Aku menatapnya.
Sepi.
Aku tidak lagi merasakan detak jantungku meningkat. Tidak
ada lagi lonjakan hatiku yang kegirangan. Tidak ku rasakan lagi getaran yang
merambat ke seluruh tubuhku. Tidak ada gejolak rindu yang menggigit setiap
sudut hatiku.
Hampa.
Dia menciumku. Seperti biasa.
Senyumku terukir. Tawar.
Aku ingin pergi jauh darinya. Aku tidak tahan lagi terus
menerus bersamanya. Aku tahu ini pasti sangat menyakitkan baginya. Tapi aku
tidak sanggup lagi. Aku putus asa.
Akhirnya, aku memilih berpisah.
Dia tidak bisa menerima.
Tentu saja dia tidak bisa menerima. Karena aku tidak memberi
alasan yang jelas. Aku sendiri pun tidak mengerti. Kenapa aku setega ini? Kemana
cintaku yang ada untuknya? Sedangkan dia tak bercela.
Dia sangat baik. Menyayangi aku sepenuhnya. Memujaku. Mencintaiku
tanpa syarat.
Tapi entah kenapa rasa bahagia yang meluap-luap itu
hilang tiba-tiba. Aku mencarinya selama ini. Aku ingin rasa itu kembali lagi. Tapi
rasa cinta dalam diriku memang sudah
pergi. Tidak ada penjelasan. Untukku dan dia. Tidak ada sedikit pun.
***
Dia masih mencintaiku. Masih mengharapkanku.
Sementara aku sendiri merasa tidak sanggup.
Kami masih sering bersama. Menghabiskan waktu. Bercanda,
berjalan-jalan, bersantai, menonton film. Semua masih kami lakukan. Tanpa bermesraan.
Jika aku punya kabar gembira atau hal yang menyenangkan,
selalu dia yang aku beri tahu lebih dulu. Jika punya sesuatu, dia orang pertama
yang aku ajak berbagi.
Aku pun masih sering meminjam bahunya. Itu ku lakukan
jika sedang gelisah atau sedih. Tapi jika dia ingin memelukku, aku enggan.
Aku tidak tahu kenapa bahunya yang selalu aku cari. Ada yang
salah dengan ini. Entah itu aku atau dia.
Aku sangat menjaga hubungan baik yang terjalin ini. Aku tidak
pernah menginginkan untuk menjaga jarak. Kami berdua saling menjaga satu sama
lain. Selalu ada bila salah satu dari kami membutuhkan. Tidak pernah menghitung
untung rugi. Kami berbagi dan saling melengkapi. Meski sudah tidak ada hati
yang saling bertaut. Kami tetap beriring. Saling menguatkan jika ada yang
melemah. Selalu berbagi. Selalu. Satu.
***
Kabar tidak enak itu datang.
Hatiku sesak. Sakit mencubit. Aku tidak bisa mempercayai
ini.
Dia punya kekasih.
Tuhan, sungguh aku terpuruk mendengar hal itu.
Aku berharap dia bahagia. Tapi entah kenapa ketika dia
menemukan pasangan aku menderita. Sakit itu memenuhi setiap sel-sel tubuhku.
Aku luruh. Aku menangis. Aku terpuruk.
Rasa sakit itu benar-benar menghancurkanku. Aku menangis
tanpa air mata. Aku menjerit tanpa suara. Aku ingin dia tetap disampingku
seperti sebelumnya. Aku tidak bisa sendirian tanpa dirinya.
Begitu besar arti keberadaannya bagiku. Begitu dalam
kehadirannya dihidupku. Sangat nyaman jika bersamanya. Sangat menyenangkan bisa
berbagi tawa dengannya. Tapi kenapa aku merasa itu bukan cinta? Aku tidak bisa
merengkuhnya seperti ketika aku jatuh cinta.
***
Dia mulai berubah.
Aku tidak menyadari ini sebelumnya. Bahwa tidak ada lagi
senyumnya yang selalu aku lihat ketika kami bertemu. Dia tidak lagi mau
mendengar ceritaku. Dulu dia selalu menantikan itu.
Dia tidak lagi berbicara dengan lembut, tampak ketus dan
sinis. Kata-kata yang dipilihnya cenderung kasar. Tidak ada lagi sikap
pedulinya ketika aku bercerita tentang masalahku. Yang ada hanya mencela dan
menilai buruk diriku. Aku seperti pengeluh dihadapannya.
Hal yang berhubungan denganku selalu dikerjakannya
setengah hati. Dia selalu berpikir negatif tentang gerak-gerikku. Selalu saja curiga
jika aku berbicara dengan orang lain yang dikenalnya juga. Aku seperti bayangan
gelap yang mengganggu kepalanya.
Dan yang paling menakutkan dia akan marahbesar jika aku
bertanya tentang pasangannya. Dia berubah menjadi sosok yang menyeramkan. Matanya
merah dan menajam. Menatap tepat, lekat dimataku. Aku tidak pernah melihat
wajahnya yang seperti itu.
Tak bolehkah aku tahu? Tak berhak kah aku bertanya?
Aku yang selama ini bersamanya. Aku tahu dengan baik
siapa dirinya. Kepribadiannya, kebiasaannya, seleranya dan cara dia menatap
dunia.
Tapi kenapa sekarang aku tidak boleh tahu?
Apa dia tidak bahagia? Apa dia merasa ini aib?
Aku akan turut bahagia jika dia menemukan yang
dicarinya. Aku akan mendukungnya jika dia bisa bahagia. Seperti yang dia
lakukan padaku. Karena itu lah dia sangat istimewa bagiku.
***
Keping hatinya yang berisikan aku ada dalam segelas atau
secangkir minuman. Meski tanpa dia sadari. Masih aku, wanita yg diajaknya
berbagi.
Hal lain bisa dia ubah, tapi satu ini tidak! Karena
"keharusan" baginya untuk meminum apa yg aku minum. Entah kenapa dia
suka melakukannya.
Secangkir kopi, segelas susu coklat atau segelas teh
manis. Asalkan itu milikku, tak akan dilewatkan. Meski dia berusaha mengubah
kebiasaan.
Mungkin dia tidak menyangka aku akan memperhatikan hal2
yg dipandang remeh orang lain. Tapi aku yg selama ini didalam hari,
waktu&dunianya.
Aku tidak lupa. Dia masih sama. Hanya sedang berkeras
mengingkari keberadaanku. Meski otak dan hatinya sering berlawanan. Dihatinya
aku ada.
Meski kadang aku merisau. Meski kadang aku menjerit
dalam diam. Aku tahu cintanya untukku masih ada.
Dan aku…
Aku mencintainya dengan caraku.
Sinan.7145,
27 September 2012
Bagi
dunia mungkin kau hanyalah seseorang yang biasa saja. Tetapi bagi seseorang,
kau bisa saja menjadi dunianya - Brandy Snyder