Ini kah pesan yang kamu bawa, Kak? Sudah lama Kakak tidak menemuiku. Tapi malam itu, kemudian aku meringkuk di pangkuanmu.
***
Ada Kakak di dekatku. Sangat jelas. Aku bersama Kakak di sebuah ruangan. Sepertinya itu salah satu ruang kelas di sekolah kita dulu. Tapi tanpa meja, kursi dan papan tulis. Hanya ruang kosong dengan petak-petak ubin batu dingin.
Kita hanya berdua. Aku lupa kalau Kakak sudah berbeda dimensi denganku. Perasaanku hanya senang luar biasa. Aku terus menempel padamu. Lalu entah kenapa Kakak mendorongku agar aku menjauh. Tentu saja aku protes. Kakak tidak pernah seperti itu padaku.
Dari dulu aku selalu mengekor Kakak, bahkan saat Kakak berkelahi. Tapi kenapa sekarang aku tidak boleh mendekat? Aku berkeras untuk sedekat mungkin padamu. Dan kamu pun berulang kali mendorongku. Meski aku sampai menangis saking sedihnya, Kakak tak bergeming.
Kenapa? Tanyaku di sela tangis. Kakak hanya menatapku. Setelah berulang kali aku mengucapkan kata serupa dengan tangisan melebihi anak kecil, barulah Kakak mau menjawab.
Kamu sudah besar. Jangan menempel seperti dulu. Jangan terlalu dekat padaku. Apa kamu tidak malu terus-terusan seperti itu? Berdiri di situ, jangan lebih dekat lagi.
Kakak, rasanya sakit sekali waktu mendengar ucapanmu itu. Lalu sembari menangis aku bilang kalau aku tidak peduli. Aku ingin selalu dekat denganmu.
Kakak tersenyum. Tapi senyummu itu sangat sedih, Kak. Aku melihat itu dengan jelas. Entah apa penyebabnya, baru kali ini aku melihat senyuman semenyakitkan itu.
Tapi aku tidak peduli akan hal itu. Lalu aku meringkuk di sampingmu. Memaksa tidur berbantalkan kaki (paha) kirimu. Karena Kakak tidak mengijinkanku 'menempel' seperti dulu.
Aku terbangun. Sendirian. Aku berteriak-teriak memanggil Kakak. Bukan Kakak yang datang, adikku. Lalu aku bertanya Kakak pergi kemana. Hanya wajah kebingungan yang aku dapatkan. Aku mulai panik. Kemana Kakak?
Ibu pun tiba-tiba muncul. Ya, Ibuku. Kakak masih ingat, kan? Mereka berdua, adik dan ibuku, berusaha menenangkanku.
Mereka bilang Kakak tidak ada. Bahkan tidak seorang pun yang datang. Justru mereka heran kenapa aku tidur di lantai tanpa alas. Aku berkeras kalau tadi Kakak ada bersamaku. Aku tidak sendirian di kelas. Aku bahkan tidur berbantal Kakak.
Mereka menatapku bingung.
Kakak tidak ada. Kakak sudah pergi, lama. Itu kata adikku.
Kamu di rumah. Kamu dari tadi sendiri. Dia sudah tidak ada di sini. Ibuku pun turut bicara.
Aku tahu mereka panik. Tapi aku lebih panik. Aku tahu. Jauh di dalam diriku, aku berantakan. Rasanya tanpa Kakak duniaku jungkir balik, kacau balau. Seperti kehilangan keseimbangan.
Mataku terbuka untuk kedua kali. Aku benar-benar bangun sekarang. Pipiku basah. Beberapa butir air menetes dari mataku. Aku bermimpi sampai menangis?
Masih belum yakin aku melihat sekeliling. Aku di kamarku. Sendirian. Mereka tidak ada di sini.
Aku menarik nafas dengan berat. Semua, yang barusan terjadi, itu mimpi. Tapi rasanya nyata sekali. Dari air mataku, dari rasa sakit di dasar hatiku. Badanku pun rasanya remuk redam. Seperti habis dilempar kesana kemari. Mungkin kah ruh ku berlarian sewaktu aku tertidur? Mungkin kah yang aku alami barusan nyata? Mungkin kah Kakak benar-benar datang padaku?
***
Aku tertegun. Jelas sekali. Mataku bisa menangkap dengan jelas Messenger yang kamu kirimkan padaku. Siang tadi. Aku barusan menyadari. Ini sudah sore.
Seperti bermimpi. Aku berusaha bangun. Tapi aku memang benar-benar bangun. Ini nyata. Yang ku baca itu pun nyata. Lalu tanpa sadar aku menangis. Entah kenapa rasanya antara senang dan sedih.
Beberapa hari yang lalu aku memimpikan Kakak. Sekarang, kamu tiba-tiba menyapa setelah beberapa minggu menghilang tanpa kabar. Perasaanku sekarang sama dengan waktu itu. Aneh....
Apakah ini maksud Kakak waktu itu? Mungkin kah Kakak percaya padamu? Apakah kamu orangnya? Laki-laki yang selalu muncul dalam mimpiku dengan wajah samar. Laki-laki yang selalu muncul dalam mimpiku di tempat yang sama. Aku tahu tempat itu meski aku belum pernah ke sana.
Apakah kamu yang menyebabkan Kakak melepasku? Mungkin kah kamu yang membuat Kakak mengalah? Senang dan sedih wajah Kakak waktu itu, sama dengan perasaanku. Mungkin kah kamu....
sinan.7145
Tidak ada komentar:
Posting Komentar