Hal yang paling sulit bermalam di sekolah adalah mencari tempat untuk tidur.
Matras sudah di tangan. Tapi kami kehabisan tempat untuk menggelar gulungan matras yang masih kami bopong. Belasan tubuh teman-temanku yang tidur pulas berbaris rapi. Mirip ikan asin dalam proses penjemuran
" Sini! Sini!"
Di sudut ruangan dua temanku yang paling penakut dari kami berenam rupanya sudah mendapat tempat. Cerdas!
Kami berempat mendekat. Kali ini dengan menyunggi matras. Susah! Selain berat, ngantuk, lelah, kami harus hati-hati melangkah. Jangan sampai menginjak atau malah tersandung tubuh salah satu teman yang sudah bermimpi. Sudah cukup lebam dan debu tercetak di badan. Waktunya menenangkan diri. Masa hibernasi tinggal 3 jam lagi.
" Belum tidur?"
Aku bertanya ketika kami berhasil meraih sudut ruangan. Lumayan luas.
" Euuw!! Pakai koran?"
Kami terkikik. Entah geli atau sekedar formalitas.
Matras terpasang. Kami berebut mengambil posisi. Akhirnya aku dan Rin mendapat posisi di sudut, berhubung tubuh kecil kami pintar menyempil. Kami sepakat tidur dengan posisi beradu kepala tepat di sebelah meja yang ditumpuk rapi. Aku memastikan badan dan kepalaku tidak membentur kaki meja waktu tidur nanti. Setelah cukup nyaman aku merebahkan badan.
Kami berenam tidak langsung tidur. Tapi berbisik-bisik sambil mendengarkan musik dari walkman. Sebentar-sebentar kami cekikikan. Menertawakan kekonyolan kami barusan. Emosiku pun sudah menguap entah kemana. Kami asyik bercerita dan lupa untuk segera tidur. Seru juga ternyata menginap bersama.
Aku mengulum senyum. Belum pernah aku bisa sesenang ini dekat dengan temanku yang perempuan. Apa ini berarti aku sudah menjadi perempuan sebenarnya?
Suara kami pelan-pelan menghilang. Satu per satu mulai tertidur. Lalu tinggal aku dan Rin yang masih terjaga.
" Ngantukku hilang."
" Aku ngantuk. Tapi nggak bisa tidur."
Aku menyahut putus asa.
" Masih berapa jam? Begadang sekalian aja, deh. Nanti bangunin mereka terus kita gantian tidur."
" Hah? Nanti kan ngumpul di aula. Mau tidur dimana? Di sini atau di sana?"
Rin menggeleng. Aku menimbang-nimbang usulnya. Tidur di kelas berdua, di lantai dua. Amankah?
Aku menoleh. Mata Rin terpejam. Aku menyodoknya pelan.
" Rin?"
" Hm."
" Jangan tidur duluan!"
" Aku nggak tidur."
" Melek dong! Kalau merem tau-tau ketiduran."
" Kamu merem juga kalau gitu."
" Katanya mau begadang."
" Oke!"
Rin langsung duduk. Aku masih tiduran di matras.
" Sepi banget."
" Udah pada tidur. Otak kita aja yang bandel nggak mau istirahat."
" Padahal tadi capek banget."
Rin meraih walkman lalu kembali tiduran. Kepala kami nyaris berbenturan.
" Kok diambil, sih?"
" Mereka udah tidur. Kita lebih butuh hiburan."
" Muter yang ini."
Aku menyodorkan kaset grup band kesukaanku.
" Bisa ketiduran kalau dengerin yang ini."
" Masak? Aku bosen denger yang itu-itu dari tadi."
Rin mematikan walkman. Mengeluarkan kaset dan menggantinya dengan kaset yang kusodorkan.
Aku memandang keluar jendela. Di luar gelap. Bayangan daun bergoyang pelan. Pilar bangunan jadi terlihat lebih besar di malam hari. Lalu mataku terpaku.
Dari jendela yang di sebelah pintu aku melihat cahaya berwarna merah bergerak pelan. Aku mengedipkan mata. Barangkali aku terlalu ngantuk sampai berkhayal yang tidak-tidak.
Cahaya itu masih ada. Dia bergerak sepanjang koridor, semakin dekat ke jendela di samping kiriku.
Tanganku bergerak-gerak mencari pundak Rin dengan mata masih menatap cahaya merah itu. Tanganku menyentuh ujung rambut Rin. Lalu aku menariknya.
" Rin."
" Aduh! Sakit!"
Rin menabok tanganku.
" Sttt ... Lihat itu!"
Aku berkata seraya menunjuk ke jendela.
" Apaan?"
Rin mendongak.
" Itu. Apa, ya? Yang warna merah."
" Hah?"
Rin langsung bangun. Matanya pun ikut-ikutan menatap jendela. Lalu menoleh.
" Dimana, sih?"
Aku mengerutkan kening.
" Ituuuuu. Lagi jalan. Jendela ke tiga dari pintu."
Rin memalingkan wajahnya ke jendela.
" Nggak ada apa-apa. Kamu ngantuk mungkin. Udah tidur aja. Nggak usah begadang."
Rin membanting tubuhnya ke matras.
Aku berdiri. Memang ada kok. Sekarang cahaya merah itu tepat di jendela didepanku.
" Rin!"
Aku menyepak asal. Bahunya kena.
" Duh! Apaan, sih?"
Aku tahu dia kesal tapi aku mau membuktikan kalau aku tidak salah lihat.
" Bangun!"
Aku menariknya supaya berdiri. Dengan malas dia berdiri disebelahku.
" Tuh! Dia ada di depan. Jalan arah kiri."
Rin maju sampai mentok ke susunan meja. Lalu mendorong kepalanya mendekati jendela. Tak lama dia mundur dan berbalik melihatku.
" Nggak ada."
Dahiku berkerut. Dia tidak lihat? Jelas-jelas ada cahaya. Warnanya merah pula! Jangan-jangan mata Rin sedikit rabun.
" Tidur. Jangan nakut-nakutin."
Rin kembali ketempatnya. Aku masih berdiri, melihat cahaya yang terus bergerak. Tiba-tiba cahaya itu berbelok ke kiri.
Tidak mungkin! Dia pasti menabrak tembok. Aku melongok sebisaku supaya bisa melihat keluar. Telinga kupasang lebar-lebar. Sunyi.
Tidak terdengar suara orang mengaduh atau bunyi sesuatu terbentur. Aku menegang.
" Rin!"
Aku berjongkok dan menarik tangannya kuat-kuat.
" Apa lagi?!"
Ada nada jengkel dari suaranya.
" Kok cahayanya belok, ya? Keluar, yuk! Lihat."
" Ogah! Kamu nakutin aja. Udah tidur!"
Aku merengut. Tapi aku yakin Rin tidak melihat. Dia sudah kembali ke posisi semula, lalu menutup wajahnya dengan syal.
Aku menjatuhkan pantatku ke matras lalu berbaring. Mataku menatap jendela sekali lagi. Gelap.
Tidak ada apa-apa. Tidak ada. Salah lihat. Terlalu ngantuk.
Batinku berulang-ulang sambil memejamkan mata. Masih tersisa satu jam untuk beristirahat. Aku tidak tahu bisa tidur atau tidak.
Suara musik terdengar lirih. Aku menajamkan telingaku, mencari-cari walkman.
" Masih dengerin musik, Rin?"
" Hm."
" Kok suaranya lain?"
" Nggak tahu. Tadi baik-baik aja, kok. Habis baterai mungkin."
" Kan barusan ganti."
" Jangan-jangan kasetnya ruwet di dalam, nih!"
Rin menyambar walkman di sampingnya. Cepat-cepat dia berusaha mengeluarkan kaset didalamnya.
Kaset itu baik-baik saja.
Tiba-tiba pintu terbuka. Beberapa temanku menggeliat bangun.
" Loh! Siapa itu di pojok?"
Suara An. Dia berdiri sambil memegang handle pintu.
" Aku."
Aku dan Rin menjawab serempak.
" Ngapain sih, An?"
" Udah waktunya bangun, ya?"
" Siapa di pojok?"
An tidak menggubris pertanyaan teman-temanku yang merasa terganggu.
" Kita berdua, An! Aku sama Rin."
Suaraku membangunkan yang lain.
" Ngapain, sih, teriak-teriak? Ganggu orang tidur."
Gumaman, gerutuan mulai bermunculan.
" Yang di atas kalian. Nongkrong di meja. Siapa?"
Aku dan Rin saling pandang lalu serempak mendongak. Tidak ada siapa-siapa.
" Maksudmu apa, An?"
" Oooh ... Nggak. Nggak ada apa-apa."
Setelah menjawab An menarik pintu. Menutupnya dari luar.
" Aneh banget, sih, tu anak!"
Rin menggerutu. Aku diam sediam mataku yang melirik ke meja di atas kepalaku.
" Lagunya masih goyang. Kayak dangdutan gini."
" Matiin, Rin!"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar