Aku mengikuti Gavin masuk ke ‘sarang tikus’nya. Ini pertama
kali aku kesana. Kedua mataku serta merta menjelajah ruangan berukuran 4x4
meter dengan seksama. Cukup luas. Tapi dengan tumpukan barang Gavin disana sini
membuatnya benar-benar seperti sarang tikus. Sangat pas dengan namanya.
Aku menendang sesuatu. Gavin menoleh.
“ Banyak jebakan. Siaga tiga, ya!” seperti biasa, bercanda.
Lantai ruangan nyaris tak terlihat. Bagiku ini lebih mirip kapal
pecah dari pada tempat tinggal. Apa yang Gavin kerjakan disini?
“ Ada lampunya nggak, sih?” tanyaku.
“ Tenang. Bebas hantu.”
“ Bukan soal itu!”
Klik.
Ruangan mendadak terang. Aku memicingkan mata. Gavin sudah
berdiri diujung ruangan dengan tangan masih menempel ditombol lampu. Ajaib!
Bagaimana dia bisa sampai disana secepat itu?
“ Terlalu terang, ya? Matiin aja, deh!” katanya.
Lalu ruangan kembali gelap.
“ Gavin!”
GUBRAKKK!!!
“ Awww!”
BRUGH!
Saking terburu-burunya aku sampai lupa dengan kondisi
ruangan itu. Entah aku tadi menabrak apa. Yang jelas aku terguling jatuh dan
lututku sekarang mati rasa.
“ Kamu nggak apa-apa, Sas?”
Gavin menghambur ke arahku setelah menyalakan lampu.
“ Sakit!” protesku.
“ Kan barusan dikasih tahu kalau banyak jebakan,” sahutnya
tak bersalah.
“ GAVIIIIIIN…!!!” aku berusaha memukul bahunya. Dia
menghindar.
Lututku masih berdenyut. Aku meringis menahan sakit sambil
mencari-cari benda yang ku tabrak. Sebuah lemari, mungkin. Tergeletak begitu
saja nyaris ditengah ruangan. Apa-apaan temanku yang satu ini? Barang sebesar
itu dibiarkan begitu saja. Aku berusaha bangun.
“ Itu lemari pakaian siapa?” tanyaku.
“ Sembarangan lemari pakaian,” gerutu Gavin.
Aku mendekati lemari atau apa pun itu. Memastikan wujud
aslinya. Ternyata lebih mirip lemari besi. Tapi yang ini terlalu besar
menurutku. Aku menatap Gavin dan benda itu bergantian. Lalu dia mendekat.
Seperti tahu arti tatapanku.
“ Ini hasil kerjaku,” katanya bangga.
“ Kamu jadi tukang bikin lemari besi?” tanyaku.
“ Belum selesai ngomong, Sas,” protesnya.
“ Terus?”
“ Mesin waktu.”
“ APA??!”
Gavin berjingkat, “ Biasa aja kenapa?”
“ Nggak pernah kepikiran kalau kamu buat barang seperti
ini,” kataku seraya melihat mesin waktu itu lebih lekat.
Di bagian depan ada beberapa tombol warna-warni dan berbagai
ukuran. Aku membaca tulisan di tiap tombol. Lalu berputar, mengelilingi benda
itu. Semua sisinya terbuat dari besi atau mungkin baja. Aku yakin sekali karena
barusan aku menabraknya.
“ Ini bisa dipakai?” tanyaku kemudian.
“ Bisa nyala, sih. Tapi belum pernah dicoba,” jawab Gavin.
“ Kita coba, yuk!” ajakku.
“ Ngawur!”
Aku cemberut, “ Terus buat apa kalau nggak dipakai?”
“ Belum tahu efek sampingnya.”
“ Terus? Mau nggak mau harus diuji coba, kan?”
“ Resikonya gede.”
“ Nggak akan tahu sebelum dicoba.”
“ Ngotot banget, sih, Sas. Ini punyaku lo!” protes Gavin
seraya menunjuk mesin waktunya.
“ Vin. Dulu niatmu bikin itu buat apa? Pasti salah satunya
biar bisa digunakan, kan? Terus kenapa sekarang, setelah jadi, kamu diamkan
begitu aja? Atau kamu sudah tahu kalau buatanmu itu gagal total? Jadi kamu
nggak mau mencobanya sedikit pun. Jangan-jangan semua barang disini sebenarnya
eksperimen yang gagal,” ocehku.
Aku tahu Gavin mulai tersinggung dengan kata-kataku.
Baguslah. Tinggal pasang tatapan menyepelekan pasti egonya terbakar. Aku tidak
akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku butuh mesin waktunya itu. Sudah tidak
ada waktu.
“ Menurutmu aku seceroboh itu?” kata Gavin, “ Aku tahu kamu
ingin aku bilang ‘Oke kita coba’ ya, kan? Dari dulu kamu nggak berubah, Sas,
selalu ngotot kalau punya keinginan.”
Aku menahan nafas. Ternyata dia bisa menebak rencanaku.
Apakah aku sudah gagal?
“ Kenapa kamu tertarik mencoba mesin waktuku ini?” lanjut
Gavin.
Aku terdiam. Haruskah aku bercerita? Kasus terakhir aku
menceritakan masalahku padanya malah berujung salah paham.
“ Aku ingin jalan-jalan saja,” kataku kemudian.
“ Kemana? Bukannya kamu bisa jalan-jalan tanpa mesin waktu
disini.”
Aku menghela nafas, “ Maksudku perjalanan melintasi waktu.”
“ Memangnya mau kemana?”
“ Masa lalu.”
Gavin terdiam.
Lalu lanjutnya, “ Serius? Buat apa?”
“ Kangen aja.”
“ Aku kan masih ada disini. Kamu nggak perlu ke masa lalu kalau
sekedar. Duh…”
Aku menonjok bahunya keras-keras.
“ Bukan kamu alasanku ke masa lalu,” kataku sewot.
“ Iya. Iya. Ini kan cuma bercanda.”
“ Terus… gimana nih? Jadi, kan?”
“ Harusnya?”
“ Sekali lagi kamu ngajak bercanda aku kasih pukulan maut,”
ancamku sambil mengepalkan tanganku.
“ Jangan galak-galak kenapa, sih? Kamu tuh cewek, Sas?”
“ Emang kenapa?”
“ Lembut sedikit nggak bisa?” sahut Gavin lirih.
“ Kelembutanku bukan buat kamu, Vin,” tolakku.
“ Cuma sama aku ya kamu segahar itu?”
“ Idih! PD banget.”
“ Pantes cowok-cowok takut deketin kamu,” ledeknya.
“ Mulai deh!” kataku kesal, “ Jadi dicoba nggak, nih?”
“ Besok,” sahut Gavin, “ Sekalian aku bersihin dulu
tempatnya.”
“ Jam berapa?”
“ Sok sibuk banget pakai tanya jam segala,” omel Gavin.
“ Dari pada aku datang kamu masih asyik ngorok dirumah,”
kilahku.
“ Oke. Jam 9.”
“ Sip!” aku mengacungkan jempol, “ Aku pulang, ya!”
Tanpa menunggu balasan Gavin aku bergegas keluar. Kali ini
aku harus berhasil. Tidak boleh tidak, batinku. Sudah ada mesin waktu itu. Rencanaku
pasti bisa berjalan dengan baik. Aku akan memulainya besok dan tidak akan ada
yang tahu. Bahkan Gavin juga tidak. Aku tersenyum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar