu bikinanku juga.”
Aku melongo.
Gavin berbalik, mengabaikan tatapan tak percayaku.
Perlu beberapa detik setelahnya bagiku untuk bisa
mengatupkan rahang. Apa Gavin memang sejenis makhluk aneh? Nerd, cupu apa lah itu.
Dia punya cukup uang untuk membeli kendaraan bermotor yang
layak pakai. Mungkin kah dia terlalu pelit? Atau… Otaknya terlalu disayangkan
untuk menganggur sehingga dia menciptakan benda-benda aneh? Di dalam sarang
tikus itu ada beberapa benda aneh hasil rekayasa barang bekas yang dilakukan
Gavin. Lalu mesin waktu itu.
Aku berjingkat. Seperti kena cubit. Lemari itu bagaimana? Apa
akan aman-aman saja jika ku gunakan? Bisakah berfungsi? Apa aku akan baik-baik
saja? Mendadak seluruh badanku sedingin es, jantungku berdebar keras, aku mulai
panik. Kenapa sekarang aku ragu-ragu? Kenapa aku merasa takut?
“Sas!”
Aku melonjak, kaget.
Gavin menatapku heran dari ambang pintu.
“ Udah beres. Masuk sini!” serunya kemudian.
Aku menelan ludah. Lalu dengan langkah kaku aku
mendekatinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar