19 Desember 2013

Tic Toc SPLASH!!!

2

Pagi harinya…
Aku berjalan bolak balik di halaman sempit itu. Menunggu Gavin dengan tak sabar. Kenapa dia bangun terlambat, sih? Bukannya aku sudah memasang alarm di ponselnya supaya dia bangun lebih pagi?
Aku menendang kerikil sambil menggerutu. Sampai dimana profesor sinting itu sekarang? Sudah lebih dari jam 9, waktu yang dijanjikan. Biasanya aku tidak akan menunggu kalau orang yang punya janji denganku datang terlambat. Dan itu pun berlaku untuk kencan. Ups! Itu kan hal yang jarang aku lakukan.
Tapi kali ini aku sangat membutuhkan bantuan Gavin. Mau tidak mau, suka tidak suka, meski dongkol luar biasa, aku harus menunggu. Ya. HARUS!
Mungkin Gavin akan besar kepala jika dia tahu berhasil membuatku mau menunggu. Dan itu… sudah lebih dari setengah jam yang lalu.
Gavin brengsek! Makiku dalam hati.
Terdengat suara berisik mendekat. Aku mengerutkan kening. Apa-apaan ini? Seperti suara knalpot bodol. Tapi orang waras macam apa yang mau menggunakan kendaraan seberisik itu? Orang gila pun aku rasa akan berpikir dua kali. Bunyinya benar-benar menyiksa telinga. Merusak suasana saja. Oh, aku lupa! Suasana hatiku sudah rusak nyaris satu jam yang lalu.
Mataku melotot ketika melihat sebuah kendaraan buruk rupa lengkap dengan pengendara berhelm rapat berhenti di depan sarang tikus Gavin. Detik berikutnya mungkin bola mataku sudah nyaris keluar waktu aku tahu makhluk berhelm rapat itu...
“ GAVIN!” jeritku.
“ Yo!” sahutnya sembari mengangkat tangannya.
“ Matiin. Berisik!” aku masih menjerit-jerit menyaingi suara knalpotnya yang luar biasa itu.
Gavin mematikan mesin motornya lalu dengan santai mendatangiku. Sepertinya dia tidak terpengaruh sama sekali dengan dahiku yang berkerut lima tingkat.
“ Ini jam berapa?” semburku begitu dia ada didepanku.
“ Jam 10,” sahutnya kalem.
“ Kemarin janjian buat jam berapa?”
“ Jam 9.”
“ Kenapa telat?!” aku gemas.
“ Kan tadi udah bilang telat bangun. Duh! Kamu tadi makan apa, sih, jadi pelupa.”
Aku memukul bahunya dengan tas selempangku.
“ Nyebelin!”
“ Sakit, woi!”
“ Biarin! Biar kamu tahu rasa. Itu akibatnya kalau bikin aku nunggu.”
“ Haduh… Siapa yang minta ditunggu? Kalau kelamaan ditinggal juga nggak apa-apa, Sas. Kok mendadak jadi sungkan gitu sama aku.”
Meteran pengukur kesabaranku jebol sudah. Tanpa basa basi aku mulai memukulinya sesukaku. Bukan minta maaf karena merasa bersalah malah menggoda. Gavin memang tidak peduli situasi.
“ Ampun, Sas… Kamu cewek apa gorilla, sih?”
Aku menendang tulang keringnya.
“ Bercanda lagi masuk rumah sakit beneran kamu!” ancamku.
Gavin pura-pura cemberut. Aku mengacungkan tinjuku. Buru-buru dia memasang wajah standar. Gaya konyolnya sejak dulu.
“ Masuk!” kataku.
“ Itu rumahku, Sas,” protesnya.
“ Masa bodoh!”
“ Udah dong, Sas, jangan ngambek lagi,” rengeknya.
“ Masalah?”
“ Bikin nggak enak aja.”
“ Makanya jangan telat!” bentakku.
“ Kan sama aja ujungnya. Bakal masuk ke sarang tikus.”
“ Waktu itu nggak berharga ya buat kamu,” kataku dingin
Gavin terdiam. Sepertinya dia melihat perubahan di wajahku ketika aku mengatakan itu. Buru-buru dia beranjak ke sarang tikus. Membuka kuncinya lalu masuk ke dalam. Aku mengikutinya tanpa banyak bicara.
Ruangan itu masih sama seperti kemarin. Berantakan.
Aku menatap Gavin. Kesal. Gavin menelan ludah. Bersiap dengan seranganku berikutnya. Tapi aku diam saja. Lalu dia mulai membersihkan ruangan tanpa banyak bicara. Aku? Lebih memilih keluar. Biar saja. Anggap itu hukumannya karena telat datang.
Di luar, mataku menatap kendaraan yang dibawa Gavin. Lebih mirip rongsokan yang mengeluarkan bunyi dari pada motor atau mobil. Eh, tadi Gavin pakai helm. Berarti menurut dia benda ini masuk kategori motor. Aku mengerutkan kening.
Lalu aku mendekat. Mencoba memastikan apa yang ku lihat.
Tapi dengan jarak setengah meter pun di mataku kendaraan Gavin ini tetap tidak bisa disebut kendaraan. Dari mana dia mendapat ide untuk membuat benda seaneh ini? Aku menggeleng-gelengkan kepala.
“ Sas!”
Aku mendongak. Gavin berdiri di ambang pintu dengan kemoceng di tangan kiri dan sapu di tangan kanan. Aku nyaris terbahak melihatnya mirip ibu rumah tangga kelebihan hormone testosteron.
“ Ngapain kamu?” tanyaku, “ Lagi nyamar jadi dewa rumah tangga?”
“ Bantuin, kek, malah ngeluyur.”
“ Aku bantu buang rongsokan ini, ya!” seruku sembari menunjuk motor Gavin.
Kontan wajahnya berubah lalu buru-buru menghampiriku. Sambil membawa sapu dan kemoceng.
“ Geser satu inci aja mesin waktuku nggak jadi hidup!” geramnya.
Wow! Sejak kapan Gavin pintar mengancam?
Aku mencibir, “ Ini lebih mirip sampah dari pada motor, Vin.”
“ Aku suka kok,” sahut Gavin, “ Itu bikinanku juga.”
Aku melongo.
Gavin berbalik, mengabaikan tatapan tak percayaku.
Perlu beberapa detik setelahnya bagiku untuk bisa mengatupkan rahang. Apa Gavin memang sejenis makhluk aneh? Nerd, cupu apa lah itu.
Dia punya cukup uang untuk membeli kendaraan bermotor yang layak pakai. Mungkin kah dia terlalu pelit? Atau… Otaknya terlalu disayangkan untuk menganggur sehingga dia menciptakan benda-benda aneh? Di dalam sarang tikus itu ada beberapa benda aneh hasil rekayasa barang bekas yang dilakukan Gavin. Lalu mesin waktu itu.
Aku berjingkat. Seperti kena cubit. Lemari itu bagaimana? Apa akan aman-aman saja jika ku gunakan? Bisakah berfungsi? Apa aku akan baik-baik saja? Mendadak seluruh badanku sedingin es, jantungku berdebar keras, aku mulai panik. Kenapa sekarang aku ragu-ragu? Kenapa aku merasa takut?
“Sas!”
Aku melonjak, kaget.
Gavin menatapku heran dari ambang pintu.
“ Udah beres. Masuk sini!” serunya kemudian.

Aku menelan ludah. Lalu dengan langkah kaku aku mendekatinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar