Orang itu muncul lagi. Yah... mau tidak mau harus begitu. Selama masih berada di lingkaran yang sama. Aku pasti bertemu dengannya, di mana pun.
Benci kah aku padanya? Aku rasa tidak. Kalau tidak suka? Ya. Aku tidak suka orang itu.
Kenapa aku tidak menyukainya?
Tidak nyaman rasanya jika dia mulai dekat-dekat padaku. Sewangi apa pun parfum yang dia semprotkan, selalu aroma tembakau yang menyergap hidungku.
Aku tidak suka padanya karena dia perokok?
Bukan. Itu hanya salah satu alasan. Ada hal yang lebih krusial lagi.
Sikapnya. Itu masalahnya.
Entah aku terlalu perasa atau mungkin kelewat percaya diri. Tapi aku sering memergoki matanya terarah padaku. Risih. Menyebalkan.
Sepertinya aku ingin menampar wajahnya keras-keras. Atau mungkin aku colok sekalian dua biji matanya itu. Supaya dia kapok!
Perempuan di hadapannya tidak cuma aku. Tapi kenapa dia sering merecokiku? Mencari-cari alasan untuk bicara padaku. Apa dia pikir aku ini tolol? Hal yang dibuat-buat pasti akan terlihat lebih bodoh saat diucapkan. Dan aku bisa membedakan mana yang perlu, mana yang omong kosong.
Sebisa mungkin aku meminimalisir kesempatan untuk berbicara dengannya. Aku selalu pura-pura sibuk agar terlihat tak punya waktu senggang.
Kadang dengan sengaja aku memunggunginya. Agar aku tidak perlu melihat matanya yang terarah padaku. Lebih baik aku tidak melihat kelakuannya. Meski aku tak henti-henti merutuk dalam hati.
Kalau dia masih nekat juga mengajak bicara, aku tidak akan menatapnya. Sewajar mungkin aku menanggapi dengan mengarahkan mataku pada objek lain. Supaya dia tidak betah.
Aku tidak peduli dia sakit hati atau bahkan membenciku. Aku hanya ingin berada di jarak yang aman dari terkamannya. Paling tidak aku masih punya kesempatan sepersekian detik untuk menghindarinya.
Mungkin kah disangkanya aku ini haus lawan jenis? Lalu dia bersikap memberi perhatian. Berharap aku takluk?
Cih! Meski pun masih single aku bukan jenis pengemis perhatian. Dan tidak semudah itu aku tunduk. Perlu bantuan atau mukjizat untuk membalik pola pikirku. Sekali aku bilang tidak, langka sekali menjadi ya. Seperti sekali aku berucap, pantang bagiku menjilat. Resiko apa pun aku tak peduli.
Apalagi untuk urusan yang satu ini. Lawan jenis. Terlalu njelimet. Jadi tidak semudah itu aku menjatuhkan pilihan. Dan asal tabrak ketika yang bersangkutan sudah dilabeli 'milik....'
Mungkin ada beberapa yang tidak peduli dengan status 'hak milik'. Tapi, untungnya, aku lebih memilih yang 'tak bertuan'. Karena bagiku itu lebih aman. Bisa jadi ini pengaruh dari sisi belas kasih yang ada padaku. Menyakiti jiwa lain demi kepuasan diri itu termasuk kejahatan.
Aku tidak ingin menggunakan 'bisa' untuk menghancurkan orang lain. Senjata itu hanya boleh digunakan ketika sudah sangat genting. Dan untuk kebaikan semua orang. Bukan kepentingan pribadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar