26 September 2012

THE DAY


Seminggu lagi.
Tara kembali mengecek nama di sampul undangan. Setelah yakin tidak ada yang terlewat, tumpukan undangan itu ditaruh dimeja. Lalu dia membaca jurnalnya, mencoret beberapa hal yang sudah dikerjakan. Tinggal sedikit lagi semuanya beres. Tinggal membungkus seserahan, mengambil baju di butik dan pergi ke salon untuk perawatan. Dengan wajah puas dia beranjak ke kursi. Sebelah tangannya meraih ponsel.
BRAAAKK!!!
Tara melonjak. Bingkai jendela menutup tiba-tiba karena hembusan angin.
Dak. Dak. Dak…
Suara benturan jendela memaksa Tara untuk beranjak dari duduknya. Angin basah menyapa wajahnya ketika wajahnya mendekat ke jendela. Lalu dia mendongak. Awan tebal mulai bergulung-gulung, membentuk gumpalan yang lebih pekat.
“ Hujan,” gumam Tara.
Tangannya dengan cepat meraih daun jendela, lalu menutupnya rapat.
Ponselnya berdering. Pesan baru. Dari Annet.
Tara, ujan ni. Bsk aja, ya, ke butik sama salonnya. Sorry…
Dia tersenyum.
OK! Disini juga mulai gerimis
Sebelum pesan terkirim, titik-titik gerimis diluar sudah berubah menjadi hujan lebat. Dalam sekejap halaman, pohon-pohon, rerumputan dan jalanan basah.
Hujan pertama setelah kemarau beberapa waktu. Hujan pertama turun dengan hebatnya. Hujan pertama menjelang hari pernikahannya.
Tara mengintip dari balik jendela. Diluar sana tampak beberapa murid sekolah beradu lari, melawan hujan. Baju mereka kuyup, begitu pun sepatu dan tas sekolahnya. Suara mereka yang disertai derap langkah memecah guyuran hujan.
Senang atau kesal kah mereka, batin Tara.
***
Tiga hari lagi…
Tara bersiap pergi ke butik. Hari ini harus diambil, tekadnya. Tinggal tiga hari lagi menjelang hari H. Setelah ini pun dia masih harus ke salon dan memastikan semuanya beres.
Gedung pernikahan, susunan acara, dekorasi ruang, catering, kue pengantin…
Tara membaca catatan dijurnalnya satu-satu. Matanya semakin terbelalak setelah sadar masih banyak yang terlewatkan. Hanya hal-hal kecil tapi baginya sangat penting.
Ponsel berdering. Telepon dari Rhino. Senyum mengembang dibibir Tara.
“ Halo,” sapanya.
“ Hai, lagi apa? Sibuk nyobain baju, ya?” tanya Rhino.
“ Baru mau diambil. Hujan terus ni, deres lagi,“ sahut Tara.
“ Nggak apa-apa. Mending hujan sekarang dari pada hari H,” hibur Rhino.
“ Tapi, kan, jadi banyak yang pending. Ini masih ke toko bunga ngecek pesanan bunganya kurang apa enggak. Untung ada Annet yang mau bantuin. Coba kamu disini, kan bisa dibagi berdua tugasnya,” Tara menggerutu.
“ Masih, ya, tetep suka merajuk kaya anak kecil.”
“ Tuh! Kamu juga masih suka ngeledekin.”
“ Ha ha… Udah jangan terlalu panik. Nanti malah ada yang kelupaan. Sorry nggak bisa bantuin. Berhubung mau cuti jadi kerjaan harus diberesin dulu. Dua hari lagi aku pulangnya.”
“ Ya, deh,” sahut Tara pasrah.
“ Buket bunganya jadi pilih bunga apa?” tanya Rhino.
“ Ampun! Lupa belum dipesan. Biar Kayla aja, deh, sekalian dia yang ngecek bunga buat dekorasi.”
“ Kenapa kemarin nggak pakai WO aja? Kan kamu nggak repot kaya gini,” sahut Rhino.
“ Mama maunya yang ngurusin semua dari keluarga. Kapok katanya pakai yang begituan. Aku pernah cerita, kan?”
“ Waktu mas Dion nikah?”
“ Iya. Jadi waktu mbak Kiran nikah keluarga besar yang ditunjuk jadi panitianya. Keterusan sampai sekarang.”
“ Ya, udah. Beresin satu-satu tapi jangan panik, ya! Aku terusin kerja lagi,” sahut Rhino.
“ OK! Jangan lupa makan, ya.”
“ Iya. I love You.”
“ I love You to.”
Sambungan diseberang putus. Tara menaruh ponselnya lalu bergegas ke ruang keluarga. Dilihatnya Kayla sibuk membungkus seserahan dengan beberapa sepupunya yang bertugas menjadi panitia.
“ Kay!” panggil Tara.
Kayla mendongak.
“ Tolong ke toko bunga, ya. Cek pesanan bunga buat dekorasi, minta diantar sehari sebelum hari H. Terus sekalian pesan satu buket bunga. Aku lupa belum pesan kemarin.
Kayla beranjak dari duduknya.
“ Buketnya bunga apa?” tanyanya kemudian.
“ Mawar.”
“ Mawar?” sahut Kayla heran, “ Bukannya kamu nggak suka?”
“ Nggak. Aku mau itu,” sahut Tara, “ Warna putih.”
Kayla menatapnya, heran.
“ Buruan!”
Masih dengan keheranan Kayla bergegas pergi.
***
Tara terbangun.
Sayup-sayup didengarnya suara ponsel berdering. Masih setengah sadar dia beranjak ke meja diujung kamar.
Annet menelepon. Tara tertegun sesaat. Sambil melirik jam dinding dia menjawab panggilan.
“ Halo. Jam berapa ini, Net?”
“ Sorry, deh! Cuma mau pastiin aja Rhino udah sampai belum?” tanya Annet diseberang.
“ Hah? Kok malah tanya sama aku?” sahut Tara kebingungan. “ Bukannya kamu udah dirumahnya dari kemarin? Bantuin persiapan disana.”
“ Oh… kirain dia mampir rumah kamu. Kok belum sampai rumah, ya,” nada suara Annet berubah.
“ Nggak kasih kabar dari tadi?”
“ Enggak. Kirain sama kamu. Udah telat banget ni kalau jam segini belum sampai rumah,” suara Annet meninggi.
“ Net! Udah coba hubungi dia belum?” tanya Tara berusaha menenangkan meski pun perasaannya mulai tidak enak.
“ Belum.”
“ Nah. Udah tar aku aja yang telepon, ya! Kali aja dia capek jadi istirahat dulu.”
“ Iya, deh! Jangan lupa kabari aku, ya! See you tomorrow…”
“ Oke. Oke.” balas Tara.
Setelah Annet menutup telepon, Tara mulai mencari nama Rhino dalam daftar kontaknya. Sambil menunggu teleponnya tersambung dia mengedarkan pandangan, menyapu setiap inci kamar yang sudah lama ditempatinya.
“ Halo!”
Tara berjingkat. Suara itu bukan suara yang diharapkannya. Suara seorang wanita yang sangat asing ditelinganya.
“ Halo,” sahutnya ragu.
“ Ini dengan siapa?” tanya orang diseberang.
“ Maaf. Apa benar ini ponselnya Rhino?” ragu-ragu Tara bertanya.
“ Oh! Ibu kenal sama yang punya ponsel ini?”
Tara terdiam. Apa-apaan ini, batinnya.
“ Maksudnya?” tanyanya lanjut.
“ Oh…  Maaf, Bu, saya cuma nolongin aja. Nggak ada maksud apa-apa.”
“ Nolongin gimana?” Tara semakin bingung.
“ Bapak yang punya ponsel ini barusan kecelakaan. Ini baru perjalanan ke rumah sakit.”
“ HAH?!!”
Tara membeku. Sayup-sayup diseberang terdengar sirene ambulans.
“ Bu, ini hampir rumah sakit. Nanti saya kabari lagi kalau urusan sudah beres.”
Suara diseberang sudah tidak terdengar lagi oleh Tara. Dia terduduk lemah dilantai. Tenaganya seperti menguap seketika.
Tangannya gemetaran sewaktu menghapus air mata yang menderas. Dengan sedikit limbung dia berjalan ke tempat tidur. Dengan lemah dia duduk dipinggir kasur. Menatap wajah Rhino yang terbingkai pigura disamping tempat tidurnya.
“ Ini mimpi, kan?” bisiknya.
Perlahan diambilnya foto itu dari meja. Ditatapnya lama. Dan dia tak sadarkan diri.
Angin malam berhembus. Membawa hawa dingin.
Tara membuka mata.
Terkesiap.
Dilihatnya Rhino berdiri diambang pintu. Tersenyum kearahnya.
Tara beranjak dari tempat tidur, menghampiri Rhino.
“ Kamu nggak apa-apa?” tanyanya gusar.
Rhino menggeleng.
“ Tapi tadi ada yang bilang kamu kecelakaan.”
“ Ya. Tapi aku baik-baik saja,” sahut Rhino, “ Aku kesini jemput kamu.”
Tara terbeliak.
Rhino mengulurkan tangan kearahnya. Tara terdiam beberapa saat. Lalu disambutnya tangan Rhino dan digenggamnya erat.
Berdua mereka berjalan kearah jendela. Menatap bulan dari balik tirai. Bayang dedaunan tampak bergerak pelan, tertiup angin.
***
Hari pernikahan…
Tamu-tamu berdatangan. Mas Dion dan mbak Kiran menyambut mereka, menemani papa.
Mama duduk disudut ruangan ditemani Kayla. Mata mereka sembab. Sesekali air mata mama menetes.
Annet datang.
Dia menghambur dalam pelukan wanita paruh baya itu. Mereka menangis. Kayla menggigit bibirnya, menahan tangis.
“ Maafin, Annet, Tante,” bisik Annet, “ Kalau Annet yang telepon Rhino nggak akan jadi begini.”
“ Bukan salah kamu, Sayang, “ sahut mama.
“ Kalau Annet yang telepon Rhino mungkin Tara nggak akan nekat,” Annet berkeras.
“ Bukan. Ini bukan salah Annet.”
“ Tapi…”
“ Bukan, Mbak,” potong Kayla, “ Mungkin mbak Tara sudah punya firasat.”
“ Tapi…”
Kayla menarik lengan Annet. Memaksanya berdiri.
“ Ini. Semua bunga ini yang pesan mbak Tara. Pasti Mbak Annet tahu bunga kesukaan mbak Tara itu apa. Tapi untuk pernikahannya, hari yang paling penting buat dia, dia pesan bunga mawar putih. Dan bunga yang lain pun semua harus putih,” kata Kayla, “ Aku sendiri baru tahu waktu aku diminta ke toko bunga sama mbak Tara. Dia sudah siapin semuanya, Mbak. Dia sudah tahu.”
“ Jadi waktu itu…” bisik Annet.
“ Ya. Mbak Tara minta diantar kemana-mana. Semua hal-hal rumit dikerjain sendiri karena ini.”
“ Kalau saja…”
“ Sudahlah, Annet. Jangan merasa bersalah,” Mama mengelus pipi Annet, “ Bagaimana keluarga Rhino?”
“ Seperti disini, Tante. Semua sudah berkumpul. Sebentar lagi mereka datang. Jemput Rhino dulu.”
“ Semoga tepat waktu. Tara sudah menunggu ini sejak lama.”
Air mata mama dan Annet meluncur bersamaan. Kayla menggenggam erat tangan mama.
Ditengah ruangan tubuh Tara dibaringkan. Dia tampak cantik.
Sirene ambulans terdengar. Makin lama makin dekat. Lalu muncul dari balik pagar.
Mobil iringan jenazah Rhino sudah datang.

Sinan.7145, 26 September 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar