Pagi ini aku terbangun dengan tubuh menggigil. Entah aku demam atau sekedar kedinginan. Salahku sendiri tidur tanpa selimut. Padahal musim penghujan sudah ditetapkan sejak hari ulang tahunku kemarin.
Eh, sebenarnya aku ketiduran. Jadi bukan salahku sepenuhnya kalau akhirnya aku seperti ini.
Seperti biasa. Selalu punya argumen, hehe...
Aku pun tetap memaksakan diri untuk mandi. Meski rasa dingin masih melekat di tubuhku. Dan guyuran air menambah sensasinya semakin menusuk tulang. Ah... Ngilu sekujur tubuh. Tapi aku tidak berhenti menumpahkan bergayung-gayung air ke badan. Dan itu berlangsung lama. Dasar keras kepala!
Setelah ritual mandi yang menyiksa, tapi aku menikmatinya, dengan tergesa aku menjejalkan barang-barangku ke dalam tas. Sudah jam 7 lebih, aku masih belum apa-apa. Smartphoneku berbunyi. Aku mengerutkan kening. Siapa yang menghubungiku sepagi ini? Dan... di akhir pekan? Aku mengeluarkan smartphone dari dalam tas.
Di layar pemberitahuan muncul satu icon aplikasi socmed yang ku aktifkan. Messenger. Sepagi ini? Dahiku semakin naik. Tapi tak urung aku membukanya juga.
Badanku beku.
Bukan karena kedinginan. Isi messenger itu yang membuatku jadi patung es.
Seorang teman. Memberi kabar mengejutkan. Ah... Bukan! Lebih tepatnya curhat.
Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya. Hanya sesekali berbalas pesan lewat socmed. Biasanya kalau dia sedang ada masalah. Tapi aku pun dengan rela menanggapi. Kadang memberi saran tapi ada kalanya cukup jadi pendengar setia. Maksudku pembaca setia pesan-pesannya. Dan dia pun tidak pernah kapok curhat padaku.
Dari dulu seperti itu. Dan itu beberapa tahun yang lalu.
Siapa temanku itu?
Itu rahasia. Karena aku tidak berhak menuliskan kisah hidupnya tanpa persetujuan dari yang bersangkutan. Aku hanya bercerita tentang diriku di sini. Maafkan dan maklumilah sisi egosentrisku ini.
Tapi meski aku keras kepala dan 'agak' egois, aku masih bisa menangis. Kadang entah kenapa aku cukup sensitif dengan hal yang bersifat haru dan menyentuh. Tahu kan maksudku?
Di awal curhat temanku yang sempat membekukan tubuh itu berakhir dengan balasan yang mengharukan. Setitik air mata berhasil menyelip di kelopak mataku. Ada rasa campur aduk dibenakku. Antara geram dan bahagia. Ya! Siapa saja akan bahagia mendengar hal itu. Padaku sekali pun. Si keras kepala nan angkuh.
Meski sejatinya aku tidak merasakan sendiri. Tapi dari pesan yang ku baca sudah cukup menjelaskan apa yang terjadi. Dan itu sudah cukup memberi kesempatan imajinasiku untuk berkembang liar.
Tapi... ada hal yang ingin aku lakukan.
Hanya satu hal saja. Memeluknya. Andai dia ada di hadapanku.
sinan7145
Tidak ada komentar:
Posting Komentar