19 Maret 2014

WHO AM I?? (Part I)

Ini bukan membahas film yang dibintangi Jackie Chan. Ini tentang aku ...
Ada hal pada diriku yang tak kuselami dengan baik. Sesuatu yang mungkin jarang ada pada diri setiap orang. Dan selama ini kuabaikan.
Aku memang menganggapnya tidak terlalu penting. Karena hal yang 'langka' selalu menarik perhatian. Aku tidak nyaman dengan itu. Maka aku simpan semua rapat-rapat. Bersikap biasa dan semua tampak baik. Wajar.
Orang tuaku pun tidak pernah tahu. Karena mereka tidak berminat bersinggungan dengan hal ini. Lalu untuk apa kuberi tahu?
Tapi kini aku banyak berpikir tentang diriku. Mencoba mengingat dan mencari benang merah dari satu peristiwa dengan peristiwa yang lain. Rasanya seperti mencongkel akar pohon purba. Sudah terlanjur membatu karena terkubur begitu lama.
Sejak kapan itu terjadi? Sejak kapan aku bisa?
Dulu pun aku berpikir itu hanya kebetulan. Tapi tak ada kebetulan yang datang bertubi-tubi.
Menurutku semua terjadi sejak kakek meninggal. Beliau bukan kakek kandungku. Ibuku dulu diasuh kakek dan nenek sejak bayi. Bukan! Ibuku bukan anak pungut. Mereka masih ada pertalian keluarga. Hanya saja ibu dirawat keluarga budenya karena mereka tidak punya anak. Jadilah ibuku anak tunggal.
Lalu bertahun-tahun kemudian, setelah ibuku menikah dengan bapak, kakakku lahir disusul aku dua tahun kemudian. Adikku lahir setelah aku berumur empat.
Kami tumbuh sebagai anak normal (menurutku) hanya saja suhu tubuhku selalu hangat seperti sedang demam. Banyak orang yang kadang terkejut jika kulit mereka bersinggungan denganku. Mereka pasti memekik, mengatakan tubuhku panas sekali. Anehnya aku tidak merasa kepanasan. Termometer pun tidak menunjukkan kejanggalan tiap kali mengukur suhu tubuhku.
Ketika masuk SMP, nenekku sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, aku mengikuti ekstrakurikuler PMR. Waktu sedang belajar menghitung denyut nadi, guruku shock dengan hasil hitungan denyut nadiku. Awalnya beliau berpikir aku salah hitung, tapi waktu diulang hasilnya sama. Dengan dahi berkerut guruku pun meminta temanku bergantian menghitung denyut nadiku. Pergelangan tanganku berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain. Lalu beliau pun turun tangan, memegang pergelangan tanganku dan menghitung. Hasilnya sama. Dan beliau menggelengkan kepala, menatapku keheranan.
Aku menelan ludah. Belum pernah aku mendapat tatapan seperti itu sebelumnya. Rasanya seperti alien yang ketahuan menyamar. Tubuhku mengkerut di sandaran kursi.
Memangnya kenapa kalau denyut nadiku sama dengan laki-laki? Aku merasa sehat. Aku jarang sakit. Meski dulu pernah opname karena aku harus operasi pengangkatan amandel. Tapi sesudahnya tubuhku malah semakin membaik.
Tak lama kakekku meninggal. Aku (paling) kehilangan. Sejak kecil kakek adalah orang yang paling dekat denganku. Entah kenapa aku tidak suka menempel pada ibu. Aku lebih suka bermain, bercerita, belajar dan menggambar dengan kakek. Aku terbiasa jauh dari ibu dan bapakku, tapi tidak dengan kakekku.
Rasanya takut dan kesepian sekali. Melebihi perasaan saat nenekku meninggal. Aku merasa sendirian, tidak punya siapa-siapa padahal orang tua, kakak dan adikku tinggal bersamaku. Berhari-hari aku menangis, meringkuk di kamar kakek, membuka album foto, memandangi wajah kakekku satu-satu. Berbicara, bercerita seolah kakekku duduk bersamaku seperti biasa. Tapi aku mulai berhenti menggambar dan jadi lebih sering membaca, di kamar kakek. Menggantikannya yang dulu biasa mendongeng untukku.
Nilai-nilai mata pelajaranku menurun. Ibu dan bapak memarahiku. Aku linglung. Aku seperti gadis patah hati. Tapi waktu masuk ke kamar kakek aku tidak peduli lagi. Aku merasa ada kakek yang akan mengusap pelan kepalaku. Kakek tidak peduli tentang nilaiku di sekolah. Kakek lebih peduli nilai kehidupan yang tidak mengenal ABC atau 123.
Waktu kelas 3 SMP ibu mewanti-wanti agar aku memperbaiki nilai-nilaiku. Aku frustasi. Yang kubutuhkan bukan tekanan. Aku butuh kakekku. Atau paling tidak seseorang yang bisa menggantikan kakekku. Dan ibuku malah menyuruhku menyembah buku siang malam?
Lalu aku mulai nakal. Aku sering terlambat pulang, sering pergi tanpa pamit, sering bermain jauh, sering ikut berkelahi. Karena aku menemukan orang yang bisa mengerti aku, seperti kakek. Dia temanku meski berbeda kelas. Dia sangat melindungiku, sangat peduli padaku. Mungkin karena kami sama-sama kehilangan orang yang kami sayang. Bapaknya meninggal tak lama setelah kakekku.
Di sekolah aku hampir selalu mengekorinya. Dan jam-jam pelajaran waktu itu sangat menyiksa. Tidak ada yang menepuk bahuku, tidak ada yang mengusap kepalaku, tidak ada yang ... Intinya dia bisa mengobati kerinduanku pada kakek.
Anehnya tidak ada seorang pun yang sadar dengan kedekatan kami. Dan semua berjalan seperti biasa. Sampai tiba waktunya ujian SMP.
Aku benar-benar harus bekerja keras untuk menghasilkan nilai yang bagus di mata orang tuaku. Atau nilai yang memenuhi standar kelulusan. Rasanya jungkir balik. Tekanannya terlalu besar. Aku sempat jatuh sakit.
Kenapa sesulit itu untuk lulus SMP? Orang mati saja tidak seperti ini. Mereka bisa tiba-tiba mati dan ditangisi karena lulus ujian hidup. Sedangkan ujian sekolah? Diberitahu jauh hari sebelumnya kapan tanggal ujian datang. Dan kalau lulus semua tertawa senang. Semua gembira. Tidak ada yang kehilangan. Meski sebelumnya kelimpungan.
Mau tidak mau aku belajar sampai jauh malam. Seperti itu setiap hari. Lalu aku sakit. Tapi aku tidak bilang pada ibuku. Percuma.
Yang diinginkan ibu saat ini hanya nilaiku meningkat pesat. Kantung mataku pun tidak cukup menarik perhatian untuk ditanyakan.
Lalu malam itu. Pertama kali ...
Aku ingat sekali. Hujan mengguyur lumayan deras. Aku sedang mati-matian belajar untuk ujian Ilmu Pengetahuan Sosial (Ekonomi, Geografi dan Sejarah). Dari ketiganya hanya Sejarah yang kukuasai. Sisanya neraka!
Aku tidak tahu berapa jam aku belajar di lantai beralas karpet. Yang jelas aku ketiduran. Sewaktu bangun tubuhku sudah terbalut selimut. Rapi. Aku seperti tidak bergerak sama sekali saat tidur. Siapa yang menyelimutiku?
Aku bertanya pada ibu. Mungkin semalam ibu menyelinap masuk lalu menyelimutiku. Bukan, katanya. Aku bertanya pada kakak. Dia bilang tidak tahu. Bapak pun tidak. Adikku? Jelas tidak mungkin. Dia tidur lebih dulu. Aku coba mengingat-ingat tapi tidak berhasil. Bahkan hafalan pelajaran semalam ikut menghilang. Perutku mulas.
Hari itu aku seperti untung-untungan mengerjakan soal ujian. Disamping aku lupa semua, pikiranku tidak fokus mengerjakan. Kejadian semalam begitu menggangguku.
Aku tidak tahu ini hanya permulaan. Hidupku berubah sejak itu ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar