3 Agustus 2013

Catatan Harian : Good News Bad News

03 Agustus 2013

Kabar baik dan kabar buruk itu seperti dua sisi mata uang. Sejajar tapi tidak beradu pandang. Mereka bisa datang di waktu yang hampir bersamaan.

Baru beberapa jam aku merasa senang. Tapi beberapa saat kemudian kabar buruk itu datang. Rasa sakit menjalar di dasar hati. Kenapa kenyataannya seperti ini?

Tuhan. Kenapa selalu seperti ini ujungnya? Kenapa jawaban yang Kau berikan selalu berisi air mata? Satu permintaan itu Tuhan. Kenapa sulit sekali Kau kabulkan? Mungkin kah yang ku minta terlalu berlebihan?

Tuhan. Aku takut jika nanti aku putus asa. Aku takut jika aku merasa Kau mengabaikanku. Aku takut jika nanti aku berjalan kearah yang salah. Aku takut jika nanti aku tidak lagi percaya padaMu. Aku takut jika nanti aku sampai memutuskan untuk menjauhiMu.

Aku ini lemah. Selemah bulu yang tertiup angin. Meski pun aku selalu menampakkan sosok tangguh. Seperti apa pun aku tetap membutuhkanMu, Tuhan. Karena itu lah aku hanya meminta padaMu. Satu hal itu yang sudah lama ku inginkan. Kenapa akhirnya selalu sama? Aku harus kecewa dan terluka. Sejauh apa ujian harus ku jalani? Kapan ujian ini berakhir? Aku mulai merasa lelah.

Tuhan. Rasanya air mataku tak sanggup ku tahan lagi. Rasa kecewa itu hanya mampu ku wujudkan dalam tangis. Kau tahu, Tuhan? Aku merasa bersalah pada orang tuaku. Aku tidak bisa membuat mereka bangga. Selalu saja aku mengecewakan mereka. Tidak bolehkah aku membahagiakan mereka?

Mereka satu-satunya yang ku punya. Mereka sangat berharga bagiku. Meski kadang kami berselisih paham. Tapi seperti apa pun aku ingin membahagiakan mereka. Sedikit pun aku tidak ingin menyakiti mereka. Tolong lah aku, Tuhan. Kabulkan doaku ini. Tolong lah...

Tuhan. Aku harus bicara apa pada ibuku? Aku tidak ingin ibu tahu kekecewaanku. Ibu pasti lebih terluka dari pada aku. Tapi saat ini aku hanya ingin pulang. Aku ingin memeluk ibu dan menangis. Rasanya menyakitkan sekali. Dan menurutku menangis sedikit akan melegakanku meski hanya sesaat.

Tapi aku pun tidak ingin ibu tahu. Pasti aku ditanya kenapa menangis. Aku tidak sanggup bercerita. Aku tidak ingin melihat raut wajahnya yang kecewa. Ibuku sudah terlalu kenyang dengan kesedihan. Aku ingin ibuku tersenyum lega. Dan aku ingin itu karena aku.

Aku mohon, Tuhan. Kabulkan doaku yang selalu aku sebutkan tiap kali usai bersujud padamu. Kabulkan lah segera. Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar