20 Maret 2014

WHO AM I?? (Part II)

Hal yang diharapkan orang tuaku dan orang tua temanku terkabul. Kami lulus SMP.
Aku tidak peduli berapa nilaiku meski alis orang tuaku berkerut. Tanda mereka kurang puas dengan hasilku. Biar saja.
Perasaanku sedang baik dan aku tidak ingin merusaknya. Sudah lama aku puasa bahagia. Ya. Aku merasa bahagia. Seperti terlepas dari belenggu. Dan aku sudah mantap melanjutkan ke STM. Dengan orang itu. Pengganti kakekku versi muda.
Ibu menolak mentah-mentah kemauanku. Aku perempuan dan harus masuk sekolah perempuan, bukan malah bergabung dengan laki-laki. Bisa jadi preman aku nanti. Seperti itulah singkatnya pidato ibuku.
Sampai kapan ibu seperti ini? Kenapa susah sekali memahami anaknya sendiri?
Aku lebih suka berteman dengan laki-laki. Dengan mereka aku bisa melakukan apa saja. Tidak kebanyakan aturan. Tidak kebanyakan komentar. Tidak kebanyakan membicarakan hal tidak penting!
Tapi akhirnya aku mengalah. Dari pada aku tidak sekolah. Dia pun bilang " Turuti ibu. Kita cuma berpisah sekolah. Nanti kita masih bisa bertemu dan bermain seperti biasa."
Begitulah. Aku didaftarkan ibuku masuk SMTK karena aku tidak mau masuk SMEA. Aku benci ekonomi!
Wajahku kusut sekali waktu pertama kali memasuki sekolah itu. Selain jauh sekali dari rumah dan peradaban, hawanya terlalu panas. Murid-muridnya kebanyakan dari SMP yang belum kenal komputer. Aku melongo melihat mereka bergairah penuh nafsu ketika mata mereka menatap layar monitor yang mati. Apa ibuku melemparku ke jaman batu? Tega sekali.
Awalnya aku kesulitan berbicara dengan teman baruku. Mereka bicara sepertiku, bukan bahasa purba. Lidahku saja yang kaku, mukaku pun beku. Sulit sekali mencari teman di tempat terpencil ini. Meski tidak semua muridnya perempuan. Ada beberapa gelintir laki-laki. Mereka dibagi menjadi 5 kelas. Di kelasku ada 5 orang. Tapi tetap saja kurang menyenangkan. Mereka tidak terlihat ketika berada diantara perempuan.
Padanya aku mengadu tidak betah. Aku ingin satu sekolah saja dengannya. Dia bilang tidak boleh. Aku harus belajar mandiri. Bibirku mengerucut dan aku berbalik, memunggunginya. Dia hanya tersenyum melihatku merajuk. Lalu tangannya mengelus kepalaku. Sebaik ini dia. Dan ibu tidak mengijinkan kami satu sekolah?
Tapi menginjak bulan ke empat angin seperti berubah arah. Semua orang, di sekolah itu, mengenalku. Penyebabnya salah satu temanku (kebetulan laki-laki idola) mendekatiku. Awalnya aku menjaga jarak. Idola bagiku sama saja dengan 'bahaya'. Dekat dengan sosok seperti itu di ladang perempuan tak ubahnya menyodorkan tubuh pada gerombolan macan lapar. Aku pasti akan dikoyak sampai habis. Mungkin tulangku akan dikemah-kemah sampai tipis.
Sayangnya dia bukan tipe mudah menyerah. Dan aku menjelma jadi permaisurinya (menurut murid-murid di sekolahku). Semua bersujud ketika dihadapanku. Tapi mungkin tidak saat di belakang punggungku. Bisa saja mereka menyembunyikan pisau atau pentungan. Mencari kesempatan untuk menyerang.
Apa aku takut?
Tidak. Tidak bisa kupungkiri kalau lama-lama aku senang dekat dengan laki-laki itu. Karena kami sama-sama tidak mengekang dan tidak ada ikatan percintaan. Kami sama-sama ingin bebas dan kami menemukan satu sama lain. Itulah alasan kami bisa dekat. Bagaimana dengan pengganti kakekku?
Tentu saja dia tetap bersamaku. Aku menjalani masa putih abu-abu dengan dua laki-laki. Itu menyenangkan!
Ada untungnya juga ibu menuntunku ke sekolah yang terpencil.
Aku tidak sadar justru di sini aku banyak menemukan kalau aku 'berbeda'.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar