21 November 2013

Aku Ini Scorpio IV

Ini kah pesan yang kamu bawa, Kak? Sudah lama Kakak tidak menemuiku. Tapi malam itu, kemudian aku meringkuk di pangkuanmu.
***

Ada Kakak di dekatku. Sangat jelas. Aku bersama Kakak di sebuah ruangan. Sepertinya itu salah satu ruang kelas di sekolah kita dulu. Tapi tanpa meja, kursi dan papan tulis. Hanya ruang kosong dengan petak-petak ubin batu dingin.
Kita hanya berdua. Aku lupa kalau Kakak sudah berbeda dimensi denganku. Perasaanku hanya senang luar biasa. Aku terus menempel padamu. Lalu entah kenapa Kakak mendorongku agar aku menjauh. Tentu saja aku protes. Kakak tidak pernah seperti itu padaku. 
Dari dulu aku selalu mengekor Kakak, bahkan saat Kakak berkelahi. Tapi kenapa sekarang aku tidak boleh mendekat? Aku berkeras untuk sedekat mungkin padamu. Dan kamu pun berulang kali mendorongku. Meski aku sampai menangis saking sedihnya, Kakak tak bergeming. 
Kenapa? Tanyaku di sela tangis. Kakak hanya menatapku. Setelah berulang kali aku mengucapkan kata serupa dengan tangisan melebihi anak kecil, barulah Kakak mau menjawab.
Kamu sudah besar. Jangan menempel seperti dulu. Jangan terlalu dekat padaku. Apa kamu tidak malu terus-terusan seperti itu? Berdiri di situ, jangan lebih dekat lagi.
Kakak, rasanya sakit sekali waktu mendengar ucapanmu itu. Lalu sembari menangis aku bilang kalau aku tidak peduli. Aku ingin selalu dekat denganmu.
Kakak tersenyum. Tapi senyummu itu sangat sedih, Kak. Aku melihat itu dengan jelas. Entah apa penyebabnya, baru kali ini aku melihat senyuman semenyakitkan itu.
Tapi aku tidak peduli akan hal itu. Lalu aku meringkuk di sampingmu. Memaksa tidur berbantalkan kaki (paha) kirimu. Karena Kakak tidak mengijinkanku 'menempel' seperti dulu.
Aku terbangun. Sendirian. Aku berteriak-teriak memanggil Kakak. Bukan Kakak yang datang, adikku. Lalu aku bertanya Kakak pergi kemana. Hanya wajah kebingungan yang aku dapatkan. Aku mulai panik. Kemana Kakak?
Ibu pun tiba-tiba muncul. Ya, Ibuku. Kakak masih ingat, kan? Mereka berdua, adik dan ibuku, berusaha menenangkanku.
Mereka bilang Kakak tidak ada. Bahkan tidak seorang pun yang datang. Justru mereka heran kenapa aku tidur di lantai tanpa alas. Aku berkeras kalau tadi Kakak ada bersamaku. Aku tidak sendirian di kelas. Aku bahkan tidur berbantal Kakak.
Mereka menatapku bingung.
Kakak tidak ada. Kakak sudah pergi, lama. Itu kata adikku.
Kamu di rumah. Kamu dari tadi sendiri. Dia sudah tidak ada di sini. Ibuku pun turut bicara.
Aku tahu mereka panik. Tapi aku lebih panik. Aku tahu. Jauh di dalam diriku, aku berantakan. Rasanya tanpa Kakak duniaku jungkir balik, kacau balau. Seperti kehilangan keseimbangan.
Mataku terbuka untuk kedua kali. Aku benar-benar bangun sekarang. Pipiku basah. Beberapa butir air menetes dari mataku. Aku bermimpi sampai menangis?
Masih belum yakin aku melihat sekeliling. Aku di kamarku. Sendirian. Mereka tidak ada di sini.
Aku menarik nafas dengan berat. Semua, yang barusan terjadi, itu mimpi. Tapi rasanya nyata sekali. Dari air mataku, dari rasa sakit di dasar hatiku. Badanku pun rasanya remuk redam. Seperti habis dilempar kesana kemari. Mungkin kah ruh ku berlarian sewaktu aku tertidur? Mungkin kah yang aku alami barusan nyata? Mungkin kah Kakak benar-benar datang padaku?
***
Aku tertegun. Jelas sekali. Mataku bisa menangkap dengan jelas Messenger yang kamu kirimkan padaku. Siang tadi. Aku barusan menyadari. Ini sudah sore.
Seperti bermimpi. Aku berusaha bangun. Tapi aku memang benar-benar bangun. Ini nyata. Yang ku baca itu pun nyata. Lalu tanpa sadar aku menangis. Entah kenapa rasanya antara senang dan sedih.
Beberapa hari yang lalu aku memimpikan Kakak. Sekarang, kamu tiba-tiba menyapa setelah beberapa minggu menghilang tanpa kabar. Perasaanku sekarang sama dengan waktu itu. Aneh....
Apakah ini maksud Kakak waktu itu? Mungkin kah Kakak percaya padamu? Apakah kamu orangnya? Laki-laki yang selalu muncul dalam mimpiku dengan wajah samar. Laki-laki yang selalu muncul dalam mimpiku di tempat yang sama. Aku tahu tempat itu meski aku belum pernah ke sana.
Apakah kamu yang menyebabkan Kakak melepasku? Mungkin kah kamu yang membuat Kakak mengalah? Senang dan sedih wajah Kakak waktu itu, sama dengan perasaanku. Mungkin kah kamu....

sinan.7145

12 November 2013

Aku Ini Scorpio III

Orang itu muncul lagi. Yah... mau tidak mau harus begitu. Selama masih berada di lingkaran yang sama. Aku pasti bertemu dengannya, di mana pun.
Benci kah aku padanya? Aku rasa tidak. Kalau tidak suka? Ya. Aku tidak suka orang itu.
Kenapa aku tidak menyukainya?
Tidak nyaman rasanya jika dia mulai dekat-dekat padaku. Sewangi apa pun parfum yang dia semprotkan, selalu aroma tembakau yang menyergap hidungku.
Aku tidak suka padanya karena dia perokok?
Bukan. Itu hanya salah satu alasan. Ada hal yang lebih krusial lagi.
Sikapnya. Itu masalahnya.
Entah aku terlalu perasa atau mungkin kelewat percaya diri. Tapi aku sering memergoki matanya terarah padaku. Risih. Menyebalkan.
Sepertinya aku ingin menampar wajahnya keras-keras. Atau mungkin aku colok sekalian dua biji matanya itu. Supaya dia kapok!
Perempuan di hadapannya tidak cuma aku. Tapi kenapa dia sering merecokiku? Mencari-cari alasan untuk bicara padaku. Apa dia pikir aku ini tolol? Hal yang dibuat-buat pasti akan terlihat lebih bodoh saat diucapkan. Dan aku bisa membedakan mana yang perlu, mana yang omong kosong.
Sebisa mungkin aku meminimalisir kesempatan untuk berbicara dengannya. Aku selalu pura-pura sibuk agar terlihat tak punya waktu senggang.
Kadang dengan sengaja aku memunggunginya. Agar aku tidak perlu melihat matanya yang terarah padaku. Lebih baik aku tidak melihat kelakuannya. Meski aku tak henti-henti merutuk dalam hati.
Kalau dia masih nekat juga mengajak bicara, aku tidak akan menatapnya. Sewajar mungkin aku menanggapi dengan mengarahkan mataku pada objek lain. Supaya dia tidak betah.
Aku tidak peduli dia sakit hati atau bahkan membenciku. Aku hanya ingin berada di jarak yang aman dari terkamannya. Paling tidak aku masih punya kesempatan sepersekian detik untuk menghindarinya.
Mungkin kah disangkanya aku ini haus lawan jenis? Lalu dia bersikap memberi perhatian. Berharap aku takluk?
Cih! Meski pun masih single aku bukan jenis pengemis perhatian. Dan tidak semudah itu aku tunduk. Perlu bantuan atau mukjizat untuk membalik pola pikirku. Sekali aku bilang tidak, langka sekali menjadi ya. Seperti sekali aku berucap, pantang bagiku menjilat. Resiko apa pun aku tak peduli.
Apalagi untuk urusan yang satu ini. Lawan jenis. Terlalu njelimet. Jadi tidak semudah itu aku menjatuhkan pilihan. Dan asal tabrak ketika yang bersangkutan sudah dilabeli 'milik....'
Mungkin ada beberapa yang tidak peduli dengan status 'hak milik'. Tapi, untungnya, aku lebih memilih yang 'tak bertuan'. Karena bagiku itu lebih aman. Bisa jadi ini pengaruh dari sisi belas kasih yang ada padaku. Menyakiti jiwa lain demi kepuasan diri itu termasuk kejahatan.
Aku tidak ingin menggunakan 'bisa' untuk menghancurkan orang lain. Senjata itu hanya boleh digunakan ketika sudah sangat genting. Dan untuk kebaikan semua orang. Bukan kepentingan pribadi.

11 November 2013

Aku Ini Scorpio II

Aku takut lo! Mungkin malah ketakutan. Entah kenapa kepalaku selalu penuh tiap kali terbangun. Isinya? Hanya kamu.
Aku takut. Karena kamu terlihat seperti kerlip kunang-kunang. Tampak. Hilang. Tampak. Hilang. Sekuat apa pun aku menajamkan inderaku, wujudmu tidak pernah nyata di hadapanku.
Apa kamu benar-benar datang? Apa kamu memanggilku? Apa kamu mencariku? Apa kamu membutuhkan pertolongan? Aku takut.
Setiap kali terbangun, wajahmu lah yang berenang di kolam otakku. Hanya kamu yang aku ingat setiap aku membuka mata. Tapi itu tidak memperjelas semuanya. Selalu tanda tanya pada akhirnya.
Ada apa ini? Kenapa alam bawah sadarku mengarah padamu? Tapi inderaku tidak bisa merasakanmu. Aku takut jika kamu ternyata menjelma jadi kunang-kunang.
Aku ingin melihat wajahmu, menatap matamu, memegang tanganmu, berbicara denganmu dan berjalan bersamamu. Aku ingin kamu nyata seperti itu. Agar aku bisa menemanimu, mewarnai hidupmu dan meramaikan duniamu.
Aku tidak pernah berharap kamu datang padaku, menari-nari disekitarku dengan bokong kelap-kelip. Aku pasti menangis jika melihatmu seperti itu.
Entah apa yang mengikat aku dan kamu. Tapi tiap kali aku membuat jembatan penghubung selalu ada yang runtuh. Dan aku harus memutar otak, mencari jalan lain. Jalan yang bisa aku pasangi jembatan ketika ada celah besar yang memisahkan sisi jalan yang satu dengan yang lain.
Aku tidak berharap kita bertemu di tengah jembatan itu. Tidak! Sama sekali. Aku khawatir jembatan itu roboh karena tidak sanggup menopang kita berdua.
Tujuanku membuat jembatan itu agar menghantarkan salah satu dari kita. Bisa jadi kamu yang melewati jembatan itu untuk pulang padaku. Atau mungkin aku lah yang menyeberang untuk menemuimu. Kamu paham maksudku?
Bukan di tengah jembatan kita akan berjumpa. Tapi di salah satu sisinya.
Karena itu jangan datang seperti kerlip kunang. Seberangi saja jembatan itu. Tidak perlu sungkan apalagi ragu.
Lebih menyenangkan melihat wujud aslimu. Bukan sekedar gumpalan bayang-bayang tanpa pesan.
Sepeka apa pun aku tidak bisa menerjemahkan itu. Datang lah dengan wujud nyata. Mari bicara. Dengan bahasa kita.

sinan7145

Aku Ini Scorpio I

Pagi ini aku terbangun dengan tubuh menggigil. Entah aku demam atau sekedar kedinginan. Salahku sendiri tidur tanpa selimut. Padahal musim penghujan sudah ditetapkan sejak hari ulang tahunku kemarin.
Eh, sebenarnya aku ketiduran. Jadi bukan salahku sepenuhnya kalau akhirnya aku seperti ini.
Seperti biasa. Selalu punya argumen, hehe...
Aku pun tetap memaksakan diri untuk mandi. Meski rasa dingin masih melekat di tubuhku. Dan guyuran air menambah sensasinya semakin menusuk tulang. Ah... Ngilu sekujur tubuh. Tapi aku tidak berhenti menumpahkan bergayung-gayung air ke badan. Dan itu berlangsung lama. Dasar keras kepala!
Setelah ritual mandi yang menyiksa, tapi aku menikmatinya, dengan tergesa aku menjejalkan barang-barangku ke dalam tas. Sudah jam 7 lebih, aku masih belum apa-apa. Smartphoneku berbunyi. Aku mengerutkan kening. Siapa yang menghubungiku sepagi ini? Dan... di akhir pekan? Aku mengeluarkan smartphone dari dalam tas.
Di layar pemberitahuan muncul satu icon aplikasi socmed yang ku aktifkan. Messenger. Sepagi ini? Dahiku semakin naik. Tapi tak urung aku membukanya juga.
Badanku beku.
Bukan karena kedinginan. Isi messenger itu yang membuatku jadi patung es.
Seorang teman. Memberi kabar mengejutkan. Ah... Bukan! Lebih tepatnya curhat.
Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya. Hanya sesekali berbalas pesan lewat socmed. Biasanya kalau dia sedang ada masalah. Tapi aku pun dengan rela menanggapi. Kadang memberi saran tapi ada kalanya cukup jadi pendengar setia. Maksudku pembaca setia pesan-pesannya. Dan dia pun tidak pernah kapok curhat padaku.
Dari dulu seperti itu. Dan itu beberapa tahun yang lalu.
Siapa temanku itu?
Itu rahasia. Karena aku tidak berhak menuliskan kisah hidupnya tanpa persetujuan dari yang bersangkutan. Aku hanya bercerita tentang diriku di sini. Maafkan dan maklumilah sisi egosentrisku ini.
Tapi meski aku keras kepala dan 'agak' egois, aku masih bisa menangis. Kadang entah kenapa aku cukup sensitif dengan hal yang bersifat haru dan menyentuh. Tahu kan maksudku?
Di awal curhat temanku yang sempat membekukan tubuh itu berakhir dengan balasan yang mengharukan. Setitik air mata berhasil menyelip di kelopak mataku. Ada rasa campur aduk dibenakku. Antara geram dan bahagia. Ya! Siapa saja akan bahagia mendengar hal itu. Padaku sekali pun. Si keras kepala nan angkuh.
Meski sejatinya aku tidak merasakan sendiri. Tapi dari pesan yang ku baca sudah cukup menjelaskan apa yang terjadi. Dan itu sudah cukup memberi kesempatan imajinasiku untuk berkembang liar.
Tapi... ada hal yang ingin aku lakukan.
Hanya satu hal saja. Memeluknya. Andai dia ada di hadapanku.

sinan7145

3 November 2013

Tic Toc SPLASH!!!


Aku mengikuti Gavin masuk ke ‘sarang tikus’nya. Ini pertama kali aku kesana. Kedua mataku serta merta menjelajah ruangan berukuran 4x4 meter dengan seksama. Cukup luas. Tapi dengan tumpukan barang Gavin disana sini membuatnya benar-benar seperti sarang tikus. Sangat pas dengan namanya.
Aku menendang sesuatu. Gavin menoleh.
“ Banyak jebakan. Siaga tiga, ya!” seperti biasa, bercanda.
Lantai ruangan nyaris tak terlihat. Bagiku ini lebih mirip kapal pecah dari pada tempat tinggal. Apa yang Gavin kerjakan disini?
“ Ada lampunya nggak, sih?” tanyaku.
“ Tenang. Bebas hantu.”
“ Bukan soal itu!”
Klik.
Ruangan mendadak terang. Aku memicingkan mata. Gavin sudah berdiri diujung ruangan dengan tangan masih menempel ditombol lampu. Ajaib! Bagaimana dia bisa sampai disana secepat itu?
“ Terlalu terang, ya? Matiin aja, deh!” katanya.
Lalu ruangan kembali gelap.
“ Gavin!”
GUBRAKKK!!!
“ Awww!”
BRUGH!
Saking terburu-burunya aku sampai lupa dengan kondisi ruangan itu. Entah aku tadi menabrak apa. Yang jelas aku terguling jatuh dan lututku sekarang mati rasa.
“ Kamu nggak apa-apa, Sas?”
Gavin menghambur ke arahku setelah menyalakan lampu.
“ Sakit!” protesku.
“ Kan barusan dikasih tahu kalau banyak jebakan,” sahutnya tak bersalah.
“ GAVIIIIIIN…!!!” aku berusaha memukul bahunya. Dia menghindar.
Lututku masih berdenyut. Aku meringis menahan sakit sambil mencari-cari benda yang ku tabrak. Sebuah lemari, mungkin. Tergeletak begitu saja nyaris ditengah ruangan. Apa-apaan temanku yang satu ini? Barang sebesar itu dibiarkan begitu saja. Aku berusaha bangun.
“ Itu lemari pakaian siapa?” tanyaku.
“ Sembarangan lemari pakaian,” gerutu Gavin.
Aku mendekati lemari atau apa pun itu. Memastikan wujud aslinya. Ternyata lebih mirip lemari besi. Tapi yang ini terlalu besar menurutku. Aku menatap Gavin dan benda itu bergantian. Lalu dia mendekat. Seperti tahu arti tatapanku.
“ Ini hasil kerjaku,” katanya bangga.
“ Kamu jadi tukang bikin lemari besi?” tanyaku.
“ Belum selesai ngomong, Sas,” protesnya.
“ Terus?”
“ Mesin waktu.”
“ APA??!”
Gavin berjingkat, “ Biasa aja kenapa?”
“ Nggak pernah kepikiran kalau kamu buat barang seperti ini,” kataku seraya melihat mesin waktu itu lebih lekat.
Di bagian depan ada beberapa tombol warna-warni dan berbagai ukuran. Aku membaca tulisan di tiap tombol. Lalu berputar, mengelilingi benda itu. Semua sisinya terbuat dari besi atau mungkin baja. Aku yakin sekali karena barusan aku menabraknya.
“ Ini bisa dipakai?” tanyaku kemudian.
“ Bisa nyala, sih. Tapi belum pernah dicoba,” jawab Gavin.
“ Kita coba, yuk!” ajakku.
“ Ngawur!”
Aku cemberut, “ Terus buat apa kalau nggak dipakai?”
“ Belum tahu efek sampingnya.”
“ Terus? Mau nggak mau harus diuji coba, kan?”
“ Resikonya gede.”
“ Nggak akan tahu sebelum dicoba.”
“ Ngotot banget, sih, Sas. Ini punyaku lo!” protes Gavin seraya menunjuk mesin waktunya.
“ Vin. Dulu niatmu bikin itu buat apa? Pasti salah satunya biar bisa digunakan, kan? Terus kenapa sekarang, setelah jadi, kamu diamkan begitu aja? Atau kamu sudah tahu kalau buatanmu itu gagal total? Jadi kamu nggak mau mencobanya sedikit pun. Jangan-jangan semua barang disini sebenarnya eksperimen yang gagal,” ocehku.
Aku tahu Gavin mulai tersinggung dengan kata-kataku. Baguslah. Tinggal pasang tatapan menyepelekan pasti egonya terbakar. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku butuh mesin waktunya itu. Sudah tidak ada waktu.
“ Menurutmu aku seceroboh itu?” kata Gavin, “ Aku tahu kamu ingin aku bilang ‘Oke kita coba’ ya, kan? Dari dulu kamu nggak berubah, Sas, selalu ngotot kalau punya keinginan.”
Aku menahan nafas. Ternyata dia bisa menebak rencanaku. Apakah aku sudah gagal?
“ Kenapa kamu tertarik mencoba mesin waktuku ini?” lanjut Gavin.
Aku terdiam. Haruskah aku bercerita? Kasus terakhir aku menceritakan masalahku padanya malah berujung salah paham.
“ Aku ingin jalan-jalan saja,” kataku kemudian.
“ Kemana? Bukannya kamu bisa jalan-jalan tanpa mesin waktu disini.”
Aku menghela nafas, “ Maksudku perjalanan melintasi waktu.”
“ Memangnya mau kemana?”
“ Masa lalu.”
Gavin terdiam.
Lalu lanjutnya, “ Serius? Buat apa?”
“ Kangen aja.”
“ Aku kan masih ada disini. Kamu nggak perlu ke masa lalu kalau sekedar. Duh…”
Aku menonjok bahunya keras-keras.
“ Bukan kamu alasanku ke masa lalu,” kataku sewot.
“ Iya. Iya. Ini kan cuma bercanda.”
“ Terus… gimana nih? Jadi, kan?”
“ Harusnya?”
“ Sekali lagi kamu ngajak bercanda aku kasih pukulan maut,” ancamku sambil mengepalkan tanganku.
“ Jangan galak-galak kenapa, sih? Kamu tuh cewek, Sas?”
“ Emang kenapa?”
“ Lembut sedikit nggak bisa?” sahut Gavin lirih.
“ Kelembutanku bukan buat kamu, Vin,” tolakku.
“ Cuma sama aku ya kamu segahar itu?”
“ Idih! PD banget.”
“ Pantes cowok-cowok takut deketin kamu,” ledeknya.
“ Mulai deh!” kataku kesal, “ Jadi dicoba nggak, nih?”
“ Besok,” sahut Gavin, “ Sekalian aku bersihin dulu tempatnya.”
“ Jam berapa?”
“ Sok sibuk banget pakai tanya jam segala,” omel Gavin.
“ Dari pada aku datang kamu masih asyik ngorok dirumah,” kilahku.
“ Oke. Jam 9.”
“ Sip!” aku mengacungkan jempol, “ Aku pulang, ya!”
Tanpa menunggu balasan Gavin aku bergegas keluar. Kali ini aku harus berhasil. Tidak boleh tidak, batinku. Sudah ada mesin waktu itu. Rencanaku pasti bisa berjalan dengan baik. Aku akan memulainya besok dan tidak akan ada yang tahu. Bahkan Gavin juga tidak. Aku tersenyum.