27 September 2012

UNTOLD STORY


Aku menatapnya.
Sepi.
Aku tidak lagi merasakan detak jantungku meningkat. Tidak ada lagi lonjakan hatiku yang kegirangan. Tidak ku rasakan lagi getaran yang merambat ke seluruh tubuhku. Tidak ada gejolak rindu yang menggigit setiap sudut hatiku.
Hampa.
Dia menciumku. Seperti biasa.
Senyumku terukir. Tawar.
Aku ingin pergi jauh darinya. Aku tidak tahan lagi terus menerus bersamanya. Aku tahu ini pasti sangat menyakitkan baginya. Tapi aku tidak sanggup lagi. Aku putus asa.
Akhirnya, aku memilih berpisah.
Dia tidak bisa menerima.
Tentu saja dia tidak bisa menerima. Karena aku tidak memberi alasan yang jelas. Aku sendiri pun tidak mengerti. Kenapa aku setega ini? Kemana cintaku yang ada untuknya? Sedangkan dia tak bercela.
Dia sangat baik. Menyayangi aku sepenuhnya. Memujaku. Mencintaiku tanpa syarat.
Tapi entah kenapa rasa bahagia yang meluap-luap itu hilang tiba-tiba. Aku mencarinya selama ini. Aku ingin rasa itu kembali lagi. Tapi  rasa cinta dalam diriku memang sudah pergi. Tidak ada penjelasan. Untukku dan dia. Tidak ada sedikit pun.
***
Dia masih mencintaiku. Masih mengharapkanku.
Sementara aku sendiri merasa tidak sanggup.
Kami masih sering bersama. Menghabiskan waktu. Bercanda, berjalan-jalan, bersantai, menonton film. Semua masih kami lakukan. Tanpa bermesraan.
Jika aku punya kabar gembira atau hal yang menyenangkan, selalu dia yang aku beri tahu lebih dulu. Jika punya sesuatu, dia orang pertama yang aku ajak berbagi.
Aku pun masih sering meminjam bahunya. Itu ku lakukan jika sedang gelisah atau sedih. Tapi jika dia ingin memelukku, aku enggan.
Aku tidak tahu kenapa bahunya yang selalu aku cari. Ada yang salah dengan ini. Entah itu aku atau dia.
Aku sangat menjaga hubungan baik yang terjalin ini. Aku tidak pernah menginginkan untuk menjaga jarak. Kami berdua saling menjaga satu sama lain. Selalu ada bila salah satu dari kami membutuhkan. Tidak pernah menghitung untung rugi. Kami berbagi dan saling melengkapi. Meski sudah tidak ada hati yang saling bertaut. Kami tetap beriring. Saling menguatkan jika ada yang melemah. Selalu berbagi. Selalu. Satu.
***
Kabar tidak enak itu datang.
Hatiku sesak. Sakit mencubit. Aku tidak bisa mempercayai ini.
Dia punya kekasih.
Tuhan, sungguh aku terpuruk mendengar hal itu.
Aku berharap dia bahagia. Tapi entah kenapa ketika dia menemukan pasangan aku menderita. Sakit itu memenuhi setiap sel-sel tubuhku.
Aku luruh. Aku menangis. Aku terpuruk.
Rasa sakit itu benar-benar menghancurkanku. Aku menangis tanpa air mata. Aku menjerit tanpa suara. Aku ingin dia tetap disampingku seperti sebelumnya. Aku tidak bisa sendirian tanpa dirinya.
Begitu besar arti keberadaannya bagiku. Begitu dalam kehadirannya dihidupku. Sangat nyaman jika bersamanya. Sangat menyenangkan bisa berbagi tawa dengannya. Tapi kenapa aku merasa itu bukan cinta? Aku tidak bisa merengkuhnya seperti ketika aku jatuh cinta.
***
Dia mulai berubah.
Aku tidak menyadari ini sebelumnya. Bahwa tidak ada lagi senyumnya yang selalu aku lihat ketika kami bertemu. Dia tidak lagi mau mendengar ceritaku. Dulu dia selalu menantikan itu.
Dia tidak lagi berbicara dengan lembut, tampak ketus dan sinis. Kata-kata yang dipilihnya cenderung kasar. Tidak ada lagi sikap pedulinya ketika aku bercerita tentang masalahku. Yang ada hanya mencela dan menilai buruk diriku. Aku seperti pengeluh dihadapannya.
Hal yang berhubungan denganku selalu dikerjakannya setengah hati. Dia selalu berpikir negatif tentang gerak-gerikku. Selalu saja curiga jika aku berbicara dengan orang lain yang dikenalnya juga. Aku seperti bayangan gelap yang mengganggu kepalanya.
Dan yang paling menakutkan dia akan marahbesar jika aku bertanya tentang pasangannya. Dia berubah menjadi sosok yang menyeramkan. Matanya merah dan menajam. Menatap tepat, lekat dimataku. Aku tidak pernah melihat wajahnya yang seperti itu.
Tak bolehkah aku tahu? Tak berhak kah aku bertanya?
Aku yang selama ini bersamanya. Aku tahu dengan baik siapa dirinya. Kepribadiannya, kebiasaannya, seleranya dan cara dia menatap dunia.
Tapi kenapa sekarang aku tidak boleh tahu?
Apa dia tidak bahagia? Apa dia merasa ini aib?
Aku akan turut bahagia jika dia menemukan yang dicarinya. Aku akan mendukungnya jika dia bisa bahagia. Seperti yang dia lakukan padaku. Karena itu lah dia sangat istimewa bagiku.
***
Keping hatinya yang berisikan aku ada dalam segelas atau secangkir minuman. Meski tanpa dia sadari. Masih aku, wanita yg diajaknya berbagi.
Hal lain bisa dia ubah, tapi satu ini tidak! Karena "keharusan" baginya untuk meminum apa yg aku minum. Entah kenapa dia suka melakukannya.
Secangkir kopi, segelas susu coklat atau segelas teh manis. Asalkan itu milikku, tak akan dilewatkan. Meski dia berusaha mengubah kebiasaan.
Mungkin dia tidak menyangka aku akan memperhatikan hal2 yg dipandang remeh orang lain. Tapi aku yg selama ini didalam hari, waktu&dunianya.
Aku tidak lupa. Dia masih sama. Hanya sedang berkeras mengingkari keberadaanku. Meski otak dan hatinya sering berlawanan. Dihatinya aku ada.
Meski kadang aku merisau. Meski kadang aku menjerit dalam diam. Aku tahu cintanya untukku masih ada.
Dan aku…
Aku mencintainya dengan caraku.

Sinan.7145, 27 September 2012
Bagi dunia mungkin kau hanyalah seseorang yang biasa saja. Tetapi bagi seseorang, kau bisa saja menjadi dunianya - Brandy Snyder

Tidak ada komentar:

Posting Komentar