Seminggu lagi.
Tara kembali mengecek nama di sampul undangan. Setelah yakin
tidak ada yang terlewat, tumpukan undangan itu ditaruh dimeja. Lalu dia membaca
jurnalnya, mencoret beberapa hal yang sudah dikerjakan. Tinggal sedikit lagi
semuanya beres. Tinggal membungkus seserahan, mengambil baju di butik dan pergi
ke salon untuk perawatan. Dengan wajah puas dia beranjak ke kursi. Sebelah
tangannya meraih ponsel.
BRAAAKK!!!
Tara melonjak. Bingkai jendela menutup tiba-tiba karena
hembusan angin.
Dak. Dak. Dak…
Suara benturan jendela memaksa Tara untuk beranjak dari
duduknya. Angin basah menyapa wajahnya ketika wajahnya mendekat ke jendela.
Lalu dia mendongak. Awan tebal mulai bergulung-gulung, membentuk gumpalan yang
lebih pekat.
“ Hujan,” gumam Tara.
Tangannya dengan cepat meraih daun jendela, lalu menutupnya
rapat.
Ponselnya berdering. Pesan baru. Dari Annet.
Tara, ujan ni. Bsk
aja, ya, ke butik sama salonnya. Sorry…
Dia tersenyum.
OK! Disini juga mulai
gerimis
Sebelum pesan terkirim, titik-titik gerimis diluar sudah
berubah menjadi hujan lebat. Dalam sekejap halaman, pohon-pohon, rerumputan dan
jalanan basah.
Hujan pertama setelah kemarau beberapa waktu. Hujan pertama
turun dengan hebatnya. Hujan pertama menjelang hari pernikahannya.
Tara mengintip dari balik jendela. Diluar sana tampak
beberapa murid sekolah beradu lari, melawan hujan. Baju mereka kuyup, begitu
pun sepatu dan tas sekolahnya. Suara mereka yang disertai derap langkah memecah
guyuran hujan.
Senang atau kesal kah mereka, batin Tara.
***
Tiga hari lagi…
Tara bersiap pergi ke butik. Hari ini harus diambil,
tekadnya. Tinggal tiga hari lagi menjelang hari H. Setelah ini pun dia masih
harus ke salon dan memastikan semuanya beres.
Gedung pernikahan, susunan acara, dekorasi ruang, catering,
kue pengantin…
Tara membaca catatan dijurnalnya satu-satu. Matanya semakin
terbelalak setelah sadar masih banyak yang terlewatkan. Hanya hal-hal kecil
tapi baginya sangat penting.
Ponsel berdering. Telepon dari Rhino. Senyum mengembang
dibibir Tara.
“ Halo,” sapanya.
“ Hai, lagi apa? Sibuk
nyobain baju, ya?” tanya Rhino.
“ Baru mau diambil. Hujan terus ni, deres lagi,“ sahut Tara.
“ Nggak apa-apa.
Mending hujan sekarang dari pada hari H,” hibur Rhino.
“ Tapi, kan, jadi banyak yang pending. Ini masih ke toko bunga
ngecek pesanan bunganya kurang apa enggak. Untung ada Annet yang mau bantuin.
Coba kamu disini, kan bisa dibagi berdua tugasnya,” Tara menggerutu.
“ Masih, ya, tetep
suka merajuk kaya anak kecil.”
“ Tuh! Kamu juga masih suka ngeledekin.”
“ Ha ha… Udah jangan
terlalu panik. Nanti malah ada yang kelupaan. Sorry nggak bisa bantuin.
Berhubung mau cuti jadi kerjaan harus diberesin dulu. Dua hari lagi aku
pulangnya.”
“ Ya, deh,” sahut Tara pasrah.
“ Buket bunganya jadi
pilih bunga apa?” tanya Rhino.
“ Ampun! Lupa belum dipesan. Biar Kayla aja, deh, sekalian
dia yang ngecek bunga buat dekorasi.”
“ Kenapa kemarin nggak
pakai WO aja? Kan kamu nggak repot kaya gini,” sahut Rhino.
“ Mama maunya yang ngurusin semua dari keluarga. Kapok
katanya pakai yang begituan. Aku pernah cerita, kan?”
“ Waktu mas Dion
nikah?”
“ Iya. Jadi waktu mbak Kiran nikah keluarga besar yang
ditunjuk jadi panitianya. Keterusan sampai sekarang.”
“ Ya, udah. Beresin
satu-satu tapi jangan panik, ya! Aku terusin kerja lagi,” sahut Rhino.
“ OK! Jangan lupa makan, ya.”
“ Iya. I love You.”
“ I love You to.”
Sambungan diseberang putus. Tara menaruh ponselnya lalu
bergegas ke ruang keluarga. Dilihatnya Kayla sibuk membungkus seserahan dengan
beberapa sepupunya yang bertugas menjadi panitia.
“ Kay!” panggil Tara.
Kayla mendongak.
“ Tolong ke toko bunga, ya. Cek pesanan bunga buat dekorasi,
minta diantar sehari sebelum hari H. Terus sekalian pesan satu buket bunga. Aku
lupa belum pesan kemarin.
Kayla beranjak dari duduknya.
“ Buketnya bunga apa?” tanyanya kemudian.
“ Mawar.”
“ Mawar?” sahut Kayla heran, “ Bukannya kamu nggak suka?”
“ Nggak. Aku mau itu,” sahut Tara, “ Warna putih.”
Kayla menatapnya, heran.
“ Buruan!”
Masih dengan keheranan Kayla bergegas pergi.
***
Tara terbangun.
Sayup-sayup didengarnya suara ponsel berdering. Masih
setengah sadar dia beranjak ke meja diujung kamar.
Annet menelepon. Tara tertegun sesaat. Sambil melirik jam
dinding dia menjawab panggilan.
“ Halo. Jam berapa ini, Net?”
“ Sorry, deh! Cuma mau
pastiin aja Rhino udah sampai belum?” tanya Annet diseberang.
“ Hah? Kok malah tanya sama aku?” sahut Tara kebingungan. “
Bukannya kamu udah dirumahnya dari kemarin? Bantuin persiapan disana.”
“ Oh… kirain dia
mampir rumah kamu. Kok belum sampai rumah, ya,” nada suara Annet berubah.
“ Nggak kasih kabar dari tadi?”
“ Enggak. Kirain sama
kamu. Udah telat banget ni kalau jam segini belum sampai rumah,” suara
Annet meninggi.
“ Net! Udah coba hubungi dia belum?” tanya Tara berusaha
menenangkan meski pun perasaannya mulai tidak enak.
“ Belum.”
“ Nah. Udah tar aku aja yang telepon, ya! Kali aja dia capek
jadi istirahat dulu.”
“ Iya, deh! Jangan
lupa kabari aku, ya! See you tomorrow…”
“ Oke. Oke.” balas Tara.
Setelah Annet menutup telepon, Tara mulai mencari nama Rhino
dalam daftar kontaknya. Sambil menunggu teleponnya tersambung dia mengedarkan
pandangan, menyapu setiap inci kamar yang sudah lama ditempatinya.
“ Halo!”
Tara berjingkat. Suara itu bukan suara yang diharapkannya. Suara
seorang wanita yang sangat asing ditelinganya.
“ Halo,” sahutnya ragu.
“ Ini dengan siapa?”
tanya orang diseberang.
“ Maaf. Apa benar ini ponselnya Rhino?” ragu-ragu Tara
bertanya.
“ Oh! Ibu kenal sama
yang punya ponsel ini?”
Tara terdiam. Apa-apaan ini, batinnya.
“ Maksudnya?” tanyanya lanjut.
“ Oh… Maaf, Bu, saya cuma nolongin aja. Nggak ada
maksud apa-apa.”
“ Nolongin gimana?” Tara semakin bingung.
“ Bapak yang punya
ponsel ini barusan kecelakaan. Ini baru perjalanan ke rumah sakit.”
“ HAH?!!”
Tara membeku. Sayup-sayup diseberang terdengar sirene
ambulans.
“ Bu, ini hampir rumah
sakit. Nanti saya kabari lagi kalau urusan sudah beres.”
Suara diseberang sudah tidak terdengar lagi oleh Tara. Dia terduduk
lemah dilantai. Tenaganya seperti menguap seketika.
Tangannya gemetaran sewaktu menghapus air mata yang
menderas. Dengan sedikit limbung dia berjalan ke tempat tidur. Dengan lemah dia
duduk dipinggir kasur. Menatap wajah Rhino yang terbingkai pigura disamping
tempat tidurnya.
“ Ini mimpi, kan?” bisiknya.
Perlahan diambilnya foto itu dari meja. Ditatapnya lama. Dan
dia tak sadarkan diri.
Angin malam berhembus. Membawa hawa dingin.
Tara membuka mata.
Terkesiap.
Dilihatnya Rhino berdiri diambang pintu. Tersenyum kearahnya.
Tara beranjak dari tempat tidur, menghampiri Rhino.
“ Kamu nggak apa-apa?” tanyanya gusar.
Rhino menggeleng.
“ Tapi tadi ada yang bilang kamu kecelakaan.”
“ Ya. Tapi aku baik-baik saja,” sahut Rhino, “ Aku kesini
jemput kamu.”
Tara terbeliak.
Rhino mengulurkan tangan kearahnya. Tara terdiam beberapa
saat. Lalu disambutnya tangan Rhino dan digenggamnya erat.
Berdua mereka berjalan kearah jendela. Menatap bulan dari
balik tirai. Bayang dedaunan tampak bergerak pelan, tertiup angin.
***
Hari pernikahan…
Tamu-tamu berdatangan. Mas Dion dan mbak Kiran menyambut
mereka, menemani papa.
Mama duduk disudut ruangan ditemani Kayla. Mata mereka
sembab. Sesekali air mata mama menetes.
Annet datang.
Dia menghambur dalam pelukan wanita paruh baya itu. Mereka menangis.
Kayla menggigit bibirnya, menahan tangis.
“ Maafin, Annet, Tante,” bisik Annet, “ Kalau Annet yang
telepon Rhino nggak akan jadi begini.”
“ Bukan salah kamu, Sayang, “ sahut mama.
“ Kalau Annet yang telepon Rhino mungkin Tara nggak akan
nekat,” Annet berkeras.
“ Bukan. Ini bukan salah Annet.”
“ Tapi…”
“ Bukan, Mbak,” potong Kayla, “ Mungkin mbak Tara sudah
punya firasat.”
“ Tapi…”
Kayla menarik lengan Annet. Memaksanya berdiri.
“ Ini. Semua bunga ini yang pesan mbak Tara. Pasti Mbak
Annet tahu bunga kesukaan mbak Tara itu apa. Tapi untuk pernikahannya, hari
yang paling penting buat dia, dia pesan bunga mawar putih. Dan bunga yang lain
pun semua harus putih,” kata Kayla, “ Aku sendiri baru tahu waktu aku diminta
ke toko bunga sama mbak Tara. Dia sudah siapin semuanya, Mbak. Dia sudah tahu.”
“ Jadi waktu itu…” bisik Annet.
“ Ya. Mbak Tara minta diantar kemana-mana. Semua hal-hal
rumit dikerjain sendiri karena ini.”
“ Kalau saja…”
“ Sudahlah, Annet. Jangan merasa bersalah,” Mama mengelus
pipi Annet, “ Bagaimana keluarga Rhino?”
“ Seperti disini, Tante. Semua sudah berkumpul. Sebentar lagi
mereka datang. Jemput Rhino dulu.”
“ Semoga tepat waktu. Tara sudah menunggu ini sejak lama.”
Air mata mama dan Annet meluncur bersamaan. Kayla menggenggam
erat tangan mama.
Ditengah ruangan tubuh Tara dibaringkan. Dia tampak cantik.
Sirene ambulans terdengar. Makin lama makin dekat. Lalu muncul
dari balik pagar.
Mobil iringan jenazah Rhino sudah datang.
Sinan.7145, 26 September 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar