Sekolah terpencil itu terdiri dari beberapa gedung besar bertembok tebal. Sudah rahasia umum kalau sekolah biasanya menempati bekas gedung tempo dulu (peninggalan Belanda) atau dibangun di lahan luas yang punya sejarah horor. Sekolahku pun tak luput dari itu.
Dari cerita turun temurun, entah bagaimana kebenarannya, sekolah tempatku dikebiri ini dulunya lahan kosong yang menyimpan sejarah kelam. Masa lalu yang berdarah-darah, campuran darah kolonial Belanda maupun pribumi. Kalau darah campuran ini berwujud manusia, yang ada di bayanganku adalah sosok blasteran berkulit putih, bermata dan berambut gelap, tinggi badannya sedang, hidung mancung. Kelakuannya santun, agak malu-malu, ramah dan lidahnya selentur pribumi. Aku tidak peduli dia laki-laki atau perempuan. Toh, sejatinya dia tidak ada. Itu hanya gambar rekaanku saja.
Tapi segala sesuatu yang berbau horor dengan mudahnya merasuki pikiran murid-murid di sekolah. Sebagian ingin membuktikan, sebagian ingin menghindar. Aku termasuk yang menghindar.
Bukan berarti aku takut, seperti alasan mereka yang menghindari. Aku tidak nyaman. Karena hal mistik bagiku sama dengan langka. Tidak semua orang bisa bersentuhan dengan kemistikan. Kecuali mereka yang sok-sokan atau kurang kerjaan atau ingin dianggap 'beda'.
Apa asyiknya kalau semua orang tau?
Lebih mendebarkan kalau semua disimpan rapat sendiri. Bukan dipamerkan kesana kemari. Meski dengan dalih mengobati, menetralkan, menyadarkan, apalah itu.
Aku lebih suka menjauh kalau ada murid yang kerasukan.
Oh! Aku belum bilang kalau sekolah ini benar-benar berhantu dan mereka sering merasuki? Kerasukan arwah sepertinya masuk dalam kurikulum di sekolah. Itu sudah seperti jadwal pelajaran. Hanya jadwalnya tidak pasti tapi selalu terjadi.
Awalnya tampak aneh melihat gerombolan orang di kejauhan. Begitu didekati ternyata mereka sedang merubung salah satu murid yang sedang menggelepar kejang, kelojotan, melotot, mendesis, menggeram, kadang memekik.
Aku tidak tahan dengan itu. Selalu saja yang kerasukan melihat kearahku dimana pun aku berdiri. Melotot tajam. Mengherankan memang. Aku tidak termasuk tinggi tapi selalu terlihat dengan mudah. Dan menjauh atau menghindari kerumunan adalah satu-satunya jalan keluar.
Selain itu, peristiwa kerasukan tidak selamanya menarik jika sering terjadi dan pada orang yang sama. Tapi kenapa ada yang suka diperlakukan sebagai medium? Sudah tahu gampang dirasuki, masih suka mengosongkan pikiran. Sudah tahu tempat-tempat yang 'wingit', masih saja sering mendatangi.
Kadang aku gatal sekali ingin menanyakannya. Tapi mulut dan lidahku enggan terbuka.
Sudahlah. Mungkin mereka punya pemikiran sendiri. Meski ujungnya merepotkan orang lain dan dinilai lemah karena terlalu gampang dikuasai makhluk halus. Yang jelas aku hanya ingin tiga tahun ini cepat berlalu. Aku khawatir kelelahan karena tiap hari menempuh jarak lumayan jauh demi satu hal. Menuntut ilmu. Errr ... itu menurut ibuku. Kalau aku mungkin menikmati era kebebasan.
Saking jauhnya jarak yang ditempuh aku justru bisa lebih santai. Pulang terlalu sore tidak menjadi masalah. Apalagi jadwal pelajaran kadang sampai jam kesepuluh. Itu berarti jam tiga sore aku baru keluar dari sekolah. Meski pada prakteknya jarang sekali terjadi. Mana ada guru yang tega atau betah mengajar hingga sore hari. Biasanya mereka memangkas jam pelajaran. Jadi sisanya bisa kugunakan untuk nongkrong di tempat pemberhentian bus. Aku memang tidak langsung pulang. Orang tuaku, terutama ibu, tidak pernah tahu.
Meski begitu aku tidak melakukan hal yang aneh-aneh. Aku hanya duduk-duduk, melihat kendaraan yang lalu lalang, menikmati angin yang mengibarkan rokku, melihat murid-murid lain berlari mengejar bus lalu berebut masuk kedalamnya. Kadang aku mengobrol, dengan murid yang aku kenal baik pastinya. Hanya seperti itu. Aku mungkin anak yang terlalu lurus waktu itu. Berbuat nakal pun tidak sepenuhnya.
Kadang aku bertemu dengan 'pengganti kakek'. Dia menempuh jarak yang lumayan jauh untuk sampai ke sekolahku. Ada kalanya aku yang datang ke sekolahnya, meski tidak akan bertahan lama.
Terlalu sering berinteraksi dengan perempuan membuatku sedikit ketakutan begitu masuk ke hutan pejantan. Dimataku para lelaki mendadak seperti banteng lapar. Aku buruan.
Mereka memang tidak berliur, bermata merah dan mendengus-dengus penuh nafsu. Tapi tetap saja ... Keberadaan makhluk sepertiku yang langka seperti populasi mereka di sekolahku. Dan aku yang suka rela datang meski malu-malu ini akan membangkitkan gairah mereka yang sedang belajar menggeliat.
Aku memang bersamanya, pengganti kakek. Tapi dia tidak akan bisa melindungiku sepenuhnya. Salah satunya dari tatapan mereka yang berusaha menelanjangiku. Tidak mungkin dia menutup mata mereka satu per satu supaya tidak melihatku. Cari mati saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar