27 Maret 2014

WHO AM I?? (Part IV)

Kembali ke sekolahku ...
Aku tidak pernah menyangka bermalam di sekolah tak ubahnya uji nyali massal.
Tidak ada yang kesurupan tapi tetap ada hal yang membuat merinding. Sekolah seperti menebar aura mistis.
Waktu itu kami, aku dan dua temanku, berdempet-dempet berjalan ke aula. Tempat yang paling mengerikan bagiku sejak pertama masuk sekolah. Rasanya susah payah untuk bergerak maju. Seperti ada yang menahan laju langkahku. Apalagi dihimpit dua orang di masing-masing sisiku. Tiba-tiba dari arah dapur sekolah terdengar gemericik air. Kami berhenti. Detik berikutnya kedua temanku berlarian, menjauhi aula. Aku sendirian. Kupalingkan wajahku kearah jendela dapur. Aku tahu di bawah jendela itu ada bak cuci piring. Lalu aku menyusul teman-temanku kembali ke kelas.
Di kelas. Teman-temanku sudah membentuk lingkaran, mendengarkan kejadian barusan. Sesekali mereka menjerit. Kenapa masih mau dengar kalau ketakutan?
Aku mengetuk pintu. Mereka memekik sambil menoleh. Lalu mengomel padaku. Aku tahu sebenarnya mereka lega setengah mati. Karena bukan hantu bak cuci yang berdiri di depan pintu kelas.
Detik berikutnya mereka merubungku. Bertanya apa yang terjadi. Aku bilang tidak ada. Mereka kecewa. Apa mereka suka kalau aku bilang bertemu wanita yang merah menyala?
Ketika malam semakin larut aku kembali berjalan ke aula, mencari matras untuk alas tidur. Kali ini aku bersama tiga temanku yang lain. Saking ngantuknya dan ingin merebahkan badan kami bertekad mengalahkan rasa takut. Memang. Aku takut kali ini.
Di depan gerbang aula kami berempat berhenti. Kami saling pandang, saling berharap salah satu dari kami rela masuk ke aula yang gelap. Tak satu pun dari kami melangkah maju.
" Kalian ngapain disitu?"
" HWAAAAA!!!"
Kami berempat bertubrukan, merepet ke tembok gerbang. Aku tahu, meski dalam gelap, wajah kami pucat pasi. Terlalu kaget, terlalu takut.
Sesosok tubuh menjulang berdiri di mulut gerbang.
Guru kami.
" Kenapa masih keluyuran?"
" Ah ... Ummm ..."
" Ngomong yang jelas."
" Ambil matras, Pak!"
Salah satu temanku menjawab dengan membentak. Aku tahu maksudnya bukan seperti itu. Guru kami membuat kami terkejut dan nyaris kena serangan jantung. Aku pun masih tersengal-sengal waktu bernafas.
" Ya, sudah. Ambil sana. Terus tidur."
" Pak!"
" Ya?"
" Bisa nemenin masuk buat ambil matras?"
" Memangnya kenapa?"
" Gelap, Pak!"
" Takut, Pak!"
" Serem, Pak!"
Semua temanku menjawab dengan versi masing-masing.
" Kamu." Guruku menunjukku, " Masuk. Ambil matrasnya."
" Nggak mau, Pak."
Aku menjawab tanpa berpikir.
" Kenapa?"
" Hawanya beda, Pak. Terlalu dingin. Saya nggak sanggup."
" Kamu ngomong apa? Kalau malam pasti dingin."
" Terserah Bapak bilang apa. Saya tidak mau masuk sendirian."
Empat pasang mata menatapku. Aku takut masuk ke aula tapi aku berani melawan guru?
Aku harus bilang apa? Suasana di dalam aula memang mengerikan. Jangankan malam hari, siang pun suasananya sangat mistis. Aula itu seperti ada dalam dimensi yang berbeda.
" Ya, sudah. Kalian berdua masuk. Ambil matrasnya."
Guru itu tetap memaksaku masuk tapi kali ini dengan salah satu temanku. Kami berdua melempar pandang.
" Bapak?"
" Saya tunggu disini. Cepat ambil. Keburu malam."
Langkah kami tampak kaku. Dadaku rasanya mau meledak. Aku kesusahan bernafas. Udaranya berbeda. Dingin. Sepi ...
Ah! Susah menggambarkannya. Yang jelas udaranya lebih bersih dari udara yang dihirup tiap hari. Tapi saat dihirup terasa ganjil.
Mataku mencoba beradaptasi dalam gelap. Kenapa lampunya harus dipadamkan, sih? Kalau seperti ini kaki kami semakin geragapan menuruni undakan batu.
Pada undakan terbawah kakiku menjejak terlalu keras. Aku mendorong tubuhku ke depan. Menjaga keseimbangan. Nyaris terjungkal dan menubruk temanku yang berjalan di depanku.
" Itu. Matrasnya."
" Ayo, ambil. Terus pergi dari sini."
Kami menarik dua matras besar. Berat. Kami menarik lebih kuat. Masih tak bergeming.
" Kok susah, sih?"
" Nggak tau. Duh ... udah malam banget ini."
" Woi! Kalian bantuin dong. Susah, nih!"
Kedua temanku yang berdiri di gerbang aula saling pandang. Lalu ragu-ragu bergabung dengan kami dalam kepekatan aula.
" Hitungan ketiga tarik bersama-sama."
" Oke!"
" Siap? Tiga!"
BRUUGHHH!!
Kami terjengkang. Beberapa matras ikut terseret dan jatuh menimpa kami yang sudah tumpang tindih. Sambil menjauhkan matras kami berusaha bangun.
" Apa-apaan, sih?"
" Ngitungnya jangan langsung tiga, dong!"
" Kelamaan. Keburu keluar hantunya."
" Hiiiiiii ...!!"
" Jangan nyebut-nyebut hantu. Takuuuuutt ..."
" Kok malah pada ngobrol. Mau tidur di aula."
" NGGAK, PAK!"
" Buruan. Besok pagi telat bangun kalian."
" Susah, Pak. Bantuin kek."
Sebuah tonjokan halus mendarat di bahuku.
" Sama guru kok kaya gitu, sih?"
" Habisnya cuma berdiri kasih komando. Nggak lihat kalau kita sampai jatuh-jatuh kaya gini?"
" Udah. Buruan. Biar cepet keluar dari sini."
" Mau bawa yang mana ini? Banyak yang jatuh."
" Sembarang. Yang penting ambil dua."
Dua temanku menarik dua matras terdekat. Aku mengumpulkan matras yang berserakan di lantai. Mencoba mengembalikan ke tempat semula. Susah juga rupanya kalau menarik dan mengangkat sendirian. Kenapa mereka tidak membantu? Aku menoleh di tempat mereka menarik matras barusan. Tidak ada. Aku menoleh kearah lain.
" Lin, Rin, Hes!"
Sepi.
Suaraku seperti ditelan kegelapan. Aku diam, berusaha tenang. Di kejauhan terdengar suara langkah yang makin lama makin jauh. Denyut jantungku melonjak drastis. Aku sendirian!
Panik. Aku melempar matras yang masih kupegang. Tersandung-sandung aku berlari menaiki undakan batu. Semoga gerbang aula tidak dikunci, doaku.
Aku terus berlari tanpa menoleh. Aku tidak peduli lagi pada matras-matras yang masih berserakan. Aku hanya ingin keluar dari aula secepatnya.
Gerbang aula masih terbuka lebar tapi aku tidak mengurangi kecepatan langkahku. Gerbang itu satu-satunya harapanku. Gerbang itu yang akan membebaskanku dari mimpi burukku.
Ya. Menurutku aku sedang bermimpi buruk, sangat buruk. Meski aku tahu kalau aku sepenuhnya sadar. Aku pun merasakan telapak kakiku yang memanas. Karena kupakai menghantam ubin dan undakan batu.
Akhirnya aku berhasil melewati gerbang aula. Aku mengerang. Antara lega dan tegang.
Di kejauhan bayangan ketiga temanku kepayahan membawa matras. Aku kembali berlari. Kali ini kearah mereka.
Jarak semakin dekat. Aku terus berlari. Makin dekat. Aku masih berlari. Sedikit pun aku tidak mengurangi kecepatan langkahku. Lima meter. Lari. Empat meter. Terus lari. Tiga meter. Mereka menoleh lalu membelalak kaget. Dua. Satu.
BRUGHH!
Tubuhku menghantam ketiganya. Kami tersungkur dengan aku di atas mereka.
" Duh ..."
" Apaan, sih, lari-lari? Aughh ..."
" Aaaaww ..."
Aku berdiri. Mengibaskan tanah yang menempel di celana panjangku. Ketiga temanku menggeliat bangun.
" Kenapa, sih?"
" Kenapa? Kalian kenapa kabur?!"
Suaraku langsung meninggi.
" Kabur?"
" Kita kan jalan sambil bawa matras. Kamu malah yang lari marathon malam-malam."
" Kenapa matras yang jatuh nggak diberesin? Kenapa malah langsung pergi???"
Aku masih memekik-mekik, seperti orang tercekik.
" Biarin aja. Besok juga dipakai."
" Iya. Lagian keburu serem."
" Nanti hantunya nongol."
" Hush! Jangan sebut yang itu!"
" Kenapa aku ditinggal??"
Mereka bertiga diam. Nafasku masih memburu, naik turun.
" Maaf, deh."
" Iya, maaf. Takut banget."
" Untung aku nggak pingsan."
" Kenapa?"
" Kamu lihat apa?"
Ketiga temanku mendadak antusias.
" Lihat kanan, lihat kiri. Gelap. Nggak ada siapa-siapa. Sepi!"
" Kamu nggak lihat ..."
" Nggak ada! Kalau kamu pengen lihat. Sana! Balik ke aula. Dengan senang hati aku kunciin kamu sampai pagi!"
Kekesalanku belum sepenuhnya habis. Sedikit pemicu sanggup meledakkan amarahku.
Kenapa mereka tidak peduli padaku? Kenapa mereka justru penasaran dengan hantu-hantu yang 'kabarnya' menghuni hampir setiap gedung sekolahku?
" Sampai kapan disini?"
Aku bertanya setelah semuanya diam cukup lama.
Mereka bertiga buru-buru mengangkat matras. Aku turut membantu. Kami berjalan beriringan. Tersaruk-saruk antara mengantuk dan kelelahan. Waktu melewati dapur sekolah aku melirik sekilas. Ada bayangan berdiri di ambang jendela. Aku melempar pandang, pura-pura tidak melihat. Ketiga temanku tidak mengubah ritme langkah. Mereka tidak melihat. Baguslah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar