22 Agustus 2013

Catatan Harian : So Sad...

22 Agustus 2013

Kak, akhirnya aku bisa. Meski hanya sebatas 1000 kata. Tapi aku bisa menulis tentangnya. Cukup lama waktu yang ku butuhkan. Bahkan berhari-hari tulisanku terhenti. Karena aku tidak berhasil menemukan kosakata yang tepat.

Dia sangat sulit dicari padanannya, Kak. Padahal jika dilihat dia itu sangat sederhana. Tapi mungkin karena itu dia jadi lebih bersahaja. Lebih berharga.

Bukan berarti Kakak jauh dibawahnya.

Kalian memiliki kelebihan masing-masing. Kakak dengan sisi macho dan dia dengan sisi misteriusnya. Dia bukan jenis orang yang dengan mudah menunjukkan sosok aslinya. Penampakan luar yang sering aku lihat saat dia bersama teman sekelasnya berbeda jauh jika dia bersama Kakak.

Kak. Dulu aku sangat ingin bisa berbicara dengannya. Bukan hanya sekedar mendengar dia bicara. Tapi aku ingin bercakap-cakap langsung dengannya. Tapi dia sangat pelit bicara. Aku nyaris tidak pernah mendengar suaranya.

Tapi kini pun tak jauh berbeda. Hanya melihat saja. Tidak berani mengucap sepatah kata. Kakak, aku benci ini. Saling mengenal tapi saling diam. Aku tidak bermaksud mengacuhkannya sejak dulu. Aku hanya terlalu takut dan malu untuk menyapanya. Dan kali ini aku seperti mati kutu. Ada hal yang membuatku terluka dan itu tentang dia.

Kak. Bisakah Kakak datang? Aku ingin meminjam punggungmu. Seperti dulu. Saat air mataku tidak mampu ku tahan lagi, punggung Kakak lah tempat aku menumpahkannya. Meski pun kadang Kakak memaksa aku segera diam. Kakak tidak suka jika aku menangis dengan alasan apa pun. Tapi Kakak pun tidak pernah menolak jika punggung Kakak aku basahi lagi. Bagiku punggung Kakak lebih nyaman dari pada pelukan yang Kakak berikan. Canggung rasanya jika dipeluk Kakak.

Kak. Pulang lah...

Ijin kan aku bersandar dibahumu. Agar sakit yang ku rasa berkurang sedikit. Karena bersamamu aku bisa menghadapinya dengan tersenyum. Cengeng sekali jika sampai sekarang aku masih menangis saat dia membuatku terluka. Kakak pun tidak menyukai wajahku yang bertabur air mata, kan? Pasti Kakak pun sangat ingin memukulnya, meski dia teman baik Kakak. Tapi biarkan saja, Kak. Aku hanya ingin bahumu kali ini. Bahu yang selalu berada didepanku saat ada yang menggangguku. Aku ingin bersandar disana. Membelakangimu. Karena aku masih tidak yakin dengan ketegaranku. Jika kita saling beradu punggung, mungkin Kakak tidak akan sadar kalau aku menangis.

Kak. Pulang lah...

Aku ingin membagi semuanya. Denganmu lagi....


Tidak ada komentar:

Posting Komentar