Aku takut lo! Mungkin malah ketakutan. Entah kenapa kepalaku selalu penuh tiap kali terbangun. Isinya? Hanya kamu.
Aku takut. Karena kamu terlihat seperti kerlip kunang-kunang. Tampak. Hilang. Tampak. Hilang. Sekuat apa pun aku menajamkan inderaku, wujudmu tidak pernah nyata di hadapanku.
Apa kamu benar-benar datang? Apa kamu memanggilku? Apa kamu mencariku? Apa kamu membutuhkan pertolongan? Aku takut.
Setiap kali terbangun, wajahmu lah yang berenang di kolam otakku. Hanya kamu yang aku ingat setiap aku membuka mata. Tapi itu tidak memperjelas semuanya. Selalu tanda tanya pada akhirnya.
Ada apa ini? Kenapa alam bawah sadarku mengarah padamu? Tapi inderaku tidak bisa merasakanmu. Aku takut jika kamu ternyata menjelma jadi kunang-kunang.
Aku ingin melihat wajahmu, menatap matamu, memegang tanganmu, berbicara denganmu dan berjalan bersamamu. Aku ingin kamu nyata seperti itu. Agar aku bisa menemanimu, mewarnai hidupmu dan meramaikan duniamu.
Aku tidak pernah berharap kamu datang padaku, menari-nari disekitarku dengan bokong kelap-kelip. Aku pasti menangis jika melihatmu seperti itu.
Entah apa yang mengikat aku dan kamu. Tapi tiap kali aku membuat jembatan penghubung selalu ada yang runtuh. Dan aku harus memutar otak, mencari jalan lain. Jalan yang bisa aku pasangi jembatan ketika ada celah besar yang memisahkan sisi jalan yang satu dengan yang lain.
Aku tidak berharap kita bertemu di tengah jembatan itu. Tidak! Sama sekali. Aku khawatir jembatan itu roboh karena tidak sanggup menopang kita berdua.
Tujuanku membuat jembatan itu agar menghantarkan salah satu dari kita. Bisa jadi kamu yang melewati jembatan itu untuk pulang padaku. Atau mungkin aku lah yang menyeberang untuk menemuimu. Kamu paham maksudku?
Bukan di tengah jembatan kita akan berjumpa. Tapi di salah satu sisinya.
Karena itu jangan datang seperti kerlip kunang. Seberangi saja jembatan itu. Tidak perlu sungkan apalagi ragu.
Lebih menyenangkan melihat wujud aslimu. Bukan sekedar gumpalan bayang-bayang tanpa pesan.
Sepeka apa pun aku tidak bisa menerjemahkan itu. Datang lah dengan wujud nyata. Mari bicara. Dengan bahasa kita.
sinan7145
Tidak ada komentar:
Posting Komentar